”Kami Butuh Solusi bukan Larangan”

SRAGEN—Meski sudah memakan delapan korban jiwa sejak Mei lalu, para petani di Sragen tetap mempertahankan penggunaan jebakan tikus yang teraliri arus listrik.
Berdasar pantauan Koran Solo, Rabu (29/7), jebakan tikus yang teraliri arus listrik itu banyak ditemukan di area persawahan di Desa Tenggak, Sribit, dan Pandak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen.
Jebakan tikus terbuat dari kawat, kabel dan lampu 5 watt, dipasang mengitari area persawahan. Petani menyambungkan kawat itu dengan arus listrik yang biasa dipakai untuk menghidupkan mesin pada sumur submersible.
“Total sawah saya seluas lebih dari 1 hektare. Saya menghabiskan bendrat sepanjang 7 km untuk membuat jebakan tikus ini. Kalau ditarik garis lurus, bisa sampai Kota Sragen panjangnya. Namun, kawat itu saya pakai untuk mengitari semua petak sawah yang saya miliki. Saya beli bendrat itu sekitar Rp120.000,” ujar Mitro Suwarno, 75, petani asal Dukuh Semen, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, saat ditemui di sawahnya.
Biaya pembuatan jebakan tikus itu, kata Mitro, cukup murah. Saat digunakan untuk melindungi area sawah seluas lebih dari 1 hektare, daya listrik yang terpakai hanya berkisar 20 kWh atau setara Rp33.000/malam. Dengan modal yang cukup murah, kata dia, jebakan itu bisa membunuh ratusan tikus dalam semalaman. “Kalau tidak ada jebakan tikus ini, sudah pasti kami gagal panen. Sudah dipasangi jebakan saja masih ada tikus yang lolos. Mereka memotong batang tanaman padi yang rata-rata berusia di bawah 3 pekan. Kalau sudah dimakan tikus, biasanya kami harus menyulam atau menanami lagi,” ujar Mitro.
Mitro mengakui jebakan tikus sudah banyak memakan korban jiwa manusia. Menurutnya, hal itu dikarenakan faktor kesalahan manusia. Dia mengakui bila tidak hati-hati, jebakan tikus itu bisa mencelakai diri sendiri dan orang lain.
“Jebakan tikus itu biasa saya hidupkan sebelum magrib dan saya matikan setelah subuh. Biasanya kalau tengah malam saya datangi sawah untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, demi keamanan, saya hanya mengamati dari kejauhan. Saya tidak berani mendekat karena takut terpleset atau menginjak air yang teraliri listrik. Terjadinya korban jiwa itu karena kurangnya kehati-hatian petani sendiri atau ketidaktahuan orang lain,” ucap Mitro.
Mitro mengakui dia pernah diingatkan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) supaya menghentikan penggunaan jebakan tikus karena dinilai berbahaya. Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, juga sudah mewanti-wanti petani untuk menghentikan jebakan tikus itu.
Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan niat Mitro untuk terus menggunakan jebakan tikus tersebut. “Silakan kalau mau dibilang ngeyel. Kami petani ini hanya butuh solusi bagaimana menjaga tanaman kami selamat dari hama tikus. Kalau tikus dibiarkan merajalela, sudah pasti kami tidak bisa makan,” tegas dia.
Senada disampaikan Slamet, 56, petani asal Tenggak. Dia menilai penggunaan jebakan tikus selama ini cukup efektif untuk mengendalikan populasi hewan pengerat tersebut.
“Pertama kali digunakan, ada ratusan ekor tikus yang mati. Pada malam berikutnya, jumlah tikus yang mati terus berkurang. Selah hampir tiga pekan, sekarang rata-rata per malam dapat 15-20 ekor tikus. Itu karena populasi tikus berkurang berkat penggunaan jebakan yang teraliri listrik ini,” paparnya. (Moh. Khodiq Duhri)