Watu Sigong Diduga Peninggalan Mataram Kuno

Taufiq Sidik Prakoso

Sebanyak 11 batu yang dipahat halus terserak pada gundukan tanah di Dukuh Kroman, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten. Belasan batu itu berbentuk sama menyerupai gong dan berukuran seragam dengan masing-masing setinggi 35 sentimeter dan berdiameter 65 sentimeter.
Di antara belasan batu itu, ada batu menyerupai bagian kemuncak (puncak atap candi) serta batu yang sekilas menyerupai tatakan saron. Batu yang menyerupai tatakan saron itu diperkirakan jaladwara (batu saluran air pada candi atau patirtan).
Oleh warga setempat, belasan batu itu dikenal dengan nama Watu Sigong. Salah satu alasan pemberian nama Sigong itu tak lain lantaran bentuk belasan batu menyerupai gong.
Nama Watu Sigong diberikan lantaran kerap terdengar alunan karawitan dengan sumber suara dari kawasan batu itu berada di antara pekarangan tanah kas desa serta milik warga. “Pada malam-malam tertentu itu sering terdengar karawitan yang sumber suaranya dari sini [kawasan Watu Sigong]. Namun, ketika warga mendatangan lokasi [kawasan Watu Sigong], suara karawitan itu menghilang,” kata Sekretaris Desa Mranggen, Parsidi, saat ditemui di kawasan Watu Sigong, Kamis (29/7).
Hanya saja, suara gamelan itu kini jarang terdengar lagi. Parsidi tak tahu pasti penyebab suara gamelan itu kini jarang terdengar. Soal misteri suara gamelan yang diyakini bersumber dari kawasan Watu Sigong hingga kini juga belum terungkap.
Bersambung ke Hal. 4 Kol. 1
Soal sejak kapan Watu Sigong berada pada gundukan tanah di tengah kebun, Parsidi menjelaskan sudah berada di lokasi tersebut secara turun-temurun. “Sejak saya kecil batu-batu ini sudah ada,” urai dia.
Selama ini, batu-batu tersebut dibiarkan terserak pada gundukan tanah. Watu Sigong seakan dikeramatkan oleh warga setempat. Tak ada satupun warga yang pernah memindahkan batu-batu tersebut. “Tidak ada yang berani untuk memindah selama ini. Karena tidak ada yang berani memindah sampai saat ini tidak ada kejadian di sini. Tetapi kepercayaan mistis masih melekat,” ungkap Parsidi.
Parsidi menjelaskan ada rencana untuk mengembangkan kawasan Watu Sigong sebagai potensi wisata. Pengembangan wisata itu bisa dilakukan dengan membikin paket wisata dengan potensi alam lainnya yang ada di wilayah Mranggen.
“Kalau memang bisa menjadi wisata nanti bisa menjadi satu paket yakni embung, Umbul Kroman, Sumber Gotan, serta Watu Sigong itu satu deretan. Dengan pengembangan itu kami berharap potensi yang ada di kampung sini terangkat,” kata Parsidi.
Parsidi menjelaskan rencana pengembangan wisata itu sebenarnya sudah dimulai. Sedianya, tahun ini ada pembangunan kolam renang di dekat embung dengan alokasi anggaran Rp90 juta.
Namun, pembangunan kolam renang itu ditunda lantaran ada pengalihan anggaran di keuangan desa untuk penanganan Covid-19.
Pegiat Klaten Heritage Community, Hari Wahyudi, memperkirakan batu-batu andesit dan kini disebut warga sebagai Watu Sigong itu merupakan peninggalan pada era Mataram Kuno antara abad ke-9 dan ke-10.
Hari menjelaskan hingga kini belum bisa dipastikan Watu Sigong merupakan bagian dari bangunan candi atau bangunan lainnya pada era Mataram Kuno. “Kami melakukan pencarian batu-batu lainnya di sekitar lokasi yang mungkin berkaitan Watu Sigong. Namun sampai sejauh ini kami belum menemukan,” urai dia.
Hari berharap Watu Sigong tetap dirawat warga. Bebatuan itu bisa menjadi sumber edukasi terkait jejak peradaban Mataram Kuno yang ada di Kabupaten Klaten.