10 Perguruan Silat Segera Dikumpulkan

SRAGEN—Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo, berencana mengumpulkan pengurus 10 perguruan silat di Bumi Sukowati dalam waktu dekat.
Forum tersebut akan membahas rencana pembongkaran lebih dari 206 tugu perguruan silat yang ada di Bumi Sukowati.
Kapolres menegaskan sosialisasi terkait rencana pembongkaran lebih dari 206 tugu perguruan silat itu masih terus dilakukan. Polisi terus mengedepankan upaya persuasif kepada semua anggota pengurus dan anggota perguruan silat yang ada di Sragen.
Dia menilai, penolakan terhadap rencana pembongakaran tugu perguruan silat tersebut adalah hal yang wajar. “Dalam perubahan tatanan masyarakat, kalau ada penolakan itu hal wajar. Di sini diperlukan kedewasaan dalam berpikir. Dalam situasi apapun, kita harus bisa jaga lingkungan tetap kondusif. Jangan sampai ada korban jiwa maupun harta benda,” terang Kapolres saat ditemui wartawan di sela-sela kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Bhayangkara di Mapolres Sragen, Rabu (1/7).
Meski mendapat penolakan keras dari para anggota perguruan silat di tataran akar rumput, Kapolres menegaskan pembongkaran semua tugu tetap dilakukan. Dia mengingatkan hampir sebagian besar tugu perguruan silat itu dibangun di tepi jalan umum yang menjadi fasilitas publik.
Oleh sebab itu, dia berharap perguruan silat itu menyadari masih ada hak orang lain di atas kepentingan mereka yang ingin mempertahankan tugu itu dari pembongkaran. “Tanah tempat berdirinya tugu itu bukan milik segelintir orang. Masih ada hak orang lain di sana. Tanah itu merupakan milik umum sehingga tidak bisa sembarangan berdiri bangunan di sana,” papar Kapolres.
Dalam waktu dekat, Kapolres akan mengumpulkan pengurus 10 perguruan silat di Bumi Sukowati. Tidak hanya perguruan silat yang memiliki anggota dalam jumlah besar, perguruan silat dengan anggota sedikit juga diundang dalam forum itu.
Melalui forum itu, Kapolres akan memberikan pemahaman bahwa pembangunan tugu di fasilitas umum bukan tindakan yang benar.
“Nanti akan kami kumpulkan mereka. Seluruhnya akan kami beri pembinaan. Kita beri pemahaman. Upaya persuasif terus kami lakukan. Mereka harus tahu apa yang mereka lakukan [membangun tugu di tempat umum] itu tidak tepat karena masih ada hak orang lain di sana. Kami minta kedewasaaan mereka untuk berpikir karena kita hidup di tengah masyarakat,” papar Kapolres. (Moh. Khodiq Duhri)