Pelaku Wisata Khawatir Objek Wisata Ditutup Lagi

JOGJA—Pelaku pariwisata khawatir kenaikan kasus Covid-19 berdampak pada penutupan kembali objek wisata di Jogja.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan peningkatan kasus Covid-19 menunjukkan perlunya intensitas dan kontinuitas sosialisasi mengenai protokol kesehatan kepada masyarakat dan industri, serta pelaku pariwisata agar semua bisa menjaga agar penularan Covid-19 dapat semakin ditekan.
“Kami khawatir wisata ditutup lagi. Seperti selalu saya ingatkan ke semua penyelenggara usaha pariwisata, personal risk itu ada di penyelenggara usaha, jadi wajib memastikan implementasi SOP tersebut dan mampu mengedukasi wisatawan agar SOP tersebut bisa terimplementasi dengan baik,” kata Bobby, Minggu (26/7).
Menurut Bobby, Pemda DIY harus menegakan aturan dari sisi hukum yang menjadikan tindakan pendisiplinan dari implementasi SOP dan protokol kesehatan tersebut. Dari sisi industri sendiri juga akan lebih memperhatikan protokol.
Meski belum terlihat secara signifikan dampak peningkatan kasus positif terhadap kunjungan wisatawan, namun dikatakannya jika grafik ini semakin meningkat akan berdampak buruk. “Bukan tidak mungkin DIY akan ditinggalkan oleh wisatawan karena kurang trustnya terhadap upaya penanganan Covid-19, maka dari itu kita semua berusaha kuat untuk menumbuhkan kepercayaan itu dengan memastikan implementasi SOP dan protokoler kesehatan dengan baik,” ucapnya.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi, menuturkan kondisi seperti saat ini sebenarnya sudah diantisipasi dalam perumusan strategi pemulihan pariwisata DIY bahwa sampai September 2020, pariwisata DIY menyasar wisatawan lokal atau masyarakat DIY sendiri dan secara terbatas wisatawan dari provinsi lain. “Itu pun harus tetap memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Pada Oktober-Desember, baru disasar pasar wisatawan nusantara, tetapi juga dengan protokol kesehatan yang ketat,” ucapnya.
Meski begitu peningkatan kasus positif juga perlu diwaspadai mengingat pasti akan berpengaruh pada pariwisata. Pengaruh signifikan akan terjadi jika sampai ada penularan di akomodasi wisata atau jika sampai terjadi klaster baru di destinasi wisata.
Saat ini pariwisata DIY termasuk yang paling siap, dibanding destinasi lain di Indonesia. Hal itu terlihat dari kesiapan atau perhatian pada cleanliness, health, safety and environment (CHSE), termasuk simulasi dan uji coba. Pendataan wisatawan juga sudah dilakukan melalui aplikasi.
“Akan tetapi tantangannya adalah mengenai konsistensi penerapan. Perlu sosialisasi lebih luas dan monev yang tegas untuk implementasi pelaksanaan protokol kesehatan CHSE tersebut. Sistem pelaporan dan penindakan tegas menjadi kunci,” ujarnya. (JIBI/harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo)