DUGAAN PEMERASAN GURU OLEH WARTAWAN PDM Muhammadiyah Beri Ultimatum 2 x 24 Jam

KARANGANYAR—Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar meminta konfirmasi seseorang yang mengaku sebagai wartawan Telik Sandi atas kasus pemerasan terhadap 11 TK Aisyiyah Colomadu, Karanganyar, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar Selasa (30/6).
PDM Karanganyar melalui LBH Muhammadiyah Karanganyar menginterogasi wartawan Telik Sandi, Suranto (Koko), untuk membandingkan kesaksian dari informasi yang sudah diperoleh sebelumnya. Dalam konfrontasi tersebut, Suranto, mengelak tuduhan memeras guru TK Aisyiyah se-Colomadu.
Bersambung
ke Hal. 2 Kol. 1
Dia mengaku hanya menginvestigasi dugaan kasus penggelembungan data untuk dana bantuan operasional pendidikan (BOP) dari pemerintah pusat.
Namun, PDM Karanganyar menemukan kejanggalan data dari LSM Lembaga Pemantau Transparansi Kebijakan Publik (LP. TKP) yang dijadikan rujukan oleh Suranto.
Pasalnya, data tersebut hanya berbentuk surat tanpa ada legalitas hukum. Oleh karena itu, PDM Karanganyar meminta Suranto menghadirkan LSM tersebut secepatnya untuk pertanggungjawaban.
“Kami sudah menanyai yang bersangkutan terkait data acuan yang ditujukan ke sekolah-sekolah milik Muhammadiyah. Sumber masalahnya ada di data yang digunakan oleh Suranto dari LSM terkait. Datanya itu tidak bisa dibilang data. Hanya bentuk surat saja. Tanpa ada tanda tangan juga. Oleh karena itu, Suranto kami ultimatum dua kali 24 jam segera mendatangkan pemberi data itu kepada kami,” ujar Sekretaris PDM Karanganyar, Sarilan M. Ali kepada Koran Solo, Selasa.
Sarilan menegaskan terus berusaha mencari bukti-bukti yang belum terkumpul. Apabila nanti LBH Muhammadiyah mendapatkan minimal dua bukti pemerasan, pihaknya akan melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum.
“Kami masih mencari bukti-bukti untuk dikumpulkan. Syaratnya kan ada lima unsur bukti untuk ke ranah hukum. Apabila kami menemukan dua bukti dalam prosesnya dan terbukti melakukan pemerasan ya akan kami lanjutkan ke ranah hukum,” imbuh dia.
PDM Muhammadiyah memastikan pihaknya tidak melakukan praktik penggelembungan data siswa seperti dituduhkan oleh LSM dan wartawan tersebut. Sementara itu, Suranto, meminta maaf kepada pers dan Muhammadiyah.