KLASTER BAKUL TAHU KUPAT Pelanggan dan Tukang Becak Ikut Terpapar

Mariyana Ricky P.D.

SOLO—Sembilan orang kontak erat dengan penjual tahu kupat yang berjualan di timur Rumah Sakit Kasih Ibu (RSKI) terkonfirmasi positif Covid-19, Selasa (14/7). Mereka berasal dari Solo dan sekitarnya.
Kasus tersebut otomatis menjadi klaster baru di Kota Bengawan. Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, pedagang tersebut memiliki warung yang berimpitan dengan pagar sebelah Timur RSKI. Ia memang ber-KTP Purwosari namun sejak empat tahun terakhir sudah berpindah domisili ke Sukoharjo.
Dari sembilan kontak yang terkonfirmasi positif, dua di antaranya adalah warga Solo sehingga dicatat dalam data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo. Sisanya, berasal dari kabupaten sekitar seperti Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, dan Boyolali.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Mereka berasal dari berbagai kalangan, yakni keluarga, pelanggan, pedagang sekitar, karyawan RSKI hingga pengemudi becak yang kerap nongkrong di lokasi itu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) domisili. Mereka diminta menjalani rawat inap di rumah sakit guna memutus rantai persebaran virus SARS CoV-2.
“Sembilan positif ini berasal dari 48 spesimen yang diambil pada Sabtu dan Minggu (11-12/7). Hasil pengembangan, kami mengambil uji swab 12 orang lagi sehingga totalnya 60. Tapi hasilnya belum keluar,” jelasnya kepada wartawan, Selasa.
Dari sembilan orang yang sudah terkonfirmasi positif, pihaknya bakal meneruskan pelacakan. Sehingga, bisa jadi jumlah spesimen yang diuji akan bertambah. Koordinasi dengan daerah lain terus dilakukan mengingat pasien berasal dari lintas daerah.
Minimal Sepekan
Selter lokasi pedagang masih ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan. Namun, pihaknya menyarankan minimal sepekan hingga 10 hari.
Pihaknya meminta RSKI untuk melacak lebih lanjut guna memutus risiko penularan mengingat ada karyawan mereka yang terkonfirmasi positif. “Pengemudi becak berasal dari Kecamatan Kalijambe, Sragen. Kami koordinasi dengan DKK Sragen, kemudian dengan DKK Boyolali karena ada pelanggan yang positif berasal dari sana. Entah dia pelanggan atau dari mana, tapi dia diambil swab-nya saat tracing kemarin,” ucap Siti.
Ia menyebut spesimen yang diambil kali ini lebih besar dibandingkan klaster-klaster sebelumnya. Jumlah yang terkonfirmasi positif pun juga lebih banyak. Dari 48 spesimen, sembilan di antaranya positif.
Salah satu klaster lokal yang cukup besar adalah Joyotakan yang mencatatkan enam pasien, di mana dua di antaranya dari kalangan balita. “Kemungkinan dari 12 spesimen baru yang diambil ada yang positif lagi,” bebernya.
Selain terdapat penambahan dua kasus pada Klaster Bakul Tahu Kupat, pihaknya mencatat tambahan dari tenaga kesehatan (nakes) yang juga mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo sebanyak empat orang. Keempatnya masih menjadi bagian dari 25 nakes yang terkonfirmasi positif Covid-19, pada Sabtu (11/7).
Pasien Balita
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan tambahan tersebut muncul setelah finalisasi data dilakukan. “Sebelumnya tidak diketahui domisilinya, kemudian setelah pendataan baru muncul kalau mereka domisili di Solo. Jadi, dari 25 nakes PPDS positif yang bertugas di RSUD dr. Moewardi (RSDM), 19 di antaranya berdomisili di Solo,” jelasnya, dihubungi terpisah.
Tambahan kasus lain, terjadi pada anak di bawah usia lima tahun (balita). Seorang balita berumur dua tahun asal Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan. Dia sebelumnya berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang naik status. Kedua orangtuanya ikut diuji swab guna mendeteksi asal penularan. “Ditambah dengan data Senin, pasien balita di Solo menjadi dua orang,” jelas dia.
Ahyani mengurai tambahan kasus pada Selasa berjumlah tujuh orang, dua orang dari Kluster Pedagang Tahu Kupat, empat orang dari Kluster RSDM, dan seorang lagi balita yang sebelumnya PDP. Domisilinya, masing-masing dua orang dari Kelurahan Jebres dan Purwosari, serta masing-masing seorang dari Kelurahan Karangasem, Tipes, dan Sondakan.
Kumulatif menjadi 71 orang, perinciannya, 28 dirawat inap, 38 pasien sembuh, dan lima meninggal dunia.
Menyusulnya adanya bakul tahu kupat yang dinyatakan positif Covid-19, para pedagang yang berada di sekitarnya diminta tutup sementara atau tidak beroperasi.
Sedangkan untuk toko-toko yang berada di pinggir Jl. Slamet Riyadi Solo diperbolehkan tetap berjualan dengan syarat menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
“Saya kasih pengumuman sampai ada keputusan berikutnya agar kios-kios itu untuk sementara waktu libur. Mereka yang di sepanjang jalan timur RS Kasih Ibu mulai dari selatan ke utara. Jumlahnya 18 atau 28 orang,” kata Lurah Purwosari, Suharti, Selasa (14/7).
Berdasarkan pantauan Suharti bersama petugas Babinkamtibmas dan Babinsa pada Senin (13/7) sudah ada beberapa warung yang tutup. Diharapkan seluruh pemilih warung yang sudah disosialisasi agar menaati imbauan pemerintah.
“Untuk toko-toko besar yang di pinggir Jl. Slamet Riyadi saya sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Solo, mereka tidak tutup ndak apa-apa. Tapi harus disosialisasikan agar menaati protokol kesehatan,” tutur dia.
Pada Senin pagi hingga siang Suharti pun sudah menemui pemilik dan pengelola toko-toko itu seperti Indomart, Rodalink, Sasami, Harpindo, dan toko lainnya. Dari kegiatan itu diketahui beberapa toko tak menyediakan ember.
Padahal keberadaan ember, air dan sabun merupakan salah satu standar protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19. Namun setelah diberikan sosialisasi para pengelola toko siap untuk menyediakan ember dan sabun.
“Semula pengelola beralasan sudah menyediakan hand sanitizer sehingga tak menyediakan ember cuci tangan. Akhirnya saya bilang akan saya bawakan esok harinya. Tapi akhirnya ditolak dan mereka siap menyediakan ember,” ujar dia.
Suharti berharap masyarakat lebih waspada menyusul melonjaknya angka kasus Covid-19 beberapa hari terakhir. Caranya dengan disiplin mengenakan masker, mengindari kontak langsung dan rajin mencuci tangan pakai sabun. (Kurniawan)