Pengelola Objek Wisata Bingung Kontrol Pengunjung

SLEMAN—Meski Pemda DIY tidak mengizinkan wisatawan dari zona merah untuk masuk dan berwisata ke DIY, namun tak mudah bagi pengelola wisata untuk membatasi hal tersebut.
Ketua Pengelola Wisata Tebing Breksi, Kholiq Widianto mengatakan kepada Harian Jogja saat ini kunjungan wisatawan ke Tebing Breksi masih didominasi wisatawan lokal dari DIY. Sementara, dari luar DIY, terbanyak datang dari Jawa Tengah, kemudian Jawa Timur.
Sejumlah protokol kesehatan diterapkan kepada seluruh pengunjung yang memasuki kawasan Tebing Breksi. Mulai dari cek suhu bagi pengunjung begitu turun dari kendaraan, mewajibkan pakai masker, cuci tangan dengan sabun, serta diimbau untuk selalu jaga jarak.
”Setiap pengunjung yang masuk kami data dengan aplikasi Visiting Jogja. Bagi yang sudah download, sudah terdata. Kebanyakan yang belum download, kami pinjam KTP-nya. Kalau enggak berkenan, minimal kami data nama, nomor telepon, dan asalnya,” kata Kholiq, pada Minggu (26/7). Data itu, kata dia, juga bisa berfungsi untuk tracing kontak, lantaran bisa diakses oleh Pemda DIY.
Menurutnya, Pemda DIY memang sudah mengimbau wisatawan dari zona merah untuk tidak masuk dan berwisata ke DIY. Namun, ia tak menampik ada sejumlah kunjungan wisata dari daerah zona merah, seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur. Selama ini, pengelola tak menolak kedatangan mereka sejauh tidak menunjukkan gejala, salah satunya jika suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celcius. ”Kalau yang membatasi pemerintah, kami akan mengikuti. Hanya saja kalau sudah terlanjur masuk sini, mau gimana [kalau ditolak],” kata dia.
Kholiq memahami jika wisatawan dari zona merah harus diwaspadai. Terlebih, risiko penularan itu tak hanya dihadapi wisatawan lain di Tebing Breksi, melainkan juga dia dan kawan-kawannya sebagai pengelola wisata. ”Kami sebagai pengelola mengawasi khusus wisatawan dari zona merah seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur. Selalu kami pantau, kami banyak personel yang bawa megaphone, tetap kami sampaikan jaga jarak terutama di titik kumpul,” terangnya.
Pemda DIY, kata Kholiq, juga mengimbau pengelola wisata mewaspadai wisatawan yang datang secara rombongan. Saat ini, wisata rombongan tak mesti menggunakan bus, melainkan juga mobil pribadi dalam jumlah banyak. ”Memang diharapkan jangan menerima dalam bentuk rombongan dulu. Hanya saja kalau sudah buka untuk uji coba, kami sebagai pengelola serba salah. Rombongan itu enggak mesti bus, bisa saja mobil pribadi tapi banyak, atau dengan kendaraan ojek online tapi banyak,” ungkapnya.
Salah seorang wisatawan yang datang secara rombongan ke Tebing Breksi, Minggu (26/7) ini, Sari, 40, menuturkan ia sudah dua kali datang ke DIY selama sebulan terakhir. Ia datang dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah dalam rombongan empat bus. ”Satu bus kira-kira 40 orang. Kami satu kabupaten. Wisata pribadi dan keluarga, tapi bareng-bareng satu kabupaten,” kata Sari, warga Kecamatan Ringinarum, Kendal itu.
Hari ini, rute wisatanya ialah ke Tebing Breksi, lalu ke Puncak Becici, diakhiri wisata belanja di Malioboro. Sekitar tiga minggu lalu, ia juga mengikuti rombongan wisata yang sama, namun rutenya berbeda. Meski tidak diharuskan membawa surat sehat, menurutnya piknik di tengah pandemi ini harus tetap saat badan sehat dan bugar. ”Memang harus ikuti protokol kesehatan kalau mau wisata. Kalau nggak mau ikut protokol, ya di rumah saja. Memang ada yang takut keluar rumah, ada juga yang pengen jalan-jalan karena suntuk, ya konsekuensinya harus ikut protokol,” terang Sari. (Lajeng Padmaratri/Harian Jogja/JIBI)