INFLASI JULI 2020 DIPREDIKSI MASIH PADA ANGKA LANDAI Batasi Konsumsi Prioritaskan Kebutuhan Dasar

JAKARTA—Inflasi Juli 2020 diprediksi masih berada pada angka landai. Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan inflasi Juli 2020 berkisar 0,05% month-to-month (mtm) atau 1,7% year-on-year (yoy).

redaksi@koransolo.co

Josua menuturkan permintaan pada awal kuartal ketiga tahun ini masih lemah, meskipun ada momentum tahun ajaran baru sekolah. Menurutnya, konsumen cenderung membatasi konsumsi secara umum dan memprioritaskan konsumsi pendidikan serta kebutuhan dasar lainnya.
”Di tengah turunnya daya beli masyarakat sejak awal tahun serta ditambah dengan momentum tahun ajaran baru sekolah, sisi permintaan cenderung masih lemah,” katanya.
Oleh sebab itu, kata Josua, penyerapan stimulus ekonomi untuk sisi permintaan masih perlu terus ditingkatkan produktivitasnya.
Perkiraan laju inflasi bulanan pada Juli tersebut diproyeksi mengalami perlambatan dibandingkan dengan inflasi pada Juni 2020, yang tercatat sebesar 0,18% mtm atau 1,96% yoy.
”Perlambatan ini diperkirakan terjadi akibat masih terjadi deflasi pada komponen harga bergejolak seperti bawang merah, bawang putih, dan daging ayam,” katanya kepada Bisnis, Kamis (30/7).
Josua mengutarakan harga bawang merah, bawang putih, dan daging ayam masih mengalami penurunan masing-masing sebesar -27,97%, -17,85%, dan -7,29%.
Menurut Josua, deflasi pada sebagian besar bahan pangan diakibatkan oleh masih lemahnya permintaan dari masyarakat akibat pandemi Covid-19.
Sementara, pendorong utama dari inflasi pada Juni 2020 adalah inflasi inti, yang diperkirakan akan tercatat sebesar 2,14% yoy dari bulan sebelumnya 2,26 persen yoy.
Perlambatan inflasi inti ini didorong oleh kenaikan harga emas pada bulan Juli sebesar sebesar 10,34%, akibat kenaikan harga komoditas emas global, disertai dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.
Sebelumnya, berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada pekan ketiga Juli 2020, inflasi Juli 2020 diperkirakan sebesar 0,01% mtm.
Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juli 2020 secara tahun kalender sebesar 1,10% (year-to-date), dan secara tahunan sebesar 1,66% yoy.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko, penyumbang utama inflasi pada periode laporan antara lain berasal dari komoditas telur ayam ras sebesar 0,05%(mtm), emas perhiasan sebesar 0,03% (mtm), dan rokok kretek filter sebesar 0,01% (mtm).
Sementara itu, komoditas utama yang menyumbang deflasi yaitu bawang merah sebesar -0,09% (mtm), bawang putih sebesar -0,03% (mtm), gula pasir sebesar -0,02% (mtm), jeruk sebesar -0,02% (mtm) serta cabai merah, daging sapi, kelapa, minyak goreng dan angkutan udara masing-masing sebesar -0,01% (mtm).
Onny mengungkapkan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika persebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan. (JIBI/Bisnis.com)