ARSENAL JUARA PIALA FA Terima Kasih Guardiola

LONDON—Tak salah Arsenal menunjuk Mikel Arteta sebagai pelatih baru menggantikan Unai Emery pada Desember 2019.

Chrisna Chanis Cara
redaksi@koransolo.co

Meski awalnya seperti perjudian lantaran Arsenal adalah klub pertama yang dilatih Arteta sebagai pelatih kepala, keputusan berani itu terbukti jitu. Arteta hanya butuh delapan bulan untuk mempersembahkan trofi pertamanya bagi The Gunners.
Arteta mampu mempertahankan predikat Arsenal sebagai penguasa Piala FA setelah sukses menghantam Chelsea dengan skor 2-1 dalam final yang digelar di Wembley, Minggu (2/8) dini hari WIB. Sempat tertinggal lewat gol cepat Christian Pulisic di menit kelima, Arsenal akhirnya menyegel gelar setelah Pierre Emerick Aubameyang membalas dengan dua golnya di masing-masing babak. Itu menjadi gelar Piala FA ke-14 Arsenal sepanjang sejarah, terbanyak di Inggris, unggul dua gelar dari Manchester United di posisi kedua.
Trofi tersebut sekaligus mengantar Arsenal lolos ke Liga Europa, sesuatu yang tak biasa diraih via liga mengingat mereka hanya finis di posisi kedelapan klasemen akhir Liga Premier. Dilansir Opta, Arteta menjadi manajer Arsenal pertama yang mendatangkan trofi buat klub di tahun pertama menjadi juru taktik selama 33 tahun terakhir. Dia menyamai prestasi yang sebelumnya diraih manajer legendaris Arsenal, George Graham, pada musim 1986/1987.
Tak hanya itu, Arteta tercatat sebagai orang pertama yang mampu mengangkat Piala FA dengan berstatus kapten tim dan manajer. Sewaktu masih aktif bermain, dia pernah memimpin klub asal London itu menjadi kampiun pada 2015.
Arteta memilih merendah dengan prestasi perdananya sebagai pelatih kepala. Manajer berusia 38 tahun itu justru menunjuk Josep “Pep” Guardiola sebagai sosok yang membuatnya banyak berkembang sebagai juru taktik.
Arteta sempat mendampingi Pep selama tiga tahun di Manchester City sebagai asisten pelatih. “Saya tidak akan ada di sini hari ini tanpa dirinya. Saya harus berterima kasih banyak padanya,” ujar Arteta dilansir Omnisport, Minggu.
Sementara itu, kekecewaan menyelimuti Chelsea setelah gagal memanfaatkan Piala FA sebagai obat pelipur lara musim ini. Kekalahan ini kian menyakitkan lantaran The Blues sudah keok tiga kali dari 10 final Piala FA terakhir, semuanya terjadi melawan Arsenal.
Satu-satunya kesempatan tersisa musim ini ada di Liga Champions, yang harus diakui sulit kalau tak bisa dibilang mustahil. Sebab Chelsea menatap leg kedua babak 16 besar dalam posisi tertinggal 0-3 dari Bayern Munich.
“Hari ini seharusnya bisa jadi penutup yang lebih manis, tapi ternyata tidak terjadi. Tentu saja kami kecewa. Namun, sepanjang musim, apa yang sudah kami raih sampai ke titik yang kami capai di liga, itu adalah nilai plus besar buat kami,” ujar Pelatih Chelsea, Frank Lampard, dilansir chelseafc.com. (JIBI)