CORONA JATENG PERINGKAT IV NASIONAL Isolasi Berujung Depresi

SRAGEN—Seorang pasien Covid-19, S, 58, asal Desa Tanon, Kecamatan Tanon, Sragen, dirujuk ke di Ruang Isolasi Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainudin Solo karena mengalami depresi.

Moh. Khodiq Duhri
redaksi@koransolo.co

Kejiwaan lelaki yang bekerja sebagai kuli panggul ikan di Pasar Kobong Semarang itu menjadi labil saat baru sepekan menjalani karantina di kompleks Gedung Technopark Ganesha Sukowati Sragen.
Kasi Pelayanan, Pemerintah Desa (Pemdes) Tanon, Dawam, mengatakan S yang berstatus orang tanpa gejala (OTG) sudah menjalani masa karantina lebih dari sepekan. Bukannya sembuh, S justru mengalami depresi.
Hal itu membuat petugas Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen membawa S ke RSJD dr. Arif Zainudin Solo pekan lalu.
“Sebetulnya Pak S ini tidak punya riwayat penyakit kejiwaan. Namun dia mengalami depresi saat menjalani karantina. Mungkin paparan virus corona itu terlalu membebani pikirannya sehingga ia depresi,” ujar Dawam kepada Koran Solo, Selasa (30/6).
Dawam menjelaskan total ada enam warga Desa Tanon yang terkonfirmasi positif terpapar corona. Mereka semua adalah kuli panggul ikan di Pasar Kobong Semarang yang berstatus OTG. Satu di antaranya yang bernama Samin, sudah dinyatakan sembuh pada Minggu (28/6) lalu.
Saat ini, masih ada empat warga Desa Tanon yang menjalani karantina di kompleks Gedung Technopark Ganesha Sukowati dan satu orang dirawat di RSJD dr. Arif Zainudin Solo.
“Supaya tidak depresi, saya mengantar keluarga dari warga kami yang positif corona itu untuk memberikan dorongan moral dan motivasi. Kehadiran keluarga mereka mudah-mudahan bisa menguatkan mental dia untuk sembuh,” papar Dawam.
Kepala DKK Sragen, dr. Hargiyanto, membenarkan adanya satu warga yang terkonfirmasi positif corona dirawat di RSJD dr. Arif Zainudin Solo. Dia memaklumi warga yang menjalani karantina rentan depresi. Oleh sebab itu, dia meminta saudara, teman, atau keluarganya memberikan dorongan motivasi maupun dukungan moral supaya pasien cepat sembuh.
“Yang sudah sembuh dan dibolehkan pulang, kami minta dia tetap menjalin komunikasi dengan teman yang belum sembuh. Motivasi mereka supaya cepat sembuh. Beri dukungan kepada mereka. Yakinkan mereka bisa sembuh,” terang Hargiyanto.
Sementara itu tren pasien positif Covid-19 di Karanganyar terus bertambah per Selasa sore. Laporan terkini pada pukul 16.00 WIB terdapat tambahan lagi empat pasien yang membuat jumlah pasien dalam perawatan menjadi 10 orang.
Bupati Karanganyar sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karanganyar, Juliyatmono, mengatakan tiga di antara empat orang tersebut merupakan warga Jumapolo dan satu orang lagi merupakan warga Tasikmadu, Karanganyar. “Iya ada tambahan lagi. Jumlahnya ada empat orang,” jelas dia kepada Koran Solo.
Yuli mengatakan, kemungkinan penularan merupakan transmisi lokal yang disebabkan lantaran keempat pasien terbaru tersebut melakukan kontak erat dengan pasien yang dinyatakan positif sebelumnya. Tiga orang di Jumapolo melakukan kontak erat dengan pasien sebelumnya di wilayah yang sama, sementara itu, pasien Tasikmadu tertular karena kontak dengan pasien Covid-19 di Karanganyar Kota.
“Itu semua penyebabnya karena kontak dengan pasien positif sebelumnya. Jadi, mereka itu positif karena berinteraksi dengan pasien positif,” beber dia.
Sebelumnya, pada Selasa pagi, Juliyatmono menjelaskan sejak Sabtu hingga Senin, terdapat tambahan tiga orang pasien dan kasus kesembuhan dua pasien. Penambahan tiga pasien berasal dari Colomadu, Jumapolo, dan Jaten. Sedangkan dua kasus kesembuhan berasal dari warga Jaten dan Colomadu.
Total, berdasarkan data yang diunggah Pemkab Karanganyar, jumlah kasus Covid-19 di Karanganyar sebanyak 45 orang. Dari data tersebut, 10 di antaranya masih dalam perawatan, sembuh 32 orang, dan 3 orang meninggal dunia.
Kurva pandemi Covid-19 di Sukoharjo juga terus bertambah hingga akhir Juni. Kini, jumlah pasien positif menembus 93 orang seiring penambahan dua pasien positif asal wilayah Baki dan Kartasura.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo masih melakukan pelacakan terhadap masyarakat yang pernah kontak erat dengan pasien baru positif corona.
”Ada dua tambahan pasien positif corona sehingga jumlah total pasien positif corona sebanyak 93 orang. Dua pasien positif tambahan ini bukan perantau yang mudik ke Sukoharjo melainkan warga biasa, ” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, Selasa.
Sebelumnya, sebanyak 19 perantau yang pulang kampung ke Sukoharjo terkonfirmasi virus Covid-19. Mereka berasal dari dalam negeri maupun luar negeri seperti Amerika Serikat. Kali terakhir, dua perantau asal Semarang dan Jakarta dinyatakan positif corona. Padahal, kedua pasien positif itu memiliki komorbid atau penyakit penyerta seperti jantung dan paru.
Mereka pulang kampung setelah adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah kota. ”Ada beberapa pasien positif yang terpapar virus corona saat melakukan swab test mandiri,» ujar dia.
Yunia menyebut kurva pandemi Covid-19 di Sukoharjo kembali meningkat seiring penambahan lima pasien positif dalam sepekan. Gugus tugas bakal mengevaluasi penerapan kenormalan baru agar tak terjadi penambahan pasien positif secara signifikan.
Sementara itu, Kepala Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Darmanto, menyatakan pedagang gorengan di Pasar Winong, Kecamatan Mojolaban dinyatakan sembuh setelah dua kali swab test negatif dan tak ada gejala klinis.
Saat ini, pasien positif corona itu masih menjalani isolasi mandiri di rumah. Sehari-hari, pasien itu kerap mengantar istrinya yang berjualan di Pasar Bekonang, Kecamatan Mojolaban.
”Meskipun sembuh sekarang masih isolasi mandiri di rumah. Belum berjualan lagi di pasar,” kata dia.
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengakui secara umum tren kasus positif Covid-19 di Jateng mengalami lonjakan. Beberapa daerah masih tergolong rawan dengan angka reproduksi efektif (Rt) atau potensi persebaran Covid-19 di atas 1.
Risiko Tinggi
Ia mengatakan beberapa daerah dengan Rt masih di atas 1 antara lain Kota Semarang dengan 3,69, Kabupaten Kudus 2,74, Jepara 2,17, Magelang 1,64, Grobogan 1,53, Demak 1,48, Rembang 1,37, Kota Salatiga 1,30, Klaten 1,29, Sukoharjo 1,20, dan Kendal 1,18.
Ganjar mengatakan saat ini risiko tinggi persebaran Covid-19 berada di Kota Semarang, Demak, dan Jepara. Meski demikian, pihaknya tak bisa melepaskan area di Semarang Raya, seperti Semarang, Kendal, Demak, dan Kota Salatiga.
“Maka sekarang kita lagi membantu kawan-kawan bupati dan wali kota. Mereka, pasukan di depan kita minta mengamankan daerah masing-masing,” kata Ganjar saat menggelar dialog dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Selasa.
Ganjar menyebutkan hingga kini jumlah kasus positif Covid-19 di Jateng mencapai 3.996, dengan perincian 1.818 pasien masih dirawat, 1.856 pasien sembuh, dan 322 orang meninggal dunia. Jumlah itu meningkat berdasarkan data yang diunggah Pemprov Jateng melalui website corona.jatengprov.go.id pada Selasa pukul 20.00 WIB. Jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 4.087, dengan perincian 1.694 (41,45%) pasien dirawat, 2.059 (50,38%) pasien sembuh, dan 334 (8,17%) pasien meninggal dunia.
Bila dibandingkan dengan data Senin (29/6), ada penambahan jumlah kasus positif Covid-19 di Jateng sebanyak 236 kasus. Jateng kini menempati peringkat keempat nasional di bawah Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data covid19.go.id, lonjakan kasus positif Covid-19 Jateng terjadi mulai Jumat (26/6) dengan penambahan 178 kasus, kemudian 197 kasus pada Sabtu (27/6), dan penambahan 198 kasus pada Senin.
Persebaran pasien corona di Jateng saat ini di antaranya 281 pasien di Dinkes Kota Semarang, 136 di Dinkes Kabupaten Temanggung, 105 di RSUP dr. Kariadi Semarang, 100 di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang, 78 di Dinkes Kabupaten Demak, dan 68 di RSU Mardi Rahayu Kudus.
Ganjar menjabarkan sejumlah klaster menonjol persebaran Covid-19 di antaranya yakni klaster aparatur sipil negara (ASN) Pemprov Jateng dan Panti Jompo di Rembang.
”Klaster penularan yang menonjol, ASN Pemprov, ini yang sekarang kita isolasi semuanya. Ada [klaster] pegawai PLTU, panti lansia dan Polres di Rembang. [Klaster] tenaga medis dan pegawai PLTU Jepara. Selebihnya yang terus kami ajak bicara adalah klaster Ijtima Gowa,” ujar Ganjar.
Ganjar mengatakan klaster-klaster baru bermunculan setelah dilakukan tracing dan juga masifnya rapid test ataupun polymerase chain reaction (PCR).
Diwawancara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jateng, Yulianto Prabowo, menjelaskan klaster ASN Pemprov Jateng yang dimaksud Ganjar terdiri atas sekitar 30 orang. Seluruhnya, kata Yulianto merupakan orang tanpa gejala (OTG). ”Di dua kantor itu ada sekitar 30-an orang, masih ada yang isolasi, tapi semua tanpa gejala,” jelas Yulianto.
Pada konferensi video dengan kepala daerah se-Jateng di Semarang, Jokowi menyindir kepala daerah yang berani menerapkan aturan kenormalan baru tanpa mempertimbangkan data science dan pendapat para pakar.
Jokowi mengatakan pandemi Covid-19 memang memberikan dampak pada sektor perekonomian. Bahkan, ia memprediksi perekonomian Tanah Air mengalami minus pada kuartal II 2020.
Meski demikian, ia meminta pemerintah daerah tidak gegabah dalam membuka kembali sektor perekomonian, terutama pada bidang industri dan pariwisata. Terutama, jika Rt atau angka reproduksi efektif Covid-19 di daerah itu masih di atas 1.
“Jangan sampai melonggarkan tanpa kendali. Jangan sampai ekonomi bagus, Covid-19 juga naik. Covid-19 harus terkendali, ekonomi juga tidak mengganggu kesejahteraan masyarakat. Memang tidak mudah, semua negara mengalami,” tutur Jokowi.
Jokowi meminta kepala daerah jangan hanya berorientasi pada ekonomi, tapi juga harus mempertimbangkan keselamatan masyarakat. “Pakai data science, juga pendapat pakar. Tadi Pak Gubernur [Ganjar Pranowo] sudah menyebutkan data terkini. Itu dipakai. Jangan sampai masuk new normal, tapi datanya belum memungkinkan,” kata mantan Wali Kota Solo itu. (Imam Yudha/Candra Mantovani/Bony Eko Wicaksono/Detik)