Si Gemuk Imut yang Penurut

 

Bayu Jatmiko Adi
BOYOLALI—Di luar sana, sepeda boleh menjadi tren yang digunakan warga sebagai sarana olahraga atau tunggangan untuk berkeliling kampung, menikmati atau pagi hari.
Namun di salah satu desa di Kabupaten Boyolali, ada sebagian warganya yang memiliki tunggangan berbeda, yakni sapi.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Kamis (9/7) sore, di halaman kandang sapi milik Marmin, warga Semaran, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, lima sapi jenis peranakan ongole (PO), tengah mendapat perawatan. Ada yang sedang diberi makan, ada yang sedang disikat bulunya, ada juga yang sedang dimandikan. Hampir semuanya memiliki warna kulit yang sama, putih keabu-abuan. Kecuali satu ekor saja yang memiliki corak kehitaman. Sapi-sapi itu memiliki penampilan yang khas, yakni memiliki gelambir di bagian leher bawah hingga ke bagian perut. Sedangkan di bagian punggung di dekat leher terdapat punuk atau daging yang menonjol.
Selain kelima sapi PO itu, ada sapi Simmental yang berdiri di luar pagar kandang. Sapi-sapi itu tampak santai dan menurut saja saat dituntun bahkan ditunggangi anak-anak. Anak-anak yang ada di lokasi itu pun tampak sudah terbiasa dan tanpa takut. Seperti yang dilakukan Riyan Febriyanto, yang baru berumur 15 tahun.
Bahkan pelajar kelas 2 SMP itu mengaku, menunggang sapi sudah menjadi hobinya. Setiap sore dia mengajak sapinya, si Bagong, untuk jalan-jalan. Seperti yang terlihat sore itu, Riyan terlihat tanpa ragu menaiki Bagong. Dia memanfaatkan tembok pagar kandang sebagai pijakan, kemudian melompat ke punggung sapi warna putih keabu-abuan yang beratnya sekitar 8 kuintal itu.
Berbekal pelecut dan tali yang sudah diikat sedemikian rupa di leher sapi serta pelana yang sudah terpasang di punggung sapi, dengan santai Riyan pun mengendalikan sapinya. Sesekali dia juga beraksi dengan mengendarai sapi sambil berdiri di punggung sapi.
Ke Kota
Ya, tunggangan unik itu adalah sapi PO. Sore itu Riyan bersama warga lainnya, mengajak sapinya berjalan mengelilingi kampung, menuju area persawahan sekitar. Tapi di lain waktu, tak jarang sapi-sapi itu juga diajak berjalan-jalan ke pusat kota. Pemilik sapi lain, Tedi Nugroho, 20, mengatakan setiap Sabtu atau Minggu Sore, dia dan teman-temannya sering menunggangi sapinya menuju alun-alun, simpang lima Boyolali atau ke Pasar Hewan Sunggingan.
Belum lama ini bahkan video yang memperlihatkan aksinya mengendarai sapi itu viral. ”Video itu [dibuat] sekitar dua bulan lalu, sebelum puasa, kami jalan-jalan Sabtu sore. Saat ini kan sedang musim gowes, lalu pada bikin caption, kalau sekarang mau musim sapi sama kuda. Ternyata video sapi kami viral,” kata dia.
Namun di luar viralnya video itu, Tedi menyebutkan jika aksi menunggang sapi sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukannya bersama teman-teman dan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Tujuan dari kegiatan itu salah satunya tak lain untuk hiburan. ”Tujuannya ya hanya untuk jalan-jalan saja menghibur diri selepas pulang merumput, capek, lalu kami buat hiburan sendiri,” kata dia.
Di luar itu dia berharap bisa kembali mempopulerkan sapi PO yang memiliki banyak manfaat. Pada zaman dulu sapi tersebut menjadi andalan untuk menarik pedati sebagai alat transportasi. Dia juga berharap dengan populernya sapi PO akan berpengaruh pada harganya.
Bagi yang tertarik membeli, harga sapi PO berkisar antara Rp30 juta hingga Rp90 juta, tergantung ukuran. Untuk bobotnya bisa mencapai 9,5 kwintal. Sedangkan untuk anakan sekitar Rp15 juta hingga Rp22 juta. Sedangkan untuk bisa ditunggangi, sapi-sapi juga perlu mendapatkan latihan khusus.
”Lama latihan tergantung karakter sapinya. Kalau sudah sangat jinak, mungkin kurang dari sebulan sudah bisa. Kami ternak dan jual beli juga. Sapi yang sudah agak tua kami jual, kemudian kalau ada anakan yang berpotensi jumbo kami latih,” terang dia.