Berhemat dan Siapkan Dana Darurat

 

redaksi@koransolo.co

Singapura dan Korea Selatan (Korsel) sudah masuk ke jurang resesi. Indonesia juga bukan tidak mungkin akan mengalaminya.
Sebelum resesi ekonomi benar-benar terjadi, tidak ada salahnya persiapkan diri mulai dari sekarang.
Masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi.
”Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan. Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, akhir pekan lalu.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan.
”Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Ini perlu stamina yang kuat termasuk juga tabungan yang cukup. Jangan boros,” ucapnya.
Selain mempersiapkan tabungan yang banyak, masyarakat juga disarankan agar menjaga kesehatan agar resesi tidak berkepanjangan. Ancaman resesi kali ini terjadi kaena virus mematikan corona. ”Yang utama tetap menjaga kesehatan. Resesi disebabkan wabah, oleh karena itu solusi utama menghadapi resesi adalah mengakhiri wabah. Apabila wabah berakhir, resesi akan berakhir,” sebutnya.
Untuk diketahui, jika benar terjadi resesi akan dapat mengakibatkan penurunan seluruh aktivitas ekonomi. Yang paling mudah dirasakan adalah menurunnya jumlah lapangan kerja yang tercipta.
Liburan
Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto pernah menjelaskan ketika resesi ekonomi terjadi maka akan ada ledakan gelombang pengangguran. Ujung-ujungnya orang miskin akan bertambah.
”Saya rasa dampak yang paling besar itu tingkat pengangguran dan kemiskinan,” kata dia.
Di satu sisi, pemerintah berencana mencairkan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) Agustus mendatang. Gaji ke-13 diberikan untuk menjaga konsumsi masyarakat. Namun, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho mengingatkan agar para PNS tetap menyisihkan gaji 13 untuk dana darurat.
Andy mengatakan minimal 25% gaji ke-13 harus dialokasikan menjadi tabungan, bisa menjadi investasi atau dana darurat. Namun, menurutnya di tengah pandemi ini dana darurat lebih baik jadi prioritas untuk menyisihkan gaji ke-13.
”Selanjutnya bisa dialokasikan untuk ditabung sebagai investasi, paling penting sih buat tambahan dana darurat. Karena kondisi begini belum jelas pandeminya maka harus disiapkan dana darurat itu ditambahin terus,” kata Andy, Minggu (26/7). Menurut Andy pun kalau ada jumlah lebih dari gaji ke-13, ada baiknya dimasukkan menjadi dana darurat juga. Hal ini menjadi penting sebagai persiapan menghadapi kondisi krisis yang disebabkan pandemi.
Andy mencontohkan agar mengerem anggaran untuk senang-senang, misalnya buat liburan. Lebih baik anggarannya dialihkan untuk dana darurat. ”Bisa juga untuk yang mau senang-senang ditahan dulu, uangnya dialokasikan ke dana darurat atau investasi mengingat kondisinya sekarang begini,” ungkap Andy.
Andy menyarankan gaji ke-13 dialokasikan untuk empat hal utama. Masing-masing dianggarkan 25% dari seluruh gaji ke-13.
”Jadi empat hal, buat sekolah anak, cicilan, tabungan, dan dana senang-senang. Pembagiannya 25% masing-masing,” papar Andy. (JIBI/Detik)