RS Sardjito Sediakan Tes Antibodi DISEBUT LEBIH AKURAT DIBANDING RAPID TEST

SLEMAN—RSUP Dr. Sardjito menyediakan layanan deteksi corona yang diklaim lebih akurat dibandingkan rapid diagnostic test atau RDT yaitu dengan metode ECLIA (Electrochemiluminenscence Immunoassay).

Lajeng Padmaratri
redaksi@koransolo.co

Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan, mengatakan metode ini serupa dengan rapid test karena menguji antigen dan antibodi pada tubuh seseorang berkaitan dengan infeksi Covid-19. Namun, karena menggunakan mesin, metode ECLIA diklaim lebih akurat dari RDT yang menggunakan diagnosa mata.
”Sama-sama ambil darah. Metode rapid itu istilahnya cek kering, yang menganalisa mata. Sementara untuk ECLIA berbeda. Setelah diambil darahnya, cek basah dengan alat, maka mesin yang akan membaca. Makanya akurasinya tinggi,” kata Banu ketika ditemui di RSUP Dr. Sardjito, Rabu (8/7).
Menurutnya, akurasi dari rapid test baru bisa mencapai 50%. Sementara, ECLIA bisa mencapai 80%. Meski begitu, Banu mengakui tes yang paling akurat tentu menggunakan PCR test. ”Utamanya memang PCR. Walaupun hasilnya reaktif lewat ECLIA, masih harus di-PCR. PCR bisa akurat lebih dari 95%,” terangnya.
Selain lebih akurat dibanding RDT, menurut Banu, tarif tes ECLIA jauh lebih murah. Meski begitu, ia belum bisa menyampaikan tarif metode ini untuk perorangan. Namun ia menegaskan semakin banyak orang yang dites, biayanya semakin murah. ”Sistem kerja mesin semakin banyak yang dites maka akan semakin murah. Ketika serum sudah banyak terkumpul, bisa di-running bareng sekaligus,” tutur Banu.
Untuk itu, khusus ECLIA ini, ia menyasar instansi atau perusahaan yang hendak melakukan tes secara kolektif. ”Ini lebih diperuntukkan bagi pemeriksaan kolektif di atas 100 orang. Misal sekolahan mau masuk, maka bisa dites antibodi dengan ini,” katanya.
Meski begitu, di RSUP Dr. Sardjito tetap menyediakan metode rapid test bagi masyarakat yang berniat mengakses layanan ini. Sebab, protokol kesehatan di Indonesia masih mengharuskan hasil rapid test untuk sejumlah kebutuhan, misalnya bagi pelaku perjalanan.
Disinggung soal surat edaran dari Kementerian Kesehatan yang mengatur batasan tarif rapid test maksimal Rp150 ribu, Banu mengungkapkan RSUP Dr. Sardjito akan mengevaluasi tarif RDT di rumah sakitnya. Sebab, sekali rapid test, pasien dipatok tarif Rp512.000.
”Kami baru akan evaluasi tarif karena suratnya baru kemarin kita terima sehingga minggu-minggu ini secara cepat kita akan evaluasi tarif itu,” kata dia. Jika dimungkinkan dan Gugus Tugas Covid-19 DIY sepakat, lanjut Banu, pihaknya akan memilih menggunakan tes antibodi dengan metode ECLIA. (Harian Jogja/JIBI)