Investasi Padat Karya Jadi Penopang

JAKARTA—Pandemi Covid-19 diharapkan bisa menjadi momen koreksi atas rapuhnya pijakan perekonomian dalam negeri yang selama ini sangat bergantung pada negara lain.

Hadijah Alaydrus
redaksi@koransolo.co

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai waspada dan siap siaga memitigasi kemungkinan resesi ekonomi menjadi pilihan kebijakan yang tidak terelakkan. Indef mendorong aspek kemandirian ekonomi harus menjadi arus utama dalam menata arsitektur ekonomi Indonesia pasca pandemi, agar cita-cita kesejahteraan bisa diwujudkan.
Salah satu poin menarik yang disoroti Indef adalah soal urgensi rekonstruksi arsitektur investasi padat karya di tengah pandemi. Di tengah melambatnya ekonomi global akibat pandemi, Tauhid mengungkapkan peran penanaman modal dalam negeri perlu dioptimalkan.
Hal ini penting untuk memenuhi target capaian realisasi investasi tahun 2020 sebesar Rp817,2 triliun. Investasi juga perlu diarahkan ke sektor-sektor strategis utamanya yang padat karya.
Seperti diketahui, data realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2020 yang terpangkas hampir separuh dari periode yang sama tahun sebelumnya, serta prediksi pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal II menjadi penanda badai resesi segera tiba.
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengungkapkan hasil kalkulasi Indef menunjukkan perekonomian Indonesia tumbuh negatif di kuartal II dan memasuki zona resesi di kuartal III/2020.
”Pada kuartal II/2020 ekonomi diproyeksi tumbuh negatif dikisaran -3,26% [skenario sedang] hingga -3,88% [skenario berat],” kata Tauhid dalam KTT Indef, Selasa (21/7). Pada kuartal III/2020, ancaman pertumbuhan ekonomi negatif juga masih membayangi perekonomian Indonesia.
Hal ini, kata Tauhid, terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi negatif dikisaran -1,3% (skenario sedang) hingga -1,75% (skenario berat).
Pemerintah perlu melakukan pemetaan distribusi investasi regional dan sektoral berdasarkan potensi investasi berbasis sumberdaya alam dan kekuatan pasar domestik, hilirisasi industri, industri substitusi impor (ISI), dan pemanfaatan berbagai fasilitas infrastruktur yang sudah dibangun.
Di masa pandemi, Indef melihat pemerintah harus memfokuskan dan memilah investasi di masa pandemi pada sektor riil berbasis industri manufaktur yang berdaya saing di pasar domestik dan pasar global (ekspor) yang berasal dari penanam modal domestik/dalam negeri dengan memberikan berbagai fasilitas insentif keuangan dan permodalan.
Indef mengarisbawahi untuk antisipasi terjadinya resesi yang semakin mendalam pada kuartal III-IV dan tahun 2020, peran BKPM menjadi sangat strategis, terutama dalam menciptakan nilai tambah dan pasar kerja di tengah pandemi.
Terakhir Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis sebanyak 143 perusahaan akan melakukan relokasi investasi ke Indonesia. Direktur Pengembangan Promosi Investasi BKPM Alma Karma menuturkan dari jumlah tersebut 57 merupakan perusahaan AS, 39 perusahaan Taiwan, 25 perusahaan Korea Selatan, 21 perusahaan Jepang dan perusahaan Hong Kong.
”Dari jumlah tersebut, ada 7 perusahaan yang sudah pasti melakukan relokasi atau diversifikasi ke Indonesia,” ungkap Alma dalam KTT Indef, Selasa (21/7).
Nilai investasi yang direncanakan mencapai US$850 juta dengan potensi penyerapan tenaga kerja 30.000 pekerja. Sementara itu, sebanyak 17 perusahaan memiliki intensi untuk merelokasi atau mendiversifikasi ke Indonesia dengan potensi nilai investasi US$37.000 juta dan potensi serapan tenaga kerja sebanyak 112.000 pekerja. Sisanya, sebanyak 119 masih tercatat sebagai perusahaan yang berpotensi.
Namun, potensinya cukup besar baik secara nilai dan potensi penyerapan tenaga kerja, yakni masing-masing US$41.392 juta dan 162.000 pekerja. (JIBI/Bisnis.com)