Penutupan Kantor Cabang Bakal Berlanjut

JAKARTA—Tren penutupan kantor cabang akan terus berlanjut seiring dengan peningkatan transaksi digital perbankan di tengah
pandemi Covid-19.

Ni Putu Eka Wiratmini
redaksi@solopos.co.id

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah kantor cabang bank hingga April 2020 adalah sebanyak 3.613 kantor. Jumlahnya mengalami penurunan dibandingkan dengan April 2019 yang sebanyak 3.718 kantor cabang.
Di saat pandemi, aktivitas keuangan yang dilakukan dengan digital banking mengalami peningkatan. Sebaliknya, transaksi offline selama pandemi menurun.
Misalnya, transaksi offline berupa cek mutasi rekening yang sebelum Covid-19 adalah sebesar 31% kemudian menurun menjadi 26% selama Covid-19. Begitu juga dengan transfer uang yang semula 68% menjadi 55% selama pandemi.
Penggunaan layanan perbankan yang meningkat selama pandemi yakni top up wallet menjadi 81%, transfer uang naik menjadi 78%, hingga pembayaran rutin seperti listrik dan air yang naik menjadi 55%.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan di masa pandemi, transaksi mobile dan internet banking memang akan mengalami peningkatan. Penutupan kantor cabang akan menjadi tren ke depan, meskipun transaksi di ATM cenderung akan bertahan lama.
Menurutnya, dengan kemungkinan penutupan kantor cabang ini pemutusan hubungan kerja (PHK) bankir menjadi hal yang tidak terelakkan. Namun, prosesnya tidak akan serentak dan berjalan secara perlahan.
”Saya kira [kantor cabang] tidak akan meningkat signifikan, tetapi akan berkurang secara perlahan,” katanya kepada Bisnis, Minggu (26/7).
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan realisasi peningkatan transaksi digital perbankan menandakan layanan tersebut merupakan kaharusan bagi bank. Apabila perbankan tidak terjun dalam transaksi digital, dapat berisiko ditinggalkan nasabah.
”Tentunya kita juga melihat transaski offline atau yang harus datang fisik ke bank mengalami penurunan. Tren penutupan kantor cabang dan ATM menunjukkan gejala bank-bank sudah tidak mengandalkan kantor cabang dan ATM,” katanya.
OJK juga mencatat setidaknya ada empat bank yang portofolio transaksi digital tumbuh pesat yakni BNI, BCA, BRI, dan DBS Bank.
BNI mencatatkan pertumbuhan transaksi layanan elektronik yakni melalui SMS banking, internet banking, dan mobile banking sebesar 31% pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Khusus pada layanan mobile banking, BNI mencatat terjadi pertumbuhan transaksi sebesar 84,4% (yoy) pada kuartal I/2020.
Sementara itu, BRI membukukan pertumbuhan transaksi sebesar 31% yoy pada Mei 2020. Dalam satu hari, terjadi sebanyak enam juta transaksi melalui BRImo dengan nilai lebih dari Rp482 triliun per Mei 2020.
Adapun, BCA mencatatkan pertumbuhan digital payment sebesar 20% hingga 30% dengan pembukaan rekening melalui video banking mencapai 5.100 rekening per hari.
Terakhir, Bank DBS mencatat adanya peningkatan transaksi online untuk fitur bayar beli sebesar 75%. (JIBI/Bisnis.com)