Pesan dari Jembatan Balong

M. Aris Munandar

WONOGIRI—Jembatan Balong yang terletak di Dusun Sukosari, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, berubah menjadi sangat indah setelah dihias dengan seni mural tiga dimensi (3D) oleh karangtaruna setempat.
Jembatan Balong merupakan jembatan peninggalan Pemerintah Belanda. Permukaan jembatan terbuat dari kayu yang di bawahnya terdapat beberapa besi. Di bawahnya mengalir aliran Sungai Wiroko yang tembus ke perairan Waduk Gajah Mungkur.
Kreator mural 3D sekaligus anggota Karangtaruna Sukosari, Hengky Setiyawan, mengatakan tujuan jembatan tersebut dihias untuk merawat dan menambah keindahan jembatan. Selain itu agar jembatan bersejarah tersebut terlihat bersih.
Pengerjaan menghias jembatan, menurut dia, dimulai sejak Rabu (29/7). Awalnya kegiatan diawali dengan menambahkan beberapa kayu di jembatan yang sudah bolong atau hilang. Mural dibuat konsep 3D bertujuan agar warga tertarik mengunjungi jembatan tersebut dan bisa berswafoto.
”Kondisi pandemi ini mungkin warga butuh refreshing untuk melepaskan penat. Buktinya kami belum selesai mengerjakan warga sudah pada ke sini,” kata dia saat ditemui Koran Solo di jembatan Balong, Minggu (2/8).
Ia menambahkan, warga tidak hanya bisa berswafoto dan menikmati keindahan alam sekitar. Tetapi juga bisa belajar sejarah jembatan tersebut.
Warga bisa berswafoto dengan kondisi bagus saat sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB. Di balik kegiatan menghias jembatan ada pesan yang ingin disampaikan Karangtaruna Sukosari kepada masyarakat dan pemerintah.
Orang yang melintas jembatan tersebut mengira keadaan dan kontruksinya masih bagus dan kokoh. Namun, jika diperhatikan secara detail kondisinya sudah banyak yang rusak.
Saat Koran Solo diajak memperhatikan dari samping jembatan, jika ada mobil melewati jalur tersebut jembatan bergoyang.
”Sebelum terlambat, daripada terjadi insiden dan nantinya sepeda motor saja tidak bisa lewat, maka kami berharap agar mobilitas dikurangi. Selain itu jika jembatan ambles, nilai sejarahnya berkurang,” ungkap dia.
Dulu warga pernah membuat portal namun menuai banyak kritikan. Jika portal yang membuat pemerintah, kata dia, tidak akan ada protes dan semua mentaati.
Ia mengatakan,  karangtaruna berharap frekuensi atau mobilitas kendaraan yang melintas di jembatan tersebut bisa berkurang. Bahkan truk atau kendaraan bermuatan berat dilarang melintas.
Menurut sesepuh Dusun Sukosari, Cokro Salino, jembatan itu dibangun dari 1917-1919. Hingga saat ini sudah tiga kali direnovasi. Jembatan sebagai jalan alternatif untuk menghubungkan wilayah Kecamatan Batuwarno dengan Kecamatan Tirtomoyo.