Dulu Berkurban 135 Sapi, Kini 151 Ekor

Moh. Khodiq Duhri

SRAGEN—Datangnya pandemi yang membuat banyak muslim tidak bisa menunaikan ibadah kurban, tak terjadi di Desa Pengkok, Kecamatan Kedawung, Sragen.
Di desa yang berpenduduk 8.000 jiwa itu, nominal hewan kurban justru bertambah. Jika tahun lalu hanya 135 ekor sapi, tahun ini meningkat menjadi 151 ekor sapi.
Namun jumlah kurban kambing menurun dari 124 ekor pada 2019 menjadi 111 ekor tahun ini.
Desa Pengkok berjarak sekitar 15 km dari Kota Sragen. Sekitar 70% dari penduduknya bekerja sebagai petani. Sebanyak 20% bekerja sebagai pedagang di luar kota, luar Jawa hingga luar negeri.
Mereka yang sukses merantau umumnya masih berusia 25-40 tahun. Sebanyak 10% sisanya bekerja sebagai karyawan swasta, PNS, buruh, dan lain-lain.
Jika ditotal terdapat lebih dari 2.000 warga Desa Pengkok yang merantau untuk berdagang. Meski sudah sukses di kampung orang, mereka tidak lupa dengan kampung halaman. Saat diminta dana untuk membangun jalan, mereka tidak sungkan mengeluarkan dana besar.
Kesuksesan warga Desa Pengkok yang merantau itu membawa dampak positif bagi kampung halaman. Meski berada jauh dari ingar-bingar suasana perkotaan, perekonomian di desa setempat bisa dibilang maju pesat.
Di desa itu berdiri empat gudang perabotan rumah tangga yang siap dikirim ke luar Jawa. Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari lima minimarket berdiri di desa ini. Tak heran untuk urusan berkurban, mereka seakan berlomba-lomba untuk mewujudkan yang terbaik.
Sebanyak 151 ekor sapi dan 111 ekor kambing itu mulai disembelih pada pukul 07.30 WIB. Hanya dalam waktu kurang dari 3,5 jam, semua sapi dan kambing itu selesai disembelih dan dibagikan kepada warga.
“Sebelum pukul 11.00 WIB, semua daging kurban sudah dibagikan. Ada banyak jagal di desa ini. Hampir tiap RT ada jagalnya. Semua warga dari anak kecil, remaja hingga dewasa kompak bahu membahu sehingga pekerjaan cepat selesai,” papar Kepala Desa Pengkok, Sugimin, kepada Koran Solo.
Tidak hanya dibagikan kepada warga sekitar, melimpahnya daging kurban membuat Pemdes Pengkok membagikan daging itu kepada warga di luar desa. Bahkan, sejumlah desa di luar Sragen seperti di Karanganyar, Wonogiri, Solo dan sekitarnya juga mendapat bantuan daging kurban dari Desa Pengkok.
“Untuk daging kurban kambing, hampir 75% disalurkan ke luar Desa Pengkok,” terang Sugimin.
Teori yang menyebut rendahnya derajat pendidikan berbanding lurus dengan kemiskinan mampu dipatahkan oleh warga Pengkok. Meski rata-rata hanya lulusan SD dan SMP, warga sukses berdagang di perantauan.
Tingginya semangat berkurban warga Pengkok menunjukkan sudah meningkatnya taraf hidup warga sekitar. “Di desa kami ada 45 RT. Satu RT terdapat 2-5 ekor sapi yang disembelih. Jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Misal di RT 12, dulu hanya bisa menyembelih empat ekor kambing dan dua ekor sapi, sekarang ada dua ekor kambing dan lima ekor sapi. Jadi, jika tahun lalu warga berkurban kambing, tahun ini harus lebih baik yakni sapi. Mereka iuran untuk membeli sapi. Satu ekor sapi dibeli hasil iuran tujuh warga,” papar Sekretaris Desa Pengkok, Sigit Pambudi.