KLATEN TAMBAH 5 KASUS BARU Covid Jakarta Gila-Gilaan

JAKARTA—DKI Jakarta menjadi provinsi tertinggi penyumbang kasus corona di Tanah Air. Per Minggu (9/8), di DKI Jakarta ada tambahan 440 kasus, sehingga total menjadi 25.727 kasus.

redaksi@koransolo.co

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan angka itu membuat posisi DKI Jakarta menyalip Jawa Timur sebagai provinsi paling banyak menyumbang kasus Corona di Indonesia. Sementara Jawa Timur secara total ada 25.330 kasus.
”Lihat dari kasus tertinggi secara nasional ini lima provinsi yang selalu berada di atas dan kebetulan mulai hari ini [kemarin] sepertinya DKI Jakarta yang dulunya nomor dua, sekarang menjadi nomor satu,” kata Wiku dalam webinar yang disiarkan di YouTube BNPB, Minggu (9/8).
Wiku menerangkan salah satu faktor penyebab DKI Jakarta menduduki posisi atas penyumbang kasus corona yakni karena dua faktor.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Wiku mengatakan pemerintah saat ini menargetkan untuk bisa menekan kasus corona di lima provinsi antara lain DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat.
”Kita lihat memang jumlah kasus di Jakarta meningkat pesat di beberapa hari terakhir dan ini kaitannya dengan kontak tracing yang dijalankan dengan lebih baik. Dari sisi kematian relatif sudah rendah,” jelas Wiku.
Seperti diketahui update kasus corona di RI per hari ini adalah akumulasi kasus terkonfirmasi positif sebanyak 125.396, lalu kasus sembuh 80.952, dan kasus meninggal dunia ada 5.723.
”Kalau kita lihat perbandingan antara jumlah kasus, kesembuhan dan kematian, angka kesembuhan dan kasus positif relatif hampir sama jumlahnya dan ini menujukan kondisi yang bagus dan relatif meningkat,” kata Wiku.
Sementara itu sebanyak 51 daerah di Indonesia belum terinfeksi Covid-19. Daerah yang tak memiliki kasus corona dan daerah yang belum terdampak termasuk dalam kategori daerah zona hijau.
”Kita lihat warnanya sebenarnya yang hijau 51 dan 35. Artinya di sini yang 51 kabupaten/kota ini tidak ada kasus baru, ini dulunya sudah pernah, ini berarti tidak… ini adalah sesuatu yang berpindah entah merah, oranye atau kuning sehingga dan akhirnya selama empat pekan terakhir tidak kasus baru dan semuanya sembuh,” kata Wiku.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo melanjutkan pelacakan di lingkungan Kantor Inspektorat menyusul kasus enam pegawai yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Kasus pertama di lingkungan perkantoran tersebut diketahui setelah seorang pegawainya dinyatakan positif pada pekan lalu. Pelacakan menyasar rekan kerja sekantor dan didapati lima pegawai lain terinfeksi virus SARS CoV-2.
Rantai pelacakan berlanjut ke rekan kerja atau kontak dari lima pegawai tersebut. “Iya, lanjut terus. Seperti yang saya sampaikan beberapa waktu lalu, penyakit ini seperti MLM [multi level marketing]. Kaki-kakinya bisa panjang. Saya harap mereka yang bekerja dari rumah saat kantor tutup sementara itu, ya betul-betul tidak ke mana-mana guna memutus rantai persebaran. Utamanya yang sudah melakoni uji swab,” ujar Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, saat dihubungi Koran Solo, Minggu (9/7).
Selain di lingkungan Kantor Inspektorat, pihaknya juga melanjutkan pelacakan di Dinas Pendidikan menyusul satu pegawai di dinas tersebut dinyatakan positif Covid-19. “Kontak dari Kepala Disdik, ada satu. Kami lanjut tracing dari dia,” jelas Ahyani.
Kendati sudah muncul klaster perkantoran, ia menyebut belum ada rencana mengembalikan kebijakan bekerja dari rumah, maupun membaginya menjadi kelompok bergantian.
Menurut dia, jarak antara satu meja pegawai dengan pegawai lainnya sudah memenuhi standar batas jarak fisik. Hanya, ia mengingatkan para aparatur sipil negara (ASN) untuk memperketat protokol kesehatan dan tetap memakai masker meski berada dalam ruangan.
“Saat berkegiatan harus menjaga diri dan korps [pegawai], karena pengaruhnya ke pelayanan. Jangan sampai terdampak karena ada yang kena Covid-19. Prinsipnya jangan tertular, jangan menularkan,” kata dia.
Naik Turun
Di sisi lain, lonjakan kasus selama pada 12-26 Juli membuat Solo bergelar zona merah atau risiko tinggi. Kemudian, penurunan kasus pada medio 19 Juli-2 Agustus membikin status risiko turun lagi ke zona oranye atau sedang. Tambahan pada Minggu, hanya seorang sehingga kumulatif kasusnya menjadi 309 orang.
Perinciannya, 9 dirawat inap, 37 karantina mandiri, pulang/sembuh 252 orang, dan 11 meninggal dunia. Pasien ke-11 yang meninggal dunia akibat Covid-19 di Solo berasal dari Kelurahan Sudiroprajan. Padahal, dia baru tercatat sebagai kasus konfirmasi pada Jumat (8/8) dan sebelumnya berstatus suspek.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan tambahan satu kasus baru berasal dari Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Dia adalah perempuan berumur 61 tahun yang diduga tertular dari keponakannya yang berasal dari Surabaya.
“Dia mampir sebentar ke rumah bude [bibi]-nya itu. Lalu pas dia balik ke Surabaya ternyata positif Covid-19. Bibinya termasuk tracing kontak. Saat ini dirawat di rumah sakit karena memiliki komorbid [penyakit penyerta],” jelas Ning, sapaan akrabnya.
Catatan kumulatif pasien suspek menyentuh 1.041 orang. Penjabarannya, 981 sembuh/discard, 13 dirawat inap (suspek aktif), 2 isolasi mandiri, dan 45 suspek meninggal dunia.
Sementara itu, Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Klaten mengumumkan ada lima pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sembuh dan empat orang terkonfirmasi positif Covid-19, Minggu.
Kelima pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh masing-masing berinisial RMR (laki-laki), 12 tahun dari Kecamatan Bayat, NM (perempuan), 45 tahun dari Kecamatan Prambanan, G (laki-laki), 63 tahun dan SH (laki-laki), 37 tahun dari Kecamatan Trucuk, dan dari Kecamatan Wonosari berinisial AC (laki-laki), 31 tahun.
Dari kelima pasien sembuh, empat pasien sebelumnya menjalani perawatan di RSD Bagas Waras Klaten. Keempat pasien tersebut yakni RMR yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 sejak 5 Juli, pasien NM dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19 sejak 18 Juli.
Sementara, pasien berinisial G dan SH dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19 sejak 29 Juli. Sedangkan pasien AC sebelumnya menjalani perawatan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri dan dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 sejak 31 Juli.
“Hasil evaluasi pengobatan dengan pemeriksaan spesimen dari kelima pasien tersebut menunjukkan negatif, sehingga pasien dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Meskipun sudah diperbolehkan pulang, pasien diminta untuk melakukan isolasi mandiri minimal tujuh hari,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo, berdasarkan rilis yang diterima Koran Solo, Minggu.
Sementara untuk penambahan pasien positif Covid-19 baru masing-masing berasal dari Kecamatan Delanggu berinisial MSR (laki-laki), 35 tahun, dari Kecamatan Klaten Utara berinisal PAM (perempuan), 34 tahun, dari Kecamatan Wonosari berinisial SNS (perempuan), 74 tahun dan ML (perempuan), 62 tahun.
Pasien MSR diketahui bekerja sebagai karyawan di Solo. Diduga, pasien tersebut tertular saat bekerja yang diketahui rekan satu kantor ada yang terkonfirmasi positif Covid-19. Saat ini pasien sedang menjalani isolasi mandiri di bawah pengawasan tim medis.(Mariyana Ricky P.D./ Taufiq Sidik Prakoso)