Ekonomi RI Dihantui Pengangguran & Kemiskinan

JAKARTA—Laju perekonomian nasional dihantui pengangguran dan kemiskinan. Apalagi tahun ini diprediksi berada di kisaran -0,4% sampai 1,0% gara-gara corona.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menjelaskan proyeksi laju ekonomi nasional ini bukan skenario yang bagus.
”2020 Sedang berusaha berada di skenario minus 0,4-1% pertumbuhan PDB. Ini bukan skenario yang bagus dan yang membuat kita happy tapi ini skenario yang buat kita bertahan supaya jangan terlalu dalam,” kata Febrio di ruang rapat Banggar DPR, Jakarta, Selasa (30/6).
Proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah kemiskinan sekitar 3,02 juta sampai 5,71 juta orang, begitu juga dengan angka pengangguran yang diprediksi meningkat sekitar 4,03 juta sampai 5,23 juta orang.
”Biasanya kita tumbuh 5% per tahun saat ini jika kita bisa bertahan di 0% itu sudah bagus, tapi itu berarti kemiskinan meningkat, pengangguran meningkat, dengan begitu desain program PEN diharapkan bisa kurangi risiko naiknya kemiskinan dan naiknya pengangguran,” terang Febrio.
Pemulihan
Menurut Febrio, beberapa kebijakan program pemulihan ekonomi nasional masih akan diterapkan pada 2021. Tahun depan juga masih dalam kondisi pemulihan.
”2021 Sudah pasti yang kita lakukan 2020 tidak akan terlalu banyak berubah di 2021, khususnya untuk PEN fokus di UMKM, fokus di masyarakat kelompok bawah itu akan terus berlanjut di 2021,” kata dia.
Sebagai informasi, melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN), pemerintah mengalokasikan anggaran Rp695,2 triliun untuk menanggulangi beberapa sektor prioritas. Anggaran tersebut dialokasikan untuk sektor kesehatan sebesar Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,90 triliun, insentif usaha Rp120,61 triliun, UMKM Rp123,46 triliun, pembiayaan korporasi Rp53,57 triliun, dan sektoral kementerian/lembaga (K/L) serta pemda Rp106,11 triliun. (Detik)