sukoharjo tambah 33 Kasus Baru covid-19, 2 Anak-Anak Wonogiri Diserbu Pemudik

WONOGIRI—Perantau asal Wonogiri yang pulang kampung melonjak sejak Minggu (26/7) lalu. Warga yang pulang tersebut adalah perantau yang tidak bisa mudik pada
Idulfitri lalu.

M. Aris Munandar
redaksi@koransolo.co

Kebanyakan pemudik bekerja di DKI Jakarta yang merupakan zona merah Covid-19. Sementara itu, kasus baru Covid-19 di Soloraya terus meningkat.
Penambahan terbanyak terjadi di Sukoharjo yakni 33 pasien, dua di antaranya anak-anak. Jumlah terbanyak kedua Boyolali dengan 14 kasus, Solo empat kasus, dan Sragen sebanyak dua kasus.
Berdasarkan data di Terminal Bus Tipe A Giri Adipura Wonogiri, peningkatan jumlah kedatangan penumpang dari Jabodetabek terjadi sejak Minggu (26/7).
Pada hari-hari sebelumnya, jumlah kedatangan penumpang hanya berkisar antara 600-800 penumpang. Pada Minggu jumlah penumpang 1.595 orang, Senin (27/7), sebanyak 1.129 orang, Selasa (28/7, sebanyak 988 orang, Rabu (29/7), sebanyak 1.596 orang, dan Kamis (30/7), sebanyak 1.648 orang.
Jumlah bus kedatangan yang beroperasi juga bertambah. Pada Rabu dan Kamis jumlah bus mencapai 90 lebih. Sebelumnya hanya sekitar 60-70 bus.
Kenaikan jumlah penumpang jelang Iduladha dibenarkan oleh Staf Operasional Perusahaan Otobus Haryanto wilayah Wonogiri, Heru Prasetyo, saat dihubungi, Jumat.
Pada Rabu-Kamis, menurut dia, dari lima bus yang diberangkatkan dari Jabodetabek, tiga bus membawa penumpang penuh. Sementara penumpang di dua bus lainnya hampir penuh.
”Biasanya penumpang sepi kalau dari Jabodetabek. Jelang lebaran ini ada peningkatan sekitar 25%. Ya lumayan,” kata dia saat dihubungi Koran Solo.
Menurut dia, mayoritas penumpang yang pulang pada Iduladha yakni perantau yang tidak pulang pada Idul Fitri beberapa waktu lalu.
Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, Jumat, mengatakan dua anak yang terinfeksi Covid masing-masing asal Kecamatan Bulu (berusia 8 tahun) dan Kecamatan Gatak (berusia 9 tahun).
Dengan kenaikan itu secara akumulasi kasus positif corona di Sukoharjo mencapai 274 kasus.  ”Mayoritas merupakan pengembangan dari hasil tracing pasien positif corona sebelumnya,” ungkapnya.
Yunia mengatakan penambahan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Sukoharjo sebanyak 33 kasus merupakan rekor tertinggi dalam sehari. Namun di sisi lain, kasus positif sembuh naik 18 dari sebelumnya 133 menjadi 151 kasus. Saat ini, kasus positif corona aktif di Sukoharjo menjadi 113 orang.
Berdasarkan update di website www.corona.sukoharjokab.go.id, kenaikan 33 kasus positif semuanya menjalani isolasi mandiri karena tanpa gejala, antara lain dari Kecamatan Bulu sebanyak 12 orang, disusul Tawangsari lima orang, Gatak tiga orang, Kartasura tiga orang, Weru tiga orang, dan Mojolaban satu orang.
”Ada dua anak-anak yang memang tertular dari orang tuanya atau kontak erat dengan keluarga positif Covid-19. Satu anak usia 8 tahun di Bulu dan satu anak lainnya usia 9 tahun di Gatak,” katanya.
Lebih lanjut Yunia memerinci kasus positif yang masih aktif 113 orang, terdiri dari 77 orang isolasi mandiri dan 36 orang menjalani rawat inap di rumah sakit. Sedangkan untuk suspect corona tetap 797 orang yang terdiri dari 52 isolasi mandiri, 36 rawat inap, 697 selesai pemantauan, 12 meninggal, dan 147 swab negatif.
Sebaran 113 kasus positif corona yang masih ada atau aktif tersebar di 12 kecamatan. Masing-masing Kecamatan Baki satu orang, Kecamatan Weru enam orang, Kecamatan Bulu 15 orang, Tawangsari sembilan orang, Sukoharjo 14 orang, Nguter tujuh orang, Bendosari enam orang.
Untuk Kecamatan Polokarto tiga orang, Mojolaban 13 orang, Grogol delapan orang, Gatak sembilan orang, dan Kecamatan Kartasura 22 orang.
Sementara itu, jumlah kasus positif Covid-19 di Boyolali bertambah 14 kasus dibandingkan dua hari sebelumnya. Seperti yang diunggah di akun Instagram pemkab_boyolali, pada Rabu (29/7), muncul tiga kasus positif Covid 19 tambahan.
Kemudian pada Kamis (30/7), kembali ada 11 tambahan kasus positif Covid 19 di Boyolali. Tambahan tersebut dimulai dari Desa Kayen (Juwangi), Desa Ngaren (Juwangi), Desa Bade (Klego), Desa Genengsari (Kemusu), Desa Mojo (Andong), Desa Cangkringan (Banyudono), Desa (Karanggede).
Lalu dari Desa Donohudan (Ngemplak), Desa Teras (Teras), Desa Kedungrejo (Kemusu), dan dari Desa Pelem (Simo).
Secara rinci dari Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali belum menyampaikan klaster penyebaran dari kasus-kasus yang baru muncul itu.
Namun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina, menyebutkan kasus-kasus yang baru muncul masih berkaitan dengan klaster-klaster yang ada sebelumnya. ”Hampir Semuanya ada kaitannya dengan kasus-kasus sebelumnya,” kata dia, Jumat.
Berdasarkan informasi yang diunggah di https://covid19.boyolali.go.id, saat ini total sudah ada 208 kasus positif Covid 19 di Boyolali. Dari jumlah itu, 73 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan yang masih dirawat 127 orang. Sementara delapan lainnya meninggal dunia.
Kota Solo menambah empat kasus baru, Jumat. Satu kasus disumbang dari tenaga kesehatan (nakes), tiga sisanya merupakan hasil pengembangan tracing kasus sebelumnya, serta warga yang menjalani uji swab mandiri dan hasilnya terkonfirmasi positif.
Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan, dua pasien berasal dari Kelurahan Banyuanyar dan dua lainnya masing-masing dari Kelurahan Joglo dan Kadipiro.
Artinya, seluruh tambahan berasal dari Kecamatan Banjarsari. “Kasus tambahan dulu banyak yang dari Jebres, kemudian sekarang Laweyan dan Banjarsari. Kasus aktif sekarang malah lebih banyak di Banjarsari,” kata dia, kepada Koran Solo, Jumat sore.
Tambahan empat pasien baru membuat kumulatif kasus konfirmasi Covid-19 di Solo mencapai 265, dengan kasus aktif 38 orang. Perincian 38 kasus aktif itu, meliputi masing-masing 3 pasien rawat inap di Kecamatan Serengan dan Pasar Kliwon, 5 pasien rawat inap dan 6 pasien karantina mandiri di Kecamatan Jebres, 9 pasien karantina mandiri dan 8 pasien rawat inap, serta 2 pasien rawat inap dan 2 pasien karantina mandiri di Kecamatan Laweyan.
“Dari angka-angka itu kami lebih menyoroti pasien rawat inap, karena biasanya berasal dari pasien suspect yang naik kelas menjadi kasus konfirmasi. Kalau yang karantina mandiri itu jamaknya asimtomatik atau tanpa gejala,” jelas Ahyani.
Menurutnya, jumlah kasus bisa terus bertambah mengingat Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo terus melacak kontak erat dan dekat kasus-kasus baru. Kumulatif kasus Covid-19 yang menyentuh 265, penjabarannya, 219 orang sembuh, 17 karantina mandiri, 21 dirawat inap dan 8 meninggal dunia.
Dari Sragen, dua pelaku perjalanan masing-masing dari Karanganyar dan Surabaya menambah daftar orang yang terkonfirmasi positif corona.
Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Sri Subekti, mengatakan tambahan dua warga yang terkonfirmasi positif corona tersebut adalah TBY, 34, pria asal Masaran yang baru pulang dari Karanganyar dan SM, 58, wanita asal Gondang yang baru pulang dari Surabaya.
“TBY pulang dari Karanganyar, kebetulan rekan sekantornya juga ada yang positif. Dia tanpa gelaja dan diisolasi di Technopark. SM sudah dirawat di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro sejak 25 Juli. Dia dirawat karena ada gejala [Covid-19],” papar Sri Subekti kepada Koran Solo. (Bayu Jatmiko Adi/Mariyana Ricky P.D./Moh. Khodiq Duhri/Indah Septiyaning W.)