Karang Taruna Aktif, Kenakalan Menyingkir

Moh. Khodiq Duhri

Sengatan mentari amat te­rasa saat Koran Solo tiba di halaman Sekretariat Kampung Keluarga Berencana (KKB) Barayatama, Dukuh Gong­gangan, Desa Juwok, Keca­matan Sukodono, Sragen, Selasa (28/7).
Suara mesin pemotong besi terdengar nyaring. Mesin itu untuk membuat kerajinan tangan berupa rak bunga. Kerajinan mebel yang terbuat dari ban bekas, besi dan kayu juga diproduksi di lokasi.
Tempat produksi kerajinan itu dikelola oleh Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja yang bernaung di bawah KKB Barayatama. PIK Remaja ber­anggotakan sekitar 40 remaja karangtaruna dukuh setempat.
Aneka kerajinan itu dikerjakan oleh para remaja karangtaruna dukuh. Tidak hanya bergerak di bidang produksi mebel, di bawah arahan PIK Remaja, para remaja di Dukuh Gonggangan juga memiliki banyak kegiatan positif.
“Belum lama ini kami ajak anak-anak memanen aneka tanaman obat jenis empon-empon. Hasil panen kami tawarkan kepada warga sekitar dulu. Setelah itu kami jual ke pasar,” jelas Hanung Candra Bintara, 30, Ketua PIK Remaja KKB Barayatama di lokasi.
Selain budi daya tanaman obat dan produksi mebel, para remaja karangtaruna di dukuh ini juga dilibatkan dalam budidaya ikan lele, mengelola Agen BRI Link, serta bank sampah.
Dalam waktu dekat, mereka akan meresmikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang akan menggelar pendidikan kesetaraan Kejar Paket C.
Bersamaan dengan itu, dibuka taman baca di dukuh setempat. “Kami memang sengaja membuat banyak kegiatan positif yang bisa diikuti anak-anak remaja sehingga mereka hampir tidak punya waktu untuk terjerumus dalam kegiatan negatif,” ucap Hanung.
Berdirinya PIK Remaja di Du­kuh Gonggangan sejak 2018 lalu bukan tanpa alasan. PIK Remaja berdiri dilatarbelakangi banyaknya keluhan orang tua yang merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak-anaknya.
“Dulu itu ada kebiasaan anak-anak remaja nongkrong. Kalau sudah nongkrong, kadang mereka menenggak minuman keras. Ada pula anak yang bandelnya kebangetan. Sama orang tua melawan dan dia tidak mau pulang ke rumah. Orang tua akhirnya datang ke ke kami. Mereka sudah pasrah, mau diapakan anak itu terserah,” ujar Fandra Nur Cahyanyo, 28, salah satu konselor sebaya di PIK Remaja Dusun Gonggangan.
Untuk menyadarkan para remaja itu, PIK Remaja sengaja menggunakan pendekatan personal. Fandra harus ikut nongkrong terlebih dahulu. Secara pelan-pelan, Fandra memberikan pemahaman supaya para remaja itu bisa mengisi kegiatan yang positif.
Fandra tidak langsung mem­berikan justifikasi bahwa kebiasaan nongkrong itu tidak baik, membuang-buang waktu dan rawan disalahgunakan untuk kegiatan negatif.
“Pasti akan mental. Makanya kami mendekati mereka secara pelan-pelan. Setelah mereka mulai nyaman, baru kami ajak dalam kegiatan positif. Alhamdulilah, sekarang hampir tidak ada pemuda nongkrong yang menenggak minuman keras,” papar Fandra.
Fandra juga melakukan pendekatan personal kepada anak remaja yang kerap membantah orang tua hingga tidak mau pulang ke rumah. Rata-rata, kenakalan remaja yang terjadi di Dukuh Gonggongan tersebut dilatarbelakangi masalah keluarga.