LANSIA DI SOLO MENINGGAL TERPAPAR CORONA Warga Masa Bodoh dengan Covid-19

SRAGEN—Masyarakat kini banyak yang acuh tak acuh dengan perkembangan Covid-19. Kondisi ini membahayakan karena membuat persebaran virus tersebut sulit dikendalikan.
Ponco Suseno
redaksi@koransolo.co

Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Tatag Prabawanto, mengatakan dulu saat awal muncul kasus Covid-19, pemerintah langsung menetapkan KLB dan warga sigap melakukan penyemprotan disinfektan dan antisipasi lainnya.
Kini, dengan penambahan 5-7 kasus terkonfirmasi positif per hari, masyarakat seolah tidak merespons seperti awal pandemi. “Masyarakat bersikap mbuh yak atau acuh tak acuh. Mereka merespons keadaan wabah Covid-19 yang meledak justru dengan sikap biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Kondisi seperti ini harusnya dipikirkan para petinggi negeri ini. Jadi ramai di awal tetapi di belakangnya dianggap lumrah,” ujar Tatag Prabawanto saat ditemui wartawan, Rabu (5/8).

Tatag menilai situasi masyarakat yang masa bodoh itu kemungkinan disebabkan adanya kebijakan new normal (adaptasi kebiasaan baru) sehingga hanya mengandalkan masyarakat mentaati protokol kesehatan. Pada praktiknya, Tatak, melihat kesadaran masyarakat untuk mentaati protokol kesehatan masih rendah.
Dia menyebut buktinya masih banyak yang nongkrong tanpa jaga jarak, masih banyak warga yang terjaring operasi pemakaian masker, dan seterusnya.
“Di sisi lain, satuan tugas Covid-19 di tingkat desa juga tidak segiat pada awal-awal munculnya Covid-19. Saya tidak mendengar lagi ada kegiatan penyemprotan disinfektan di tingkat desa. Dulu ada bantuan program Jogo Tonggo dari Provinsi Jawa Tengah tetapi pada praktiknya di lapangan juga masih belum maksimal,” ujar Sekda.
Dia mengatakan Pemkab Sragen praktis hanya bisa mengejar angka positive rate di angka 5% dengan memperbanyak swab test yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK). Dia mengatakan semakin banyak warga hasil tracing yang menjalani swab test memang berisiko munculnya tambahan kasus positif baru tetapi juga mendorong angka positive rate mendekati angka 5%.
Sekda melihat ada peningkatan jumlah pelaku perjalanan (PP) yang mencapai 500 orang. Pergerakan PP ini sulit terdeteksi karena kewaspadaan di tingkat desa juga berkurang. Dia mengatakan Satgas desa selama ini hanya mengantisipasi bila ada warganya yang reaktif.
Sementara itu, seorang pria lanjut usia (lansia) berumur 61 tahun asal Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari meninggal dunia akibat Covid-19, Senin (3/8) kemarin. Pasien mengembuskan napas terakhir saat masih berstatus pasien suspect.
Setelah hasil uji swab keluar pada Rabu (5/8), statusnya naik menjadi pasien positif Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan lansia tersebut memiliki penyakit penyerta (komorbid) karena usia.
Dia hanya sempat dirawat satu hari di rumah sakit (RS). “Kondisi umum saat ke rumah sakit tidak begitu baik. Spesimen hanya sempat diambil satu kali karena keesokan harinya sudah meninggal dunia. Pemakaman menggunakan standar Covid-19. Hasil uji swab menunjukkan dia sudah terinfeksi virus SARS CoV-2. Kami akan melakukan tracing kontak pasien ini,” kata dia, kepada Koran Solo, Rabu.
Ning, sapaan akrabnya, mengatakan lansia tersebut menjadi pasien ke-10 yang meninggal dunia akibat Covid-19 yang tercatat di Kota Bengawan. Kesepuluh pasien meninggal itu perincian domisilinya masing-masing seorang dari Kelurahan Semanggi, Manahan, Mangkubumen, dan Kadipiro. Kemudian, masing-masing dua orang dari Jebres, Mojosongo, dan Banyuanyar.
Banjarsari Tertinggi
“Kecamatan Laweyan dan Serengan belum mencatatkan kematian akibat Covid-19. Namun, di Laweyan kasusnya mulai naik sejak beberapa pekan terakhir, menyusul Banjarsari. Sebelumnya kasus didominasi di Jebres, kemudian geser ke Banjarsari. Kasus awal-awal dulu malah di Pasar Kliwon, namun cenderung terkendali,” bebernya.
Jika dirinci dari kecamatan, jumlah kasus tertinggi terjadi di Jebres dengan akumulatif 120 kasus, disusul Banjarsari sebanyak 74 kasus, Laweyan 60 kasus, Serengan 21 kasus, dan Pasar Kliwon 14 kasus. Sehingga, data kumulatif sejak 13 Maret hingga Rabu ini mencapai 289 kasus, perinciannya, 242 pulang/sembuh, 26 pasien menjalani karantina mandiri, 11 dirawat inap, dan 10 meninggal dunia.
“Kasus aktifnya tersisa 37 orang, selagi kami menunggu hasil uji swab hasil tracing maupun pasien suspek yang belum keluar,” ucap Ning.
Sementara di Sragen, kasus positif bertambah satu orang tetapi pasien sembuh enam orang. Seorang warga asal Sragen Kota, AGP, 28, yang juga pelaku perjalanan (PP) Semarang, dinyatakan sembuh dari Covid-19, Rabu (5/8) sore, setelah sepekan diisolasi mandiri di Technopark Sragen.
Namun, istrinya AGP, yakni SW, 33, seorang tenaga kesehatan (nakes) asal Sragen dinyatakan positif Covid-19 lantaran diduga tertular dari suaminya.
Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Sri Subekti, saat dihubungi, Rabu petang, mengatakan selain SGP, ada lima pasien asimtomatik lainnya yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Dua di antaranya bapak dan anak yang berasal dari klaster Pasar Geyer, Grobogan, yakni M, 42, dan RTY, 16, yang keduanya berasal dari Gemolong.
Bekti melanjutkan tiga lainnya terdiri atas AB, warga Tanon yang juga PP Manokwari Papua; VDN, 12, warga Tanon yang sempat kontak erat dengan K (pasien Covid-19 yang meninggal dunia); dan TBY, 34, seorang polisi asal Masaran yang bekerja di Kantor Samsat Karanganyar.
“Pedagang Pasar Geyer M ini masuk pada Minggu (19/7) lalu dan menjalani karantina selama 17 hari baru dinyatakan sembuh. Anaknya RTY hanya cukup 10 hari diisolasi langsung sembuh. Istri M, yakni PS, lebih awal sembuh dan pulang pada Sabtu (1/8) lalu. AB cukup lama, yakni 18 hari berjuang melawan Covid-19 dan akhirnya sembuh. VDN lebih cepat sembuh, yakni dalam waktu enam hari, dan TBY paling cepat sembuh dengan waktu lima hari,” jelasnya.
Dari Klaten, ER, 37, warga Kecamatan Prambanan terpapar virus corona. Sementara tiga pasien dinyatakan sembuh dari virus tersebut.
“ER dimungkinkan terpapar virus corona dari kasus yang sudah terkonfirmasi Covid-19 di waktu sebelumnya. Saat ini, ER menjalani isolasi di Rumah Isolasi Sehat Covid-19 Edotel Klaten,” kata Jubir Gusgas PP Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo. (Mariyana Ricky P.D./Tri Rahayu)