3 Terdakwa Kasus Susur Sungai Dituntut 2 Tahun

 

SLEMAN—Tiga terdakwa kasus susur Sungai Sempor, Turi, Sleman, dituntut dua tahun penjara. Ketiga terdakwa yang diajukan ke meja hijau masing-masing IYA, 36, warga Caturharjo, Sleman, RY, 58, warga Turi, dan DDS, 58, warga Ngaglik.
Jaksa penuntut umum (JPU) Sihid mengatakan ketiga terdakwa dinilai lalai dalam menjalankan tugasnya. Mereka terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sehingga menyebabkan orang lain meninggal dunia dan luka-luka. Apa yang dilakukan terdakwa memenuhi unsur Pasal 359 KUHP dan 360 (2) KUHP Jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.
Tuntutan tersebut didasarkan atas fakta di lapangan dan keterangan para saksi. Ketiga terdakwa masing-masing dituntut dua tahun penjara dipotong masa tahanan yang dijalani para terdakwa. ”Kedua pasal tersebut mengatur tentang tindak pidana perbuatan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain atau sampai mengalami luka berat,” kata Sihid saat pembacaan tuntutan dalam sidang lanjutan kasus susur sungai SMPN 1 Turi di PN Sleman, Kamis (30/7).
Sihid menilai, ada sejumlah hal yang memberatkan maupun meringankan bagi ketiga terdakwa. Pertimbangan yang memberatkan, katanya, perbuatan yang mengakibatkan meninggalnya 10 pelajar SMPN 1 Turi dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
”Hal yang meringankan, terdakwa mengaku bersalah dan menyesal, belum pernah dihukum, keluarga terdakwa memberikan santunan kepada keluarga korban. Selain itu, keluarga korban memaafkan terdakwa dan menganggap kejadian ini sebagai sebuah musibah,” kata Sihid.
Terkait tuntutan tersebut, penasihat hukum ketiga terdakwa mengajukan pledoi meskipun ketiganya mengakui kesalahannya. ”Tuntutan tadi kan akibat terjadi kelalaian. Unsur kelalaiannya seperti apa? Harus diukur itu dengan kesalahan yang ada. Jangan sampai dibebankan kepada satu orang,” kata penasihat hukum IYA, Oktryan Makta.
Hal senada disampaikan penasihat hukum DDS, Safiudin. Pihaknya juga akan mengajukan pledoi sesuai peran yang dimiliki kliennya. Apalagi DDS, kata Safiudin, saat kejadian juga ikut menolong para siswa. ”Peran klien kami berbeda dengan kedua terdakwa. Klien kami hanya tenaga pembantu dan hanya berjaga di titik finis saja,” jelasnya. Sidang akan dilanjutkan pada Senin (3/8) mendatang. (Abdul Hamid Razak/Harian Jogja/JIBI)