Layanan Mahasiswa Baru Total Daring

JOGJA—Seluruh calon mahasiswa dan mahasiswa baru di perguruan tinggi wilayah DIY tidak perlu datang ke kampus mulai dari pendaftaran, tes, masa orientasi, hingga perkuliahan.

Lugas Subarkah
redaksi@koransolo.co

Hal ini berkait dengan perpanjangan masa tanggap darurat Covid-19 di wilayah Provinsi DIY. Masa tanggap darurat Covid-19 ketiga yang ditetapkan Pemerintah Daerah DIY berakhir pada Jumat (31/7). Dinilai masih diperlukan, Pemda DIY memperpanjang lagi masa tanggap darurat hingga sebulan ke depan.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah V DIY, Didi Achjari, menjelaskan kampus-kampus perguruan tinggi di DIY melakukan penerimaan mahasiswa melalui situs jogjaversitas.id. “Hal ini memungkinkan calon mahasiswa mengikuti tes tanpa kehadiran fisik, sehingga tidak perlu datang ke Jogja dan berisiko [tertular] di jalan,” ujarnya, Kamis (30/7).
Sistem daring atau online juga dilakukan dalam kegiatan masa orientasi mahasiswa atau yang kerap disebut ospek yang akan dilaksanakan masing-masing kampus. Hal ini kata dia, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan baru pertama dilakukan. “Ospek tidak boleh fisik karena kuliah pun online,” katanya.
Karena tidak ada keharusan untuk datang ke kampus, maka ia mengatakan mahasiswa baru kemungkinan datang ke Jogja sangat kecil, kecuali bagi mereka yang memang ingin berlibur atau mengunjungi kerabat di Jogja.
Selain calon mahasiswa dan mahasiswa baru, perkuliahan online juga diterapkan pada mahasiswa lama sehingga mereka yang berada di kampung halaman tidak perlu Kembali ke Jogja. Meski demikian, untuk kegiatan yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan online, mahasiswa tetap harus datang dengan protokol kesehatan.
Ia mencontohkan kegiatan yang harus offline seperti praktikum, tugas akhir dan lainnya. Terkait mahasiswa yang harus datang ke kampus ini pihaknya tidak memiliki data jumlahnya karena merupakan otonomi setiap kampus untuk menentukan berapa jumlahnya.
Untuk pelaksanaan perkuliahan tatap muka kata dia, masih menunggu situasi Covid-19 DIY ke depan apakah akan membaik atau justru sebaliknya. Kesiapan setiap kampus juga dipertimbangkan mengingat fasillitas masing-masing kampus berbeda. “Apakah memungkinkan kelas yang biasanya berisi 40 mahasiswa, saat ini harus jaga jarak sehingga kapasitas dikurangi. Ini yang kami sampaikan ke kampus-kampus bisakah mengakomodasi hal ini? Kalau tidak jangan dipaksakan untuk saat ini,” ujarnya.
Terkait perpanjangan masa tanggap darurat, Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji, menjelaskan perpanjangan masa tanggap darurat ini sudah diputuskan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwana X. Sejumlah pertimbangan terkait keputusan ini diantaranya adalah status bencana nasional sampai hari ini belum dicabut oleh Presiden Joko Widodo. Kedua, melihat perkembangan kasus positif di DIY masih cenderung mengalami kenaikan. ”Beberapa penanganan lain masih diperlukan dalam status tanggap darurat, seperti untuk pemulihan ekonomi, bantuan sosial dan sebagainya. Termasuk penggunaana BTT [Belanja Tidak Terduga],” ungkapnya. Meski demikian untuk bantuan sosial pihaknya belum merencanakan untuk menyalurkan lagi karena pada penyaluran sebelumnya masyarakat terdampak telah tercakup dan diharapkan bisa digunakan untuk pemulihan ekonomi.
Pada sektor pariwisata, pada perpanjangan tanggap darurat nanti masih akan tetap dibuka dengan mekanisme uji coba seperti saat ini, dengan tetap menerapkan sejumlah pembatasan dan protokol kesehatan. (Harian Jogja/JIBI)