Kembali Merah, Covid-19 Solo Tertinggi

Mariyana Ricky P.D.

SOLO—Solo merah lagi. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo mencatatkan tujuh tambahan kasus baru Covid-19, Rabu (29/7).
Tambahan tersebut membuat kumulatif kasus Covid-19 di Kota Bengawan mencapai 257 orang dan tertinggi se-Soloraya. Lonjakan kasus selama dua pekan terakhir membuat Solo lagi-lagi bergelar zona merah atau risiko tinggi.

Padahal, Solo pernah berada pada kategori zona kuning atau risiko rendah. Lalu, naik satu tingkat ke zona oranye atau risiko sedang yang terus naik menjadi zona risiko tinggi.
Hal itu tampak dalam grafik peta risiko yang ditampilkan di situs covid19.go.id pada Rabu (29/7). Zona merah merupakan wilayah dengan risiko persebaran virus corona yang tinggi atau belum terkendali.
Transmisi lokal terjadi dengan cepat, wabah menyebar secara luas dan banyak klaster baru. Jika dirinci selama dua pekan terakhir, Solo mencatatkan temuan klaster kupat tahu, klaster nakes di beberapa rumah sakit, klaster kontak nakes, klaster Penumping-Karangasem, dan klaster warga Banyuanyar yang meninggal dunia.
Hitungan risiko zona dihitung berdasarkan indikator kesehatan masyarakat (IKM). Di mana terdapat tiga indikator utama, yakni epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengakui lonjakan signifikan terjadi dalam dua pekan terakhir. Namun, jika ditilik dari kumulatif 257 kasus tercatat, 140 kasus atau lebih dari separuhnya disumbang dari klaster nakes.
“Kasusnya memang banyak, tapi asimtomatik dan mayoritas pada nakes. Kesembuhan juga tinggi. Dari 257 kasus itu, yang aktif tinggal 46, yakni 23 menjalani rawat inap dan 23 karantina mandiri,” kata dia, kepada Koran Solo, Rabu malam.
Pihaknya bakal menggelar koordinasi bersama kelurahan guna menekan persebaran kasus. Terlebih, menjelang Hari Raya Iduladha yang jamaknya disusul pembagian daging kurban.
Gugus Tugas mengimbau kelurahan mengetatkan protokol kesehatan. Masjid dilarang membagikan daging kurban di tempat, namun diimbau menyerahkan kepada yang berhak langsung dari rumah ke rumah.
Di sisi lain, tambahan kasus tujuh orang pada Rabu, lima di antaranya masih disumbang dari klaster nakes. Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan perincian lima nakes itu empat di antaranya berasal dari RS dr. Moewardi (RSDM) Solo dan satu lainnya nakes RS daerah lain di Soloraya, namun berdomisili di Solo. “Dua sisanya adalah pasien suspek yang naik kelas menjadi kasus konfirmasi,” jelasnya saat dihubungi terpisah.
Ia kemudian meminta masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan saat berada di luar rumah. Hal itu dikarenakan, banyaknya kasus asimtomatik yang baru diketahui setelah hasil uji swab keluar.
Kejadian baru-baru ini adalah seorang nakes yang bekerja di daerah lain, namun berdomisili di Solo. Dia tak memiliki gejala sehingga beraktivitas seperti biasa, salah satunya ronda.
“Saat ronda itu, mungkin terlalu dekat atau maskernya dilepas, kemudian menulari salah seorang temannya ronda. Kami tracing dan ternyata dia tertular. Makanya, protokol kesehatan harus diterapkan di mana saja. Solo kembali jadi zona merah, memang karena kasusnya bertambah. Yang paling penting menjalankan protokol kesehatan,” tandas Ning, panggilan akrabnya.
Jika ditilik dari domisili, 46 kasus Covid-19 aktif di Solo, penjabarannya adalah 7 kasus aktif di Kecamatan Laweyan, 3 di Kecamatan Serengan, 2 di Kecamatan Pasar Kliwon, 14 di Kecamatan Jebres, dan 20 di Kecamatan Banjarsari. Sedangkan, catatan kumulatif pasien suspect menyentuh 341 orang atau bertambah 4 orang dari hari sebelumnya. Penjabarannya, 279 sembuh, 19 dirawat inap (suspek aktif), dan 43 suspek meninggal dunia.
Lima tenaga kesehatan (nakes) di RSUD Soediran Mangun Sumarso Wonogiri terkonfirmasi positif Covid-19. Penambahan tersebut terjadi dalam waktu dua hari, Selasa (28/7) dan Rabu (29/7).
Dengan adanya penambahan tersebut, nakes yang terpapar Covid-19 di RSUD Wonogiri menjadi 36 orang. Jekek mengatakan, kelima pasien tersebut tertular dari klaster nakes sebelumnya.
”Mereka merupakan orang tanpa gejala. Kami berharap masyarakat lebih waspada. Ada pasien terkonfirmasi positif yang tertular dari nakes RSUD Wonogiri. Jadi klaster ini sudah meluas” kata dia.
Sementara itu, tujuh warga di Klaten terpapar virus corona, Rabu. Jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Klaten mencapai 133 orang.
Tujuh warga Klaten yang terpapar virus corona tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Bersinar, yakni Kecamatan Trucuk (lima orang), Kecamatan Jogonalan (satu orang), Kecamatan Klaten Selatan (satu orang).
Kasus positif di Kabupaten Sragen bertambah empat pada Rabu. Penambahan empat orang positif Covid-19 didasarkan pada uji laboratorium atas swab test yang dilakukan terhadap 150 orang dari hasil tracing kasus positif.
Kepala DKK Sragen, dr. Hargi­yanto, menerangkan jumlah uji swab test yang turun pada Rabu sore sebanyak 150 orang dari 270 orang yang masuk dalam daftar tunggu hasil swab. Dia mengatakan dari 150 orang tersebut ternyata yang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya empat orang atau hanya 2,7%.
Dia mengatakan sekarang tinggal 120 orang yang menunggu hasil uji laboratorium PCR. (Bony Eko Wicaksono/M. Aris Munandar/Ponco Suseno Tri Rahayu)