Penumpang Wajib Rapid Test, Bus Sepi

JAKARTA–Pengusaha otobus menge­luh­kan penerapan aturan wajib rapid test untuk ke luar kota. Hal ini justru menjadi momok untuk masyarakat yang mau naik bus.
Menurut Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, hingga Selasa (30/6), banyak orang enggan naik bus karena beranggapan untuk naik bus khususnya ke luar kota terlalu banyak aturannya. Akibatnya, banyak orang memilih naik kendaraan pribadi atau mobil sewaan.
”Sekarang itu penumpang takut naik bus, justru yang terjadi masyarakat tetap jalan, tapi bukan pakai bus, pakai kendaraan pribadi atau kendaraan pribadi yang dijadikan angkutan, karena mindset-nya naik bus itu diperiksa harus diperiksa a, b, c, d, e, f kayak yang diatur pemerintah,” ungkap pria yang akrab dipanggil Sani ini, Selasa (30/6).
Seperti diketahui hasil tes negatif virus corona jadi syarat untuk mo­bilisasi orang untuk ke luar kota, salah satunya dengan menunjukkan hasil tes negatif minimal dengan rapid test.
Bukan cuma jadi momok, Sani menjelaskan aturan wajib rapid test ini juga kurang pengawasannya di lapangan. Menurutnya, masih sering orang keluar masuk tanpa dicek petugas. Sani khawatir hal ini bisa berimbas pada perekonomian pengusaha bus.
”Itu cuma menjadi momok buat penumpang, pengawasannya juga enggak jelas. Janganlah aturan jadi momok sehingga masyarakat jadi takut, efek domino masif bisa sebabkan perekonomiannya susah,” ujar Sani.
Sani meminta harusnya pemerintah menyerahkan aturan operasional kepada pengusaha bus. Hal ini dilakukan agar semua kegiatan bisa fleksibel, menurutnya pengusaha pun paham soal protokol kesehatan.
”Sudahlah enggak usah banyak bicara aturan, urus saja kami secara makro, mikro urusan kami. Mikro itu ya operasional sehari-hari, yang fleksibel lah, kan show must go on, ini new normal lo kita juga paham soal protokolnya,” kata Sani.
Dengan maupun tanpa kewajiban rapid test, pihaknya menerapkan protokol kesehatan ketat untuk naik bus, mulai dari wajib menggunakan masker hingga penerapan social distancing di dalam bus. (Detik)