Gambaran Kesenjangan Makin Lebar

 

Demam bersepeda yang melanda Indonesia menjadi fenomena baru di tengah pandemi Covid-19. Tak hanya sepeda kelas murahan, banyak yang berlomba membeli sepeda bermerek dengan harga selangit demi pamer gengsi. Salah satunya sepeda Brompton.
Saking ingin pamer gengsi, sempat viral di media sosial orang Indonesia disebut ramai-ramai borong sepeda Brompton di luar negeri. Pengamat ekonomi pun mengulas fenomena ini.
Borong Brompton di Tengah Pandemi
Dari cuitan akun Twitter @kismin666oys, terlihat tangkapan layar menyebut sepeda Brompton ludes diborong di toko-toko sepeda Jerman.
”Beli Brompton online di semua toko di Jerman ditutup. Karena banyak orang +62 yang borong,” tulis keterangan dalam foto yang diunggah akun @kismin666oys, dikutip Detik, Selasa (28/7).
Akun ini juga mengunggah sebuah tangkapan layar mengenai curhatan orang asing di media sosial. Orang itu curhat terheran-heran mengenai apa yang terjadi di Indonesia. Pasalnya, menurut dia banyak orang Indonesia saat ini sedang berburu Brompton ke seluruh belahan dunia, termasuk di negara tempat tinggalnya.
”Apakah di sini ada orang Indonesia? Aku penasaran dengan apa yang terjadi di negaramu? Kenapa kalian mencoba memborong setiap Brompton dari banyak negara di dunia dan membayar dengan harga yang gila? Apakah kalian tidak keberatan membagikan beberapa cerita dari sana,” bunyi kutipan curhatan orang asing tersebut.
Sebagai catatan, dia menambahkan sebetulnya dia tidak keberatan dengan gerakan borong Brompton ini. Bahkan hal ini menguntungkan untuknya, dia bercerita, sepeda Brompton Explore miliknya baru saja laku terjual US$4.000 atau sekitar Rp58 juta (dalam kurs Rp 14.500).
Dia juga bercerita kenalannya sedang mencari 15 Brompton baru untuk diboyong ke Indonesia. Demi uang semua tak masalah untuknya.
Dinilai Jadi Fenomena Biasa,
Tapi Tidak Tepat
Menanggapi fenomena ini, ekonom Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah menilai sebetulnya fenomena seperti ini adalah biasa. Dia mengatakan bagi orang kaya, memang wajar saja menghabiskan uang untuk membeli apapun keinginannya, termasuk sepeda Brompton yang harganya fantastis.
”Sebenarnya ini harus memahami bagaimana perspektif, sudut pandang, bagi mereka yang punya uang, Brompton itu enggak mahal. Ditambah lagi sekarang ini lagi tren naik sepeda, bagi level mereka itu murah dan butuh itu. Ini fenomena biasa saja,” ungkap Piter.
Hanya saja, Piter menyoroti fenomena ini sangat lah tidak pas di tengah pandemi Covid-19 yang belum surutnya menghantam Indonesia. Di satu sisi orang kaya bisa bersenang-senang memenuhi gengsinya membeli Brompton, namun di sisi lain banyak orang yang makin sulit hidupnya di tengah pandemi.
”Di tengah pandemi ini sebagian masyarakat lagi kehilangan pekerjaan, pendapatan, banyak yang kena PHK enggak dapat income. Sementara di sisi lain ada orang belanja untuk main-main, harganya gila-gilaan,” kata Piter.
Kejadian ini menurut Piter menjadikan jurang kesenjangan sosial makin melebar dan nyata terlihat. ”Fenomena ketidakmerataan ini jadi makin terasa, dan lebih lebar di wabah Covid-19 ini,” ujarnya.
Ukur Kemampuan
Sebelum Beli Brompton
Sementara itu, kalau dilihat dari manajemen keuangan, perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, mengatakan kalau niatnya membeli barang, dalam hal ini Brompton cuma karena demi gengsi dan mengikuti tren disebut kurang tepat.
”Kalau cuma buat ikuti tren saja, hitung-hitungan perencana keuangan sih ya enggak tepat. Kalau cuma tiga bulan tren enggak sepedaan lagi ya belum tentu worth it,” kata Andy.
Namun, Andy mengatakan semua kembali lagi ke kondisi keuangan setiap orang. Dia menekankan dalam menata keuangan setiap orang harus mampu mengukur kemampuannya. Dalam kasus membeli Brompton, bila mampu tidak masalah membelinya, namun jangan memaksakan diri.
”Jadi harus mampu ukur kemampuan ya. Memang tergantung dari kondisi tiap orang, misalnya mereka eksekutif di perusahaan besar gaji Rp 100 juta lebih belum sama bonus dan lain-lain dan cadangan tabungan banyak mereka mau keluar dana begitu banyak enggak masalah,” papar Andy. ”Tapi jadi enggak wajar, itu misalnya ada orang yang memaksa beli dengan gaji yang enggak besar, sampai mau cicil segala,” lanjutnya. (Detik)