KISRUH UNIBA SOLO Seusai Ikut Demo, Rektor Mundur

SOLO—Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Civitas Akademika Universitas Islam Batik (Uniba) Solo melakukan unjuk rasa di Uniba Solo, Sondakan, Laweyan, Solo, Selasa (30/6).

Wahyu Prakoso
redaksi@koransolo.co

Aliansi menuntut transparansi pengelolaan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Batik Solo. Menariknya, Rektor Uniba, Pramono Hadi, ikut berunjuk rasa. Bahkan seusai berorasi ia menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.
Pantauan Koran Solo, Aliansi Civitas Akademika Uniba yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan karyawan mendatangi kampus untuk berorasi di halaman sejak pukul 08.00 WIB. Para dosen karyawan memakai pakaian putih di barisan depan. Mahasiswa berpakaian hitam membuat barisan di belakang atau sisi timur.
Mahasiswa membuat treatrikal dan membentangkan 10 spanduk bernada protes kepada pengurus yayasan di gedung kampus yang antara lain bertulis Kewajiban mahasiswa sudah dibayarkan lunas tapi haknya terpangkas; Hentikan liberalisasi dan komersialisasi pendidikan oleh yayasan; Civitas Akademika bersatu meruntuhkan kedzaliman.
Ketua BEM periode 2018, Muhammad Arief Oksya, Aliansi meminta Rektor dan para Wakil Rektor Uniba   mundur karena tidak bisa mengelola kampus. Rektorat dianggap tidak berdaya membuat kebijakan karena pengurus yayasan terlalu dominan.
“Kemunduran Rektor supaya semua orang yang tahu, rektorat tidak bisa mengambil  kebijakan. Pembina yayasan seharusnya sebagai pemberi nasihat bukan pengambil keputusan,” katanya kepada wartawan.
Dia menjelaskan, 10 tuntutan kepada pengurus yayasan antara lain transparansi tata kelola kampus, menolak intimidasi dari pengurus yayasan kepada civitas akademika Uniba, dan memberikan keringanan biaya kuliah selama pandemi Covid-19.
Rektor Uniba, Pramono Hadi, turut melakukan orasi. Ia menyatakan mundur sebagai rektor dengan melepas baju sebagai tanda pengunduran diri sebagai Rektor Uniba Solo.
“Terjadi tata kelola kampus yang tidak baik dan rektorat merasa ikut bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Kami hanya bisa mengeluarkan daya usul bukan mengambil daya putus sehingga semua tersentral pada yayasan.  Ini kegagalan. Kalau gagal ya mundur. [Rektor, wakil rektor a, dan wakil rektor b] mundur sebagai  wujud etika akademi,” katanya.
Dia menjelaskan, yayasan memiliki masalah pada tata kelola, kebijakan anggaran yang tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan kebijakan penempatan sumber daya manusia yang tidak sesuai. Ia sudah berkonsultasi kepada senat dan akan melaporkan kepada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) supaya ada reformasi yayasan, tidak ada praktik nepotisme, hak-hak dosen dan karyawan terpenuhi.
Ketua Dewan Pembina  Yayasan Perguruan Tinggi Islam Batik Solo, Solichul Hadi Ahmad Bakri, menjelaskan rektor memiliki hak untuk mengundurkan diri. Ia segera berdiskusi dengan senat dan memastikan jadwal kuliah pada ajaran baru yang telah tersusun segera dilaksanakan.
“Tuduhan sentralistik tidak sepenuhnya benar karena kami memiliki statuta. Tri Darma Perguruan Tinggi silakan [kewenangan] rektor. Kalau upaya penambahan sarana, yayasan memberikan saran,” katanya.
Dia menjelaskan, yayasan berkomitmen membayar semua gaji dosen dan karyawan hingga Desember 2020. Yayasan memberikan saran RAB disesuaikan berdasarkan prioritas kebutuhan kegiatan belajar mengajar pada pandemi Covid-19.
“Kami telah membuat kesepakatan dengan rektorat ada diskon biaya kuliah bagi mahasiswa. Ini tidak menjamin pada massa sulit. Kami telah menyiapkan beasiswa dan seterusnya. Karena kondisi seperti itu menunggu waktu untuk bicara lagi,” paparnya.
Menurut dia, kelembagaan bersifat kolektif kolegial dari pegiat Koperasi Batik yang harus dikelola dengan integritas.  Yayasan Perguruan Tinggi Islam Batik Solo dikelola dengan integritas dan profesionalisme.