DI TENGAH MENURUNNYA DAYA BELI AKIBAT PANDEMI Nabung dari Sekarang Jika Tahun Depan Ingin Tetap Berkurban

Penjualan hewan kurban saat menjelang Iduladha tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu pula jumlah hewan kurban di beberapa tempat juga berkurang dibanding tahun lalu. Kondisi ini tentu berkaitan dengan situasi pandemi yang secara ekonomi mengurangi kemampuan daya beli masyarakat.
Berkurban menjadi ritual keagamaan setiap Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjal. Bagi yang tahun ini belum sempat berkurban atau sudah tapi merasa kantongnya terkuras, sebaiknya mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi.
Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menjelaskan sebaiknya dana yang kita kucurkan untuk berkurban disisihkan setahun sebelumnya.
”Jadi sebaiknya, supaya tahun depan enggak terjadi lagi [bokek setelah berkurban] setiap ada penghasilan harus sudah mulai disisihkan,” kata dia, Minggu (2/8).
Uang yang disisihkan pun tidak perlu terlalu banyak, cukup mengalokasikan dana 10% dari total penghasilan bulanan.
”Jadi itu kan seharusnya dari setiap penghasilan ada bagian untuk sosial agama kan. Itu sekitar 10% dari penghasilan setiap bulan. Nah jadi seharusnya dari penghasilan dia katakan misalnya penghasilannya Rp7 juta maka Rp700.000 setiap bulan harus dia simpan tuh,” sebutnya.
Dengan perencanaan seperti itu, kita bisa berpartisipasi untuk berkurban tanpa mengorbankan keuangan.
”Nah sehingga kalau pas terjadi ataupun ada kurban seperti sekarang ya angka yang terkumpul tadi gunakan seberapapun yang dia punya. Jadi harusnya enggak ada alasan bahwa dia bilang gara-gara kurban dia enggak punya duit, itu salah,” tambahnya.
Jika kondisi tersebut dialami seseorang setelah menggunakan uangnya untuk membeli hewan kurban maka ada yang keliru dari pengelolaan keuangannya.
Dia menjelaskan berkurban dilakukan bukan dengan memaksakan diri. Jadi ketika kita memutuskan untuk berpartisipasi dalam ritual keagamaan tersebut seharusnya sudah mempersiapkan dananya sejak dini.
”Karena itu harusnya sudah kewajiban di awal seharusnya,” sebutnya.
Selain itu pahami betul kemampuan diri sendiri, jika hanya sanggup berkurban kambing jangan memaksakan diri dengan membeli sapi.
”Ya kalau memang bisanya kambing ya kambing, kalau bisa sapi ya bagus. Tapi kalau misalnya bisanya kambing terus maksain sapi, sudah begitu berharap akan diganti oleh Yang di Atas (Tuhan) ya menurut saya itu namanya dia hitung-hitungan. Bukan kurban namanya,” jelasnya.
Oleh karena itu dipastikan betul kemampuan anggaran yang dimiliki saat akan ikut berkurban agar kantong tidak cekak kemudian.
”Jadi ketika bicara kurbanm, bagian dari yang kita siapkan untuk kurban kita sisihkan dari penghasilan, dari apa yang sudah kita dapatkan,” tambah Eko. (Detik)