IDI TUNTUT PEMERINTAH LEBIH TEGAS Sekeluarga Dokter Wafat karena Covid

SEMARANG—Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan keselamatan tenaga kesehatan, terutama yang selama ini menangani pandemi Covid-19.
Imam Yudha S.
redaksi@koransolo.co

Hal itu disampaikan Ketua IDI Kota Semarang, dr. Elang Sumambar, menyusul meninggalnya dua dokter muda di Kota Semarang. Dua dokter yang masih memiliki hubungan kakak-adik itu yakni dr. Elianna Widiastuti, 34, dan dr. Sang Aji Widi Aneswara, 31.
“Kami minta pemerintah untuk lebih memperhatikan keselamatan dokter, maupun tenaga medis yang menangani pasien Covid-19. Kalau perlu berikan tes kepada mereka secara rutin dan berkala. Entah itu, rapid test atau swab test,” ujar Elang kepada Koran Solo, Kamis (9/7).
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Dengan pemeriksaan Covid-19 secara rutin itu, diharapkan kondisi kesehatan tenaga medis akan lebih terpantau. Sehingga, saat ada tenaga kesehatan yang menunjukkan gejala atau tanda-tanda terpapar Covid-19 bisa langsung menjalani perawatan.
Selain meminta jaminan keselamatan pada tenaga medis, Elang juga mengimbau pemerintah lebih tegas dalam menerapkan protokol kesehatan kepada masyarakat.
Ia melihat saat ini masyarakat banyak yang masih abai dalam menerapkan protokol pencegahan Covid-19. “Kondisi saat ini hampir sama dengan sebelum masa pandemi. Entah karena masyarakat sudah bosan menghadapi pandemi atau ada ketidakpercayaan, sehingga protokol pencegahan Covid-19 sering diabaikan. Banyak yang berkerumun, tidak menggunakan masker, dan tidak menerapkan pembatasan jarak,” tutur Elang.
Sementara itu, dua dokter muda di Semarang, dr. Elianna dan dr. Sang Aji meninggal secara berurutan. Elianna mengembuskan napas terakhir pada 28 Juni, sementara Sang Aji meninggal 6 Juli kemarin.
Elianna meninggal saat menjalani perawatan di RS Roemani sedangkan Sang Aji meninggal dunia di RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang.
Sebelum keduanya meninggal, sang ayah juga meninggal akibat Covid-19. Elianna selama ini bertugas di Puskesmas Halmaher, sedangkan Sang Aji bertugas di Puskesmas Karanganyar, Kecamatan Tugu. Selain di Puskesmas Karanganyar Tugu, Sang Aji juga tercatat sebagai dokter yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.
Sementara itu, seorang pasien dalam pengawasan (PDP) asal Prambanan, SBH, 39, meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Bethesda Jogja, Selasa (7/7). Selang dua hari, hasil swab PDP berjenis kelamin laki-laki itu dinyatakan positif Covid-19.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, kepastian hasil swab positif Covid-19 itu diketahui Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Kamis. Hal itu setelah memperoleh informasi dari Dinkes Provinsi DIY.
SBH dirawat di RS Bethesda Jogja, sejak 5 Juli. RS setempat mulai mengambil swab SBH, 6 Juli 2020. Sehari berselang, SBH meninggal dunia. Pemakaman mendiang SBH dilakukan dengan memperhatikan protokol pencegahan Covid-19.
”Hari ini, ada laporan bahwa pemeriksaan RT-PCR menunjukkan positif [PDP Prambanan],” kata Jubir PP Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo, kepada Koran Solo, Kamis.
Cahyono mengatakan semasa hidup, SBH bekerja sebagai karyawan swasta. Ia diduga terpapar virus corona karena memiliki riwayat berpindah-pindah kota saat bekerja.
”Pemakaman sudah sesuai protokol pencegahan Covid-19. Upaya tracing juga dilakukan Gusgas PP Covid-19,” katanya.
Sebagaimana diketahui, sebelum adanya penambahan PDP dengan hasil swab positif Covid-19 asal Prambanan itu, jumlah pasien positif Covid-19 di Klaten mencapai tiga orang. Sehingga total pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia telah mencapai empat orang.
”Jumlah pasien positif Covid-19 kumulatif di Klaten mencapai 67 orang. Sebanyak 47 orang sudah sembuh dan 16 orang masih dirawat di RS, empat orang meninggal dunia,” katanya. (Ponco Suseno)