REVITALISASI PESANGGRAHAN LANGENHARJO Milik Keraton, Dibiayai Pencinta Budaya

SUKOHARJO—Pesanggrahan Langenharjo yang terletak di wilayah Langenharjo, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, menjadi salah satu tempat rekreasi bagi keluarga Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Pesanggrahan Langenharjo dianggap tempat sakral karena juga digunakan untuk meditasi Raja Keraton Solo. Kondisi pesanggrahan kini banyak terdapat kerusakan.
Belum tersentuh anggaran daerah, tempat cagar budaya itu direvitalisasi dari sumbangan pecinta budaya. Revitalisasi tersebut ditargetkan rampung dalam enam bulan ke depan.
Prosesi umbul doa dengan melibatkan puluhan abdi dalem, sentono dalem dan masyarakat pencinta budaya telah digelar pada Kamis (30/7). Doa bersama ini dilaksanakan agar proyek revitalisasi Pesanggrahan Langenharjo yang berada sekitar 50 meter dari bibir Sungai Bengawan Solo berjalan lancar.
Berbagai sesaji disiapkan dan didoakan oleh ulama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pengageng Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Sekar Kencono, yang merupakan putri PB XII sekaligus adik kandung PB XIII Hangabehi menjelaskan doa bersama dimulai dari pukul 10.00 WIB.
”Sudah kami gelar acara umbul donga atau doa bersama wiwitan revitalisasi tahap awal Pesanggrahan Langenharjo. Nanti rencananya revitalisasinya akan memakan waktu sekitar enam bulan,” kata Gusti Sekar.
Revitalisasi Pesanggrahan Langenharjo ini meliputi pembenahan pagar, penggantian sirap, usuk, reng, talang, serta kayu saka yang rapuh. Kemudian perbaikan tembok bangunan yang roboh karena termakan usia. Anggaran revitalisasi ini berasal dari masyarakat pecinta budaya.
Mereka memiliki tujuan melestarikan bangunan cagar budaya pada Pesanggrahan Langenharjo. Juru pelihara (jupel) petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng diperbantukan di Pesanggrahan Langenharjo, Parikesit S.R., menyampaikan akan melakukan pengawasan dalam proyek revitalisasi tersebut.
Hal ini dilakukan agar proyek revitalisasi tetap sesuai standar yang ditetapkan oleh BPCB. ”Kami lakukan pengawasan agar tidak merubah bentuk, warna, maupun letak dan sebagainya. Karena Pesanggrahan Langenharjo ini cagar budaya,” katanya.
GKR Sekar Kencono menceritakan pembangunan Pesanggrahan Langenharjo dimulai pada masa pemerintahan Paku Buwono IX (1861-1893), tepatnya pada tahun 1870 Masehi.
Pesanggrahan selesai dibangun pada era kepemimpinan Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939), yakni 15 Juli 1931. Data ini didapat dari keterangan yang tercantum di Pesanggrahan Langenharjo di mana di situ tertulis “PB X 15-7-1931”. ”Bangunan ini punya sejarah yang tinggi. Terutama bagi Keraton Surakarta dan masyarakat Solo sekitarnya,” kata dia kepada Koran Solo, Jumat (31/7).
Namun kondisi Pesanggrahan Langenharjo sangat memprihatikan. Beberapa lokasi mengalami kerusakan dan butuh perbaikan. Menurutnya, revitalisasi dibutuhkan secara menyeluruh terhadap kawasan Pesanggrahan Langenharjo. Sebab bangunan tersebut terakhir direvitalisasi 20 tahun silam. Saat ini kondisinya mangkrak dan banyak terdapat kerusakan.
Menilik sejarah, Pesanggrahan Langenharjo merupakan situs kawasan kerajaan yang dibangun sejak PB IX yang difungsikan sebagai kawasan rekreasi keluarga kerajaan Keraton Surakarta. Fungsi dari kawasan yang terletak di pinggiran Sungai Bengawan Solo itu juga didapatkan dari arti kata “langenharjo” yang dimaknai sebagai perasaan nyaman dan damai sementara “pesanggrahan” berarti tempat peristirahatan.
Lokasi ini menjadi tempat beristirahat PB IX setelah berenang mencari ikan di Sungai Bengawan Solo. Fungsi sebagai lokasi peristirahatan juga semakin lengkap dengan adanya sumber mata air panas yang terletak di belakang bangunan Pesanggrahan Langenharjo, yakni pemandian air hangat Langenharjo.
”Di tempat ini [Pesanggrahan Langenharjo] sering digunakan berbagai acara Keraton. Jadi di sini disebut juga sebagai Keraton mini,” katanya.
Sejarawan sekaligus Founder Solo Societeit, Heri Priyatmoko menjelaskan secara terminologi, sanggrahan atau pesanggrahan diartikan sebagai rumah di luar istana kerajaan untuk istirahat atau rekreasi raja maupun bangsawan.
Rumah penginapan kaum priyayi ini yang digunakan saat sedang berdinas di luar. Selain tempat beristirahat, pesanggrahan berfungsi pula sebagai tempat perlindungan, tempat berbagai aktivitas kerajaan serta mempunyai arti penting filosofis spiritual.
“Dalam Serat Jitna Hiswara, Paku Buwana IX dikisahkan sering berkunjung ke Pesanggarahan Langenharjo dan kungkum di tepi sungai untuk lelaku,” terangnya.
Tempo dulu, kata Heri, Pesanggarahan Langenharjo dipakai untuk bersantai dan menggelar pesta. PB X misalnya yang tersohor sebagai raja terbesar di Pulau Jawa mengunjungi Pesanggrahan untuk berlibur bersama permaisurinya. (Indah Septiyaning W.)