Penyaluran Kredit Meningkat Selama Pandemi

Farida Trisnaningtyas

SOLO—Penyaluran kredit pada Industri Jasa Keuangan (IJK) Soloraya tumbuh positif meski wabah pandemi Covid-19 belum rampung sehingga berpengaruh pada perlambatan perekonomian. Pada Juni 2020 ada kenaikan kredit sebesar 2,86%.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Yunianto, mengatakan angka penyaluran kredit pada perbankan umum tumbuh positif meski kecil sebesar 2,86% secara year on year (yoy) jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.
“Penyaluran kredit perbankan umum kepada para debitur per Juni 2020 sebesar Rp81,8 triliun atau naik jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp79,55 triliun,” ujarnya saat ditemui wartawan, Rabu (5/8).
Eko menjelaskan sebelumnya kredit bank umum (konvensional maupun syariah) ini juga tumbuh positif pada Mei 2020, yakni sebesar 3,85%.
Pada bulan tersebut per­tumbuhan kredit bank umum di Soloraya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Jawa Tengah sebesar 2,8% yoy.
Tak hanya kredit yang tumbuh, tetapi dari sisi dana pihak ketiga (DPK) juga naik. Bahkan kenaikan DPK ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan yang terjadi pada kredit pada Juni 2020. DPK per Juni 2020 tumbuh sebesar 6,51%, yakni senilai Rp75,27 triliun. Kenaikan DPK ini juga terjadi pada Mei 2020 yang tumbuh positif 5,57% yoy.
Di sisi lain, dari sisi non performing loan (NPL) atau kredit macet masih tinggi di angka 10,58%. NPL yang dimaksudkan adalah kategori kualitas kredit kurang lancar, diragukan, dan macet. Sebelumnya, pada Mei 2020 angka NPL ini sebesar 10,54%. Sebagai catatan, angka NPL sebelum adanya pandemi Covid-19 pada Desember 2019 mencapai 9,08%, sementara jika dibandingkan Juni 2019 NPL masih di angka 2,27%.
“Angka NPL ini masih tinggi sebagai dampak dari macetnya kredit satu industri besar di Soloraya. Sebenarnya debiturnya hanya satu, tapi angkanya besar dan berdampak pada NPL keseluruhan. Persentasenya masih tinggi karena debitur tersebut masih kesulitan keuangan. Perbankan terkait juga telah menempuh berbagai upaya agar debitur bisa Kembali lancar,” paparnya.
Sementara itu, berdasarkan sektor penyaluran kredit  yang mendominasi adalah industri pengolahan, diikuti perdagangan besar dan eceran, serta rumah tangga. Kredit pada industri pengolahan ini mencapai Rp24,29 triliun, disusul perdagangan besar dan eceran Rp23,5 triliun, dan kredit sektor rumah tangga dengan outstanding kredit Rp11,23 triliun.
Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bambang Pramono, mengatakan wabah pandemi Covid-19 berdampak pada sistem keuangan nasional. Salah satunya tercermin dari tingginya angka kredit macet atau NPL.
“BI pun melakukan mitigasi dampak Covid-19. Antara lain, penurunan suku bunga BI7DRR, stabilisasi nilai rupiah, pasar uang dan valas, pelonggaran likuiditas, makroprudensial, dan sistem pembayaran,” jelasnya.
Sementara itu, OJK mencatat restrukturisasi kredit perbankan di Jateng hingga 22 Juli mencapai Rp56,64 triliun dari 1,13 juta debitur atau sekitar 93,74% dari nasabah yang terdampak pandemi Covid-19.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, mengatakan nilai tersebut sebagaian besar berasal dari restrukturisasi kredit UMKM yang mencapai Rp49.93 triliun yang berasal dari 1,11 juta debitur, atau 98,39% total debitur yang direstrukturisasi.
“Sementara untuk perusahaan pembiayaan, secara nasional per 28 Juli restrukturisasi yang telah dilakukan mencapai Rp151,01 triliun dari 4 jutaan debitur. Sedangkan di Jateng per 22 Juli tercatat 95 perusahaan pembiayaan telah melakukan restrukturisasi pinjaman. Restrukturisasinya mencapai Rp12,91 triliun dari 400.180 debitur,” jelas Wimboh saat menggelar kunjungan di Kota Semarang, Jateng, Rabu. (Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com)