Faizal Diserang Bertubi-tubi, Pukulan Toya di Kepala

 

Indah Septiyaning W.

SUKOHARJO—Kasus meninggalnya pesilat remaja asal Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Faizal Adi Rangga, 15, saat latihan silat pada Sabtu (4/7) malam lalu, akhirnya menemui titik terang.
Setelah maraton memeriksa saksi dan mengumpulkan barang bukti, penyidik Polres Sukoharjo segera menetapkan tersangka. ”Sudah kami selesaikan semuanya. Dalam waktu dekat tersangka kami tetapkan,” kata Kasatreskrim Polres Sukoharjo AKP Nanung Nugroho kepada Koran Solo, Kamis (9/7).
Nanung mengungkapkan kemungkinan jumlah tersangka lebih dari lima orang. Mereka berperan hingga mengakibatkan nyawa pesilat remaja asal Trangsan ini meninggal.

Dari keterangan para saksi, Nanung menyampaikan korban meninggal setelah bertubi-tubi menerima serangan saat latihan silat. Namun yang paling parah adalah serangan pukulan toya di bagian kepala hingga korban jatuh tersungkur dan mengenai paving.
”Latihan silat ini semacam uji kekuatan fisik. Jadi korban diserang bergantian. Tapi yang paling parah dari pukulan toya,” kata dia.
Kasatreskrim mengatakan rata-rata pelaku masih di bawah umur. Sehingga penanganan kasus meninggalnya pesilat remaja ini tetap berpedoman terhadap  UU Perlindungan Anak.
Namun yang jelas, Kasatreskrim mengatakan, Pasal 359 KUHP tentang kelalaian hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang terpenuhi.
”Meski masih di bawah umur, tapi tidak akan menghapus hukuman pidana. Karena menyebabkan nyawa orang hilang,” katanya.
Sebagaimana diketahui Faizal Adi Rangga meninggal saat mengikuti latihan silat perdana setelah lama vakum sejak pandemi Covid-19. Faizal merupakan siswa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang bergabung setahun lalu. Faizal kini telah menyandang tingkatan sabuk hijau.
Namun nahas saat latihan silat perdana di halaman SD Negeri 1 Trangsan, Sabtu malam, Faizal meninggal karena pukulan keras di bagian kepala. Pihak keluarga lantas melaporkan kejadian itu ke polisi.
Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Cabang Sukoharjo, Marjono, menyayangkan tragedi meninggalnya siswa PSHT saat latihan silat. Menurutnya, standar operasional prosedur (SOP) latihan silat tersebut dipertanyakan.
Dia tak memungkiri masing-masing perguruan pencak silat memiliki standar pelatihan. Termasuk pelatih dan teknik serangan bagi siswanya. Namun yang terpenting saat latihan tidak asal menyerang, apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. ”Ini menjadi evaluasi kami agar kasus seperti itu tidak terulang lagi,” katanya.