Jangan Panik Hadapi Ancaman Resesi

JAKARTA—Masyarakat
dan pelaku ekonomi diminta tidak panik menghadapi ancaman resesi.

redaksi@koransolo.co

Apa yang terjadi di Singapura dan Korea Selatan (Korsel) menjadi bukti ancaman resesi akibat pandemi virus corona benar-benar nyata. Tidak menutup kemungkinan Indonesia bakal menyusul kendati tidak akan seburuk kedua negara tersebut. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan kepanikan pasar saat menghadapi ancaman resesi justru akan menghantam ekonomi lebih keras.
”Seringkali resesi itu terjadi bukan hanya efek dari luar tapi juga efek psikologis masyarakat yang panik. Masyarakat itu merubah perilaku kesadarannya karena tidak bisa bergantung kepada pemerintah. Jadi masyarakat juga harus sadar, harus bisa lebih disiplin lagi untuk bisa menghindari resesi,” kata Faisal, Kamis (23/7).
Faisal mencontohkan kepanikan yang harus dihindari adalah mengambil uang di bank sekaligus. Jika masyarakat berbondong-bondong melakukan itu, efeknya akan berdampak buruk terhadap sektor keuangan. ”Kalau terjadi penarikan uang secara besar-besaran dari perbankan, tekanan krisis di sektor riil akan berpindah ke sektor keuangan. Sekarang sektor riilnya terpukul tapi sektor keuangan masih relatif sehat. Tapi kalau kemudian uangnya diambil bukan untuk dibelanjakan, tapi takut jadi disimpan di rumah, ini sektor keuangan bisa collapse,” ucapnya.
Hal lain yang tidak boleh dilakukan adalah memborong barang kebutuhan sehari-hari karena khawatir harga akan naik. Cara itu hanya memperparah kondisi. ”Jangan panik untuk memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari di mal karena mungkin terpengaruh isu orang lain bahwa ini resesi, itu berarti nanti barang-barang akan lebih mahal, jangan,” imbuhnya.
Hal yang sama juga dikatakan Direktur CORE Indonesia, Piter Abdullah. Masyarakat diminta jangan panik karena secara tidak sadar sebenarnya masyarakat sudah merasakan dampak dari resesi itu sendiri.
”Resesi itu hanya nama. Resesi itu adalah kondisi. Pada waktu prosesnya itu sendiri sudah merasakan (dampak resesi). Seperti sekarang kita belum dinyatakan resesi tapi sudah merasakan bagaimana PHK meningkat, pengangguran meningkat, kemiskinan meningkat,” tandasnya.
Selain Singapura dan Korsel, CORE memprediksi resesi juga akan terjadi di negara-negara lain khususnya pada negara mitra dagang Indonesia, kecuali Tiongkok yang diperkirakan akan tumbuh positif karena ekonomi di negara ini yang sudah mulai pulih. Negara dengan ketergantungan yang besar pada perdagangan global paling berpotensi, seperti di Asean, ada Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Sedangkan Indonesia, dinilai masih memiliki bantalan pasar dalam negeri yang besar yang bisa menahan resesi.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai resesi di Korsel itu tak membawa dampak langsung ke Indonesia. Dia mengatakan, justru itu bisa menjadi sinyal positif bagi Indonesia. Investasi dari Korsel bakal masuk.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan berat terhadap ekonomi nasional. Dia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan -4,3% sampai -5% pada kuartal II/2020. Oleh karena itu dia meminta kabinetnya bekerja keras memulihkan ekonomi pada kuartal III tahun ini. Periode Juli, Agustus, dan September harus jadi momentum mengungkit perekonomian Indonesia.
”Kuartal ketiga kita harus naik lagi. Kalau enggak, enggak ngerti lagi saya, akan betapa lebih sulit kita,” kata Jokowi saat membuka acara Penyaluran Dana Bergulir Untuk Koperasi Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Kamis.