Konsumsi Turun Tapi Subsidi Bengkak

JAKARTA—Pertumbuhan konsumsi listrik hingga
akhir tahun ini diproyeksikan minus 6,25% dibandingkan realisasi sepanjang 2019 sebagai dampak pandemi Covid-19.

Denis Riantiza Meilanova
redaksi@koransolo.co

Konsumsi listrik sepanjang semester I/2020 hanya tumbuh sebesar 0,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan konsumsi listrik paling banyak pada golongan pelanggan industri sedangkan konsumsi golongan rumah tangga naik hampir 10%.
Kendati demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan anggaran subsidi listrik akan meningkat hingga Rp62,93 triliun pada tahun ini.
Dalam APBN 2020, alokasi subsidi listrik dipatok senilai Rp54,79 triliun. Namun karena adanya pemberian stimulus keringanan tagihan listrik bagi masyarakat terdampak pandemi Covid-19, terdapat penambahan anggaran subsidi listrik.
”Kenaikan ini karena belanja untuk bantu saudara-saudara kita yang terdampak Covid-19, termasuk UMKM. Ini [Rp62,93 triliun] belum termasuk paket terakhir [insentif bagi pelanggan bisnis, industri, sosial],” ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, akhir pekan lalu.
Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk membantu masyarakat miskin dan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berupa pemberian diskon tagihan listrik kepada konsumen.
Kebijakan itu meliputi rumah tangga golongan tarif R.1/450 VA diskon 100% dan rumah tangga golongan tarif R.1/900 VA subsidi diskon 50% selama enam bulan (April-September 2020); dan bisnis kecil B.1/450 VA dan industri kecil I.1/450 VA diskon tagihan listrik 100% selama enam bulan (Mei-Oktober 2020).
Dalam kebijakan terbaru, pemerintah kembali memberikan stimulus berupa pembebasan ketentuan rekening minimum dan pembebasan biaya beban atau abonemen bagi pelanggan golongan sosial, bisnis, dan industri.
Work from Home
Pelanggan PLN yang penerima stimulus tersebut diperkirakan sebanyak 1,26 juta pelanggan yang terdiri atas golongan pelanggan sosial sebanyak 661.000 pelanggan, bisnis sebanyak 566.000 pelanggan, dan industri lebih dari 29.000 pelanggan.
Kebutuhan dana yang akan dialokasikan untuk stimulus tersebut diperkirakan sekitar Rp3,07 triliun.
Secara kumulatif, dana stimulus yang disediakan pemerintah dalam rangka menghadapi dampak Covid-19 kepada konsumen PLN berupa diskon tarif, pembebasan ketentuan rekening minimum, dan pembebasan biaya beban/abonemen sebesar Rp11,02 triliun.
Sementara itu, hingga Mei 2020, pemerintah telah merealisasikan pembayaran subsidi listrik kepada PLN senilai Rp22,94 triliun. Prognosa realisasi pembayaran subsidi listrik sampai dengan 29 Juli 2020 mencapai Rp28,76 triliun.
Terkait penurunan konsumsi listrik, hal ini tidak terjadi pada pelanggan rumah tangga yang naik 9,84% seiring meningkatnya aktivitas di rumah akibat kebijakan work from home (WFH).
Peningkatan juga terjadi pada golongan traksi, curah, dan pelayanan khusus yang naik hampir 43% seiring mulai beroperasinya light rail transit (LRT) Jakarta pada awal tahun, sementara konsumsi listrik pada sektor pemerintah hanya tumbuh 1%.
Meski konsumsi listrik pada pelanggan rumah tangga meningkat, pertumbuhan konsumsi listrik pada pelanggan industri diperkirakan masih akan melambat. Bila kondisi pandemi berlanjut, pertumbuhan konsumsi listrik diproyeksikan akan tumbuh negatif hingga akhir tahun.
”PLN memproyeksikan ke depan bila pandemi masih berlanjut, mereka memprediksi pertumbuhan konsumsi listrik hingga Desember 2020 minus 6,25% dibandingkan 2019,” kata Rida.
Sementara itu, pertumbuhan konsumsi listrik pada Juni 2020 dibandingkan dengan Januari 2020 mengalami penurunan 7,06%. Penurunan konsumsi paling besar terjadi di wilayah Bali yang turun hingga 32,87%.
Diikuti oleh Banten -12,82%, Jawa Barat -10,57%, Sulawesi Selatan Tenggara -7,68%, Sumatra Barat -7,12 persen, Jawa Timur -6,33%, Jawa Tengah -6,28%, DKI Jakarta dan Tangerang -5,62%.(JIBI/Bisnis.com)