TRAGEDI LATIHAN SILAT GATAK Seorang Tersangka Sempat Kabur

SUKOHARJO—Tragedi latihan silat berujung hilangnya nyawa remaja bernama Faizal Adi Rangga, 15, di Desa Trangsan, Gatak, Sukoharjo akhirnya berakhir ke ranah hukum.

Indah Septiyaning W.
redaksi@koransolo.co

Sembilan anggota yang Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan Pasal 359 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.
Seorang tersangka sempat melarikan diri namun berhasil ditangkap polisi. Kasatreskrim Polres Sukoharjo, AKP Nanung Nugroho mengatakan enam pelaku masih di bawah umur sedangkan tiga pelaku tergolong dewasa.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
”Pagi ini [kemarin] kami telah amankan sembilan pelaku. Mereka langsung kami amankan setelah bukti-bukti dan keterangan saksi berhasil diselesaikan,” kata Nanung kepada Koran Solo, Jumat (10/7) siang.
Nanung mengatakan polisi bergerak menangkap pelaku karena dikhawatirkan melarikan diri. Bahkan satu pelaku sempat kabur namun berhasil diringkus polisi. Dia menduga pelaku melarikan diri karena pihak yang paling bertanggung jawab atas meninggalnya pesilat remaja tersebut. ”Pelaku ini kemungkinan besar yang melukai korban hingga meninggal,” katanya.
Seperti diketahui, Faizal Adi Rangga meninggal saat mengikuti latihan silat perdana setelah libur panjang selama Covid-19, Sabtu (4/7) malam. Faizal menghembuskan napasnya di Puskesmas Gatak dengan kondisi wajah penuh luka dan mengalami pendarahan di mulut.
Autopsi terhadap jasad korban latihan silat telah dilakukan di RSUD dr Moewardi. Hasilnya menunjukkan ada benturan benda tumpul di bagian kepala.  ”Saat autopsi ditemukan bekas benturan benda tumpul,” katanya.
Disinggung apakah terdapat luka di bagian dada atau lainnya, Nanung belum bisa membeberkannya. ”Itu nanti sajalah tunggu rekontruksi. Kita tidak bisa membedakan mana pukulan atau tendangan,” katanya.
Ayah Faizal, Danang Slamet Widodo, 41, berharap agar kasus meninggalnya putra pertamanya ini menemukan titik terang. Termasuk aparat kepolisian berhasil mengamankan pelaku dan menghukumnya sesuai undang-undang yang berlaku.
Sebab, dia mengaku menemukan banyak kejanggalan atas meninggalnya Faizal saat latihan silat pada Sabtu (4/7) malam itu. Apalagi disebut meninggal karena kelelahan sehingga pingsan dan membentur paving.
”Tidak mungkin pingsan saja terus meninggal. Wong banyak luka di wajah dan pendarahan. Karena itu saya langsung melaporkan ke polisi dan lalu diautopsi agar diusut tuntas,” katanya.
Dia pun menyayangkan lambannya informasi yang diterima keluarga saat kejadian malam tersebut. Dia bercerita saat malam kejadian menerima informasi anaknya di Puskesmas Gatak justru dari tetangga dan bukan dari warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Bahkan kondisi anaknya sudah tak bernyawa di Puskesmas Gatak.
”Saya datang itu kondisi semuanya, kuku sudah pucat dan dingin. Artinya sudah meninggal lama dan saya baru terima kabar jam 10.00 malam. Padahal jarak rumah sama tempat latihan dekat sekali,” tuturnya.
Dia pun berharap polisi bisa segera mengamankan pelaku. Meskipun pelaku masih di bawah umur, dia meminta dihukum sesuai undang-undang yang berlaku. Dia juga meminta agar latihan silat mengedepankan aspek keselamatan. ”Jangan ada korban lagi seperti anak saya,” harapnya.
Sementara Ketua PHST Ranting Gatak, Danu Ardianto kepada Koran Solo sebelumnya menyampaikan akan mengevaluasi latihan silat terkait insiden meninggalnya seorang siswa asal Trangsan, Gatak tersebut.
”Kami akan lakukan evaluasi misalnya sebelum mulai latihan memastikan kondisi siswa masing-masing. Kami minta siswa jujur kalau kondisinya sakit atau bagaimana. Sehingga tidak ada kasus seperti itu lagi,” katanya.
Sekretaris Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Cabang Sukoharjo, Marjono, menyayangkan tragedi meninggalnya siswa PSHT saat latihan silat. Menurutnya, standard operational procedure (SOP) latihan silat tersebut dipertanyakan.
Dia tak memungkiri masing-masing perguruan pencak silat memiliki standar pelatihan. Termasuk pelatih dan teknik serangan bagi siswanya. Namun yang terpenting saat latihan tidak asal menyerang, apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. ”Ini menjadi evaluasi kami agar kasus seperti itu tidak terulang lagi,” katanya.