Suami Saya Kok Selingkuh?

Menjadi istri itu tidak mudah. Saya lulusan S2 memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga (IRT). Suami lulusan S1, dia menjadi ASN di kantor pajak. Di awal pernikahan kontrak rumah, orang tua tidak tega melihat saya putri tunggalnya, kemudian membelikan rumah. Suami ke kantor naik sepeda motor, orang tua saya kemudian membelikan mobil untuk dipakai sehari-hari, juga untuk suami ke kantor.
Namun, beberapa bulan lalu saya tahu kalau suami punya teman dekat seorang guru SD, yang pendidikannya S1 saja tidak. Saya heran dengan suami, kok selingkuh dengan guru SD. Rumah dan mobil dari saya, saya S2, kalau mau beli sesuatu saya tidak pernah minta uang kepada suami. Kekurangan saya apa coba?

Ibu Nana, Klaten.

Ibu Nana, mencermati ungkapan dalam tulisan Anda, ada rasa yang ingin disampaikan bahwa secara materiil Anda sangat tercukupi, sehingga tidak perlu meminta uang kepada suami. Dalam ajaran Islam, kehidupan berkeluarga itu perlu ada suatu dinamika sakinah mawaddah warahmah, ada kedamaian/ketentraman, ada cinta kasih, dan kasih sayang. Hal itu itu tidak selalu dengan materi. Tapi bisa ditumbuhkan, dikembangkan dengan adanya rasa saling menyayangi, memperhatikan, bahkan merasa dibutuhkan pasangannya.
Namun Anda tampaknya lebih suka dengan rumah besar dan mobil itu. Suami ke kantor naik sepeda motor hasil keringatnya sendiri, Anda minta untuk memakai mobil. Hal ini dapat menumbuhkan rasa pada suami sebagai orang yang bergantung, atau merasa apa yang dilakukannya tidak dihargai. Apalagi Anda tidak pernah minta uang sehingga suami merasa kurang dibutuhkan Anda.
Mungkin Anda bermaksud baik, tidak ingin merepotkan suami, ingin memberi kemudahan dan kenyamanan di rumah maupun ke kantor, namun kenyataannya bisa berbeda. Pernahkah semua itu (rumah, mobil, dll) sebelumnya Anda komunikasikan dengan suami? Suami padahal ingin dihargai, dibutuhkan, “diorangkan”. Namun itu tidak didapatkan dari Anda sehingga mencari orang lain yang dapat memenuhi itu semua, dan mungkin itu didapatkan pada guru SD tersebut.
Anda perlu introspeksi, lakukan komunikasi efektif yang saling menghargai, menghormati, dan membutuhkan. Materi yang berlimpah dan pendidikan tinggi akan menjadi tidak berarti kalau kita mungkin angkuh dan sombong dengan semua itu. Hargai orang lain (terutama suami) sebelum Anda ingin dihargai orang lain.