Ustaz Positif Covid, 6 Santri Terinfeksi

M. Aris Munandar

WONOGIRI—Seorang pengasuh pondok pesantren di Wonogiri yang beberapa hari lalu positif Covid-19 seusai bepergian dari Kudus menjadi klaster baru persebaran virus tersebut di Wonogiri. Enam santrinya terinfeksi corona.
Sementara di Solo, sepasang suami-istri terkonfirmasi positif Covid setelah pulang dari Surabaya. Pengasuh ponpes di Wonogiri yang menulari enam santrinya berinisial Z, 50. Pimpinan sebuah pondok pesantren di Kecamatan Jatisrono itu dinyatakan positif 5 Juli lalu.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wonogiri, Joko Sutopo (Jekek), mengatakan enam pasien tersebut diketahui terjangkit Covid-19 setelah gugus tugas melakukan tracing. ”Semua yang berkontak erat dan sedang dengan Z dilakukan rapid test. Kemudian yang reaktif langsung di-swab. Hasilnya enam orang terjangkit,” kata dia kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (10/7).
Enam orang yang dinyatakan positif, menurut dia, merupakan orang yang berkontak erat dengan Z. Kini enam santri itu diisolasi di dalam pondok pesantren tersebut. Hal itu merupakan kesepakatan antara Gugus Tugas dengan pasien yang terpapar. Enam pasien hingga saat ini belum merasakan gejala sakit.
Jekek menegaskan, kasus semacam itu baru kali pertama terjadi. Maka hal ini menjadi perhatian khusus. Penanganan dan pengawasan lebih diperketat. Sebagai bentuk antisipsi, lanjut dia, orang yang pernah berkontak dengan Z langsung dites swab, tidak hanya rapid test. ”Kami berharap masyarakat lebih meningkatkan protokol kesehatan di setiap menjalankan aktivitas,” tegas Jekek.
Tak hanya itu, tiga klinik kesehatan yang digunakan untuk periksa Z, ditutup sementara. Sebelum dinyatakan positif Covid-19, Z sempat dirawat di sebuah klinik kesehatan. ”Bahkan menurut informasi, pasien Z berperiksa ke tiga dokter yang membuka praktik,” ujar dia.
Z mengasuh santri cukup banyak. Mobilitasnya juga cukup tinggi. Menurut Jekek, Gugus Tugas tidak mungkin menelusuri satu per satu orang yang pernah berkontak dengan Z. Semua orang yang berkontak dengan Z dalam kurun waktu 10 hari yang lalu diminta memerikasakan diri ke puskesmas terdekat.
Sementara itu, delapan hari tanpa kasus baru, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo kembali mencatat tambahan dua pasien terkonfirmasi positif, Jumat. Keduanya adalah sepasang suami istri asal Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres. Mereka sebelumnya berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirawat di salah satu rumah sakit (RS) swasta sejak Senin (6/7).
Anak Dikarantina
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan saat ini seluruh kontak erat dan dekat kedua pasien yang berjumlah empat orang sudah diminta menjalani karantina mandiri. Termasuk, anak mereka yang ternyata juga memiliki riwayat perjalanan yang sama.
“Kondisi klinis kesehatan keduanya baik meski menjalani rawat inap, ya. Umur istrinya 49 tahun dan suaminya 54 tahun,” jelasnya, saat dihubungi, Jumat.
Siti mengatakan dengan tambahan dua kasus baru itu, data kumulatif pasien positif Corona di Solo menjadi 45 orang. Perinciannya, empat dirawat inap, empat meninggal dunia, dan 37 sembuh. Tambahan satu pasien sembuh baru pada Jumat adalah seorang warga Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan.
“Pasien sembuh baru ini bukan kasus induk, dia tertular dari saudaranya, malah sembuh lebih dulu. Riwayat perjalanan dari Semarang,” bebernya.
Perincian empat orang yang dirawat inap tersebut adalah dua warga Kelurahan Mojosongo, seorang lansia asal Kelurahan Purwosari, dan seorang warga Kelurahan Jajar.
Kabar duka kembali menyelimuti dunia kedokteran di Kota Semarang. Setelah dua dokter kakak beradik meninggal, kemarin seorang dokter yang juga menangani Covid-19, dr. Ahmadi Nur Huda, 57, meninggal setelah terinfeksi penyakit tersebut.
Dokter yang tercatat bertugas sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Kota Semarang itu menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wongsonegoro, Jumat.
Kabar duka meninggalnya dr. Ahmadi itu disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, dr. Elang Sumambar. ”Iya, benar. Meninggal tadi pagi sekitar pukul 06.45 WIB,” ujar Elang saat dihubungi, Jumat.
Elang mengatakan Ahmadi meninggal dengan status positif Covid-19. Meski demikian, almarhum juga memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas sakit gula. Dengan meninggalnya dr. Ahmadi, maka hingga saat ini sudah ada tiga dokter di Kota Semarang yang meninggal akibat terpapar virus corona.
Sebelumnya, dua dokter yang meninggal adalah dr. Sang Aji Widi Aneswara, dan dr. Elianna Widiastuti. (Imam Yuda S./Mariyana Ricky P.D./Rudi Hartono)