Rela Nguli demi Belajar Daring

Arif Fajar Setiadi

GROBOGAN–Demi bisa membeli telepon pintar atau smartphone untuk belajar dalam jaringan (daring), Catur Feriyanto, seorang siswa kelas VII MTS Ya Robi di Kabupaten Grobogan menjadi kuli bangunan.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 4
Kondisi perekonomian orang tuanya tidak memungkinkan bagi bocah asal Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan tersebut untuk mengikuti proses belajar jarak jauh karena tidak punya telepon pintar.
Akibat tak memiliki telepon pintar, selama ini Catur sering terlambat mengumpulkan tugas sekolah. Karena dia baru bisa menggerjakan tugas sekolah setelah dipinjami handphone (HP) kakaknya seusai pulang kerja.
Seperti kuli bangunan lain, Catur kebagian tugas membuat adukan semen dan pasir serta mengangkat genting. Dia bekerja jadi kuli bangunan kepada Marno yang kebetulan sedang membangun rumah.
“Tidak apa-apa [kerja jadi kuli bangunan] agar bisa beli HP buat belajar,” ujarnya kepada awak media sambil menghapus keringatnya, Sabtu (8/8) sore.
Marno pemilik proyek mengaku tidak ingin mempekerjakan Catur mengingat masih di bawah umur. Namun karena semangat bocah tersebut membuatnya mengizinkan Catur bekerja. Hanya, Marno tidak memaksakan pekerjaan berat buat Catur. Ini mengingat usianya yang masih di bawah umur.
“Katanya tidak punya HP buat belajar online, jadi saya izinkan. Hanya saja tidak haru kerja keras. Cuma ngaduk dan mengangkat genting. Sehari saya kasih Rp50.000,” ujar Marno.
Kini Catur boleh senang dan tenang untuk belajar secara online. Mulai Senin (10/8/2020) Catur juga tidak perlu lagi bekerja sebagai kuli agar bisa punya HP. Karena ada seorang pejabat Pemkab Grobogan yang membelikannya HP dengan kuota interetnya.
Kepala Dinas Pendidikan Amin Hidayat diminta Bupati Grobogan Sri Sumarni dan Sekda Moh Sumarsono untuk menemui Catur. Ini setelah viral adanya siswa MTS bekerja sebagai kuli demi bisa beli HP untuk belajar daring. Dia mendatangi tempat Catur bekerja dan mengajaknya membeli smartphone lengkap dengan kuota internet.
“Harapannya tidak bekerja yang melampaui sebagai kapasitas sebagai seorang anak. Jadi dia tidak akan bekerja lagi sebagai kuli namun fokus belajar,” jelas Amin Hidayat.