Kades di Gemolong Positif Covid-19

Tri Rahayu

SRAGEN—Seorang kepala desa (kades) di Gemolong, Sragen berinisial S, berusia 57 tahun terkonfirmasi positif Covid-19. Kades tersebut kini dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo.
Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Sragen terus bertambah. Hingga Sabtu (1/8), kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah lima orang tetapi ada tiga orang yang sembuh. Jumlah kasus positif Covid-19 yang sebelumnya 88 kasus menjadi 93 kasus dan jumlah pasien sembuh dari 63 orang menjadi 66 orang.
Dari lima kasus baru itu, dua di antaranya meninggal dunia, yakni Ny. S, 65, warga Kalijambe yang meninggal di PKU Muhammadiyah Solo dan P, 47, warga Sukodono, yang meninggal saat dirawat di RS UNS Solo. Selain itu, ada seorang kepala desa di wilayah Kecamatan Gemolong berinisial S, 57, yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Kades tersebut dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Kemudian dua kasus baru lainnya AS, 32, warga Masaran yang bekerja di Samsat Karanganyar dan Ny. UZ, 46, warga Tanon yang diduga kontak erat dengan warga terkonfirmasi positif Covid-19.
Data lima kasus tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Hargiyanto, dan dibenarkan Kabid Pengedalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) DKK Sragen dr. Sri Subekti. Bekti, sapaan akrabnya, menjelaskan dua orang yang meninggal dunia itu sebelumnya statusnya suspek dan hasilnya baru keluar per Sabtu.
Dia mengungkapkan S, 65, warga Kalijambe itu meninggal di RS PKU Muhammadiyah Solo pada Jumat (31/7) lalu sedangkan P, 47, warga Sukodono itu meninggal di RS UNS Solo pada Sabtu (1/8). Bekti tak mengetahui kapan mereka masuk rumah sakit.
“Selain lima kasus positif juga ada tiga orang sembuh, yakni PS, 52, warga Gemolong, dan CHJ, 14, anak-anak asal gemolong. Mereka sebelumnya diisolasi mandiri di Technopark Sragen. Kemudian ada satu orang lagi yang sembuh, yakni MSF, warga Tanon, yang sebelumnya dirawat di RSUD dr. Moewardi Solo,” katanya saat dihubungi Espos, Sabtu siang.
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat ditemui wartawan di Masaran, Sragen, Sabtu siang, mengaku juga mendapatkan laporan dari DKK. Yuni, sapaan akrabnya, menyampaikan ada tambahan lima kasus baru, dua di antaranya meninggal dunia, dua asimptomatik dirawat di Technopark Sragen, dan satu orang kepala desa yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo.
“Padahal kepala desa ini sudah ikut rakor dengan kepala desa lainnya dan sekretaris camat. Dua orang asimptomatik itu AS yang bekerja di Samsat Karanganyar dan UZ yang kontak erat dengan terkonfirmasi positif asal Tanon.”
Yuni tak habis pikir dengan perilaku masyarakat yang seolah apriori terhadap Covid-19. Dia mengatakan saat awal-awal muncul kasus baru reaksi masyarakat luar biasa, seperti gerakan penyemprotan disinfektan, pemakaian masker, dan seterusnya.
“Sekarang ada penambahan lima kasus, tujuh kasus, bahkan kasus meninggal dunia sampai hari ini menjadi dari tiga kasus menjadi lima kasus. Namun, reaksi masyarakat biasa-biasa saja, tenang-tenang saja, penyemprotan disinfektan tidak ada. Sekarang tidak ada yang obah,” katanya.
9 Kasus Baru
Di Boyolali sepanjang Sabtu, muncul sembilan kasus tambahan. Satu di antaranya meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang diunggah di https://covid19.boyolali.go.id, yang diperbarui per 31 Juli 2020, total jumlah kasus positif di Boyolali sudah mencapai 217 orang. Dari jumlah itu sembilan di antaranya meninggal dunia dan 73 orang dinyatakan sembuh.
Dengan begitu masih ada 135 orang yang masih dalam perawatan. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya, di mana pada Kamis (31/8), tercatat total kasus positif Covid 19 di Boyolali sebanyak 208 orang. Dari jumlah itu delapan di antaranya meninggal dunia dan 73 orang dinyatakan sembuh.
Untuk sembilan kasus tambahan, disebutkan data rincinya di akun Instagram @pemkab_boyolali. Kasus tambahan pertama adalah kasus 209 (HST) dari Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari. Disebutkan jika pasien kasus 209 saat ini sudah meninggal dunia.
Kemudian kasus 210 (HDT) dari Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo. Sedangkan kasus 211 (SGW) dan kasus 212 (RDA) keduanya dari Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali. Selanjutnya ada kasua 213 (ICS) dari Desa Pelem, Kecamatan Simo. Kasus 214 (IWJ) dari Desa Bakulan, Kecamatan Cepogo. Kasus 215 (MYN) dari Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo. Kasus 216 (GUT) dari Desa Trayu, Kecamatan Banyudono. Kemudian kasus 217 (DLM) dari Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S. Survivalina, membenarkan adanya penambahan kasus tersebut. ”Iya, ada tambahan lagi dan satu di antaranya meninggal dunia,” kata dia kepada Espos, Sabtu (1/8). Dia juga mengatakan dari tambahan tersebut hampir semuanya memiliki keterkaitan dengan kasus-kasus sebelumnya.
Di Sukoharjo, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo mencatat penambahan pasien positif corona. Kali ini, ada tambahan 10 pasien positif corona sehingga jumlah akumulasi pasien positif sebanyak 284 orang.
Informasi yang dihimpun Espos, Sabtu, laju persebaran pandemi Covid-19 makin masif. Beberapa hari lalu, jumlah pasien positif tambahan mencatat rekor terbanyak yakni 33 orang. Kini, jumlah pasien positif corona kembali bertambah 10 orang.
Jumlah pasien positif tanpa gejala yakni 180 orang. Sedangkan pasien positif dengan gejala mencapai 104 orang. ”Ada penambahan 10 pasien positif per 1 Agustus. Sebagian pasien positif baru merupakan hasil pelacakan atau tracing pasien positif lama,” kata Juru Bicara Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, Sabtu malam.
Pasien positif tanpa gejala menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Jumlah pasien positif tanpa gejala yang menjalani isolasi mandiri sebanyak 76 orang. Sedangkan pasien positif dengan gejala yang menjalani isolasi mandiri hanya satu orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo ini menyampailan Sukoharjo masih berstatus daerah dengan tingkat risiko sedang atau zona orange kendati terjadi lonjakan pasien positif. (Bony Eko Wicaksono/Bayu Jatmiko A)