Desa Wisata Puri Mataram Beroperasi Penuh

SLEMAN—Desa Wisata Puri Mataram, Drono, Tridadi, Sleman mulai beroperasi penuh mulai Sabtu (11/7). Destinasi wisata ini dibuka kembali oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar dengan penerapan protokol kesehatan.
Ketua BUMDes Tridadi Makmur, Agus Choliq, mengatakan destinasi tersebut mulai dibuka kembali bagi khalayak setelah ditutup sejak pandemi Covid-19. Pembukaan destinasi wisata ini sesuai protokol kesehatan. Setiap tamu yang berkunjung diperiksa suhu tubuh dan wajib memakai masker. ”Kami menyediakan westafel di beberapa titik untuk fasilitas cuci tangan para pengunjung,” katanya kepada Harian Jogja, Sabtu (11/7).
Untuk tahap awal ini, pihaknya membatasi jumlah pengunjung agar bisa menerapkan social distancing. Jika pada hari normal destinasi wisata ini dikunjungi sekitar 2.500 orang, maka pada masa new normal hanya menerima sekitar 1.000 orang. ”Luas Puri Mataram 4,5 hektare. Sangat luas untuk pengunjung menjaga jarak. Jika pengunjung banyak, akan ada petugas yang membatasi jumlah kunjungan di setiap wahana,” katanya.
Dari beragam wahana yang memadukan unsur alam dan budaya, kata Choliq, ada satu wahana baru yang ditawarkan yaitu wahana Taman Bunga Sampah. Bunga-bunga di taman ini memadukan tanaman bunga amarilis dengan botol bekas air mineral. ”Saya kira di Indonesia belum ada konsep ini. Kafe kami juga kami sediakan fasilitas untuk bakar-bakar bagi pengunjung. Ini juga konsep baru yang ditawarkan,” katanya.
Selama ditutup, kata Choliq, kerugian mencapai Rp2 miliar. Selain itu, 80% karyawan juga dirumahkan. Dia berharap dengan new normal ini, karyawan bisa kembali bekerja semua dan tidak selang-seling lagi. Selama pandemi pihaknya mencoba bertahan dengan tetap membuka kafe untuk menutup biaya operasional.
”Waktu libur Lebaran pada 2019, kami bisa mencapai Rp1 miliar tapi libur Lebaran kemarin hanya dapat Rp13 juta. Begitu besar dampak Covid-19 bagi pelaku wisata,” kata Choliq.
Sekretaris Desa, Tridadi Johan Enry, mengatakan pembukaan BUMDes tersebut diharapkan mampu menggerakkan kembali ekonomi masyarakat sekitar. Apalagi hampir semua karyawan di BUMDes merupakan warga Tridadi. ”Selama ini hampir 80 persen karyawan yang di- off-kan menyebabkan mereka kehilangan mata pencarian. Dengan kembali beroperasi, maka beban Pemdes juga berkurang,” katanya.
Johan mengatakan keberadaan BUMDes tersebut selama ini sangat membantu pendapatan bagi Desa. Sejak beroperasi pada 2018 lalu, omzet BUMDes ini terus meningkat. Rata-rata per bulan omzetnya Rp500 juta. Tahun 2018 BUMDes ini beromzet Rp1,9 miliar dan 2019 lalu sekitar naik Rp 4,5 miliar. ”Naiknya hampir dua kali lipat terus kenaikannya. Kontribusi untuk desa sangat besar, selain PAD juga ikut mengentaskan pengangguran,” kata Johan.
Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menilai pembukaan kembali destinasi wisata desa di masa normal baru akan kembali membawa geliat ekonomi di desa. Termasuk desa wisata Puri Mataram. Baginya, tidak ada pilihan dalam menghadapi pandemi Covid-19 kecuali hidup berdampingan dengan Covid-19.
Kemendes PDTT, katanya, mengeluarkan regulasi terkait tatanan normal baru yang harus dilakukan pemerintah desa. Termasuk desa wisata yang selama ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. ”Jadi, memang tidak ada pilihan selain kehidupan normal baru dengan memperhatikan protokol kesehatan agar masyarakat kembali beraktivitas,” katanya. (JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamid Razak)