Sumber Penularan Covid-19 di Ponpes Sempon Belum Jelas

Rudi Hartono

WONOGIRI—Virus corona jenis baru atau Covid-19 yang menginfeksi pengasuh Pondok Pesantren Al Amanah, Sempon, Jatisrono, Wonogiri, K.H. Saefudin Arifin Al Khafidz, hingga kini belum dapat dipastikan dibawa siapa dan berasal dari mana.
Hal itu karena banyak kemungkinan. Meski lelaki yang akrab disapa Arifin itu merasa tidak sehat setelah dari Demak, tetapi dinilai belum tentu dia tertular dari carrier atau pembawa virus dari daerah tersebut.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Seperti diketahui, Ustaz Arifin sudah dinyatakan sembuh setelah dua kali hasil tes swab berturut-turut dinyatakan negatif. Dia dibawa pulang ke kediamannya di kompleks pondok pesantren atau ponpes, Kamis (30/7) sore lalu.
Ketua Yayasan Al Amanah Wonogiri, Mubarok, kepada Espos, Sabtu (1/8), menginformasikan Ustaz Arifin pergi ke Demak untuk bersilaturahmi dengan keluarganya selama dua hari.
Saat perjalanan menuju, saat, dan perjalanan pulang dia tak mampir ke lokasi lain. Saat diketahui terkonfirmasi positif Covid-19, keluarga Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdatul Ulama atau PCNU Wonogiri itu semuanya negatif atau tak terinfeksi.
“Beliau [Ustaz Saefudin Arifin] mengeluhkan sakit memang beberapa hari setelah dari Demak. Namun, faktanya keluarganya di Demak negatif semua. Beliau sendiri yang menginformasikan kepada saya,” kata Mubarok yang juga Ketua PCNU Wonogiri tersebut saat dihubungi.
Dia melanjutkan sebelum ke Demak, Ustaz Arifin menerima tamu dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mubarok menilai hal itu tak bisa dihindari karena Ustaz Arifin sebagai pengasuh ponpes dan juga tokoh NU Wonogiri. Pada posisi itu dia tak bisa menolak orang datang bersilaturahmi. Pada sisi lain di kalangan NU, berjabat tangan, mencium tangan, dan berpelukan sebagai tanda penghormatan sudah menjadi tradisi.
“Selain itu banyak orang dari berbagai daerah yang salat di masjid pondok. Masjid itu memang untuk umum, letaknya di tepi jalan. Tak jarang rombongan dari berbagai daerah mampir untuk salat di masjid,” imbuh Mubarok.
Atas kondisi tersebut, menurut dia belum bisa dipastikan Ustaz Arifin terinfeksi Covid-19 dari seseorang saat berada di Demak, meski Demak pernah menjadi zona merah Covid-19. Pasalnya, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Terlebih, ada banyak orang yang pernah bertemu dengan Ustaz Arifin sebelum ke Demak.
Mubarok meminta masyarakat tak perlu merespons berlebihan atas situasi yang terjadi di Ponpes Al Amanah. Warga sekitar ponpes tak perlu menutup akses jalan atau gang agar mobilisasi warga lancar. Dia memastikan pengasuh, pengurus, dan santri ponpes tidak akan keluar kompleks selama kondisi belum memungkinkan. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pun selalu mengawasi. Mubarok meyakini penularan Covid-19 dapat dicegah dengan menerapkan protokol yang tepat tanpa harus menutup akses jalan.
“Alhamdulillah sekarang jalan-jalan kampung dekat pondok sudah tak diportal lagi,” ujar Mubarok.
Dia menambahkan situasi dalam Ponpes Al Amanah tak semencekam yang dibayangkan. Warga ponpes yang diisolasi karena terkonfirmasi positif Covid-19 tetap bisa beraktivitas di luar ruangan dengan mengenakan masker, terutama berolahraga. Mereka melakoninya hanya di kompleks yang dijadikan tempat isolasi. Mereka bergembira ria saat beraktivitas di luar ruangan. Untuk menunjukkan semua baik-baik saja, pihak ponpes memvideo aktivitas para santri yang terkonfirmasi positif. Video diunggah di beberapa channel Youtube, seperti Mubarok Tri dan endri endjer.
“Jadi tidak seseram yang dibayangkan orang. Semua yang terkonfirmasi positif baik-baik saja, sehat. Mereka diisolasi di ruangan tertentu secara terpisah. Misalnya di ruang kelas dan di rumah dalam kompleks pondok yang terpisah dengan kediaman Ustaz Arifin. Beliau dan keluarganya sekarang sudah sembuh,” ulas Mubarok.
Peristiwa yang dihadapi membuat pihak Ponpes Al Amanah kini lebih waspada. Mereka sementara ini tak menjalankan tradisi cium tangan, berjabat tangan, dan penanda hormat sejenisnya terlebih dahulu. Meski berat lantaran sudah menjadi bagian tak terpisahkan, tetapi seluruh warga ponpes bisa memahami. Langkah tersebut perlu dilakukan untuk memutus rantai penularan Covid-19.
“Warga pondok, termasuk pengasuh, pengajar, dan santri jumlahnya 30-an orang. Sudah cukup banyak yang sembuh,” kata dia.