Wali Kota Larang Sekolah Dibuka

Mariyana Ricky P.D.

SOLO—Pemerintah Kota (Pem­kot) Solo memastikan tak akan membuka sekolah meski Kemen­terian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperbolehkan sekolah melakukan kegiatan belajar-mengajar secara ta­tap muka.
Ken­dati begitu, atu­ran tersebut berlaku un­tuk daerah zo­na kuning, atau risiko ren­dah virus co­rona. Di sam­ping itu, pe­lak­sanaannya dilakukan bertahap.
Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan wilayahnya termasuk zona oranye dan sempat naik tingkat jadi zona merah pada pekan lalu.
Lonjakan kasus selama dua pekan terakhir pada 12-26 Juli membuat Solo bergelar zona merah atau risiko tinggi. Kemudian, penurunan kasus pada medio 19 Juli-2 Agustus membuat status risiko turun lagi ke zona oranye atau sedang.

Wali Kota me­nyebut pembelajaran tatap muka berdasarkan SKB 4 Menteri ten­tang panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi itu masih mem­pertimbangkan masukan wali murid atau orang tua siswa dan kepala daerah. Sehingga, sah-sah saja apabila kepala daerah menunda pembelajaran tatap muka.
“Izin diberikan untuk zona hijau dan kuning. Namun, tetap minta pertimbangan wali murid dan kepala daerah, kan? Kalau saya maunya belajar tatap muka, ya, terus. Enggak kemudian sudah dibuka, lalu tutup lagi karena ada paparan virus SARS CoV-2. Terus berhentinya lama karena virus. Enggak pas. Pertimbangan saya begitu,” kata dia, kepada wartawan, Minggu (9/7).
Ia menyampaikan aturan tersebut berlaku untuk PAUD, TK, SD, dan SMP di seluruh Solo.
Di sisi lain, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Solo mencatat kasus pertama pada kalangan remaja berumur 15 tahun asal Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres pada Jumat (7/8) lalu. Dia diduga tertular di rumah karena menjadi kontak tracing dari pasien dewasa. Sedangkan kasus pada anak di bawah lima tahun sedikitnya tercatat ada enam kasus.