Ada Sekolah Mulai KBM Tatap Muka

Indah Septiyaning W.

SUKOHARJO—Sebuah sekolah di Kabupaten Sukoharjo menerapkan pembelajaran tatap muka secara terbatas meski kabupaten tersebut masih berada di zona oranye Covid-19.
Sekolah tersebut yakni SD Negeri 3 Mandan, Sukoharjo. Sejumlah siswa yang ditemui Koran Solo di sekolah seusai mengikuti pembelajaran tatap muka pada Rabu (12/8), menuturkan sekolah tatap muka mulai berjalan sejak awal Agustus.
Mereka mengenakan pakaian bebas dan membawa tas berisi buku pembelajaran saat ke sekolah. ”Sudah dari awal bulan ini belajar di sekolah. Jumlah siswanya hanya 15 orang,” kata siswa kelas V, Amira A. Zahra.
Zahra mengaku senang bisa kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman yang lain, meski hanya sepekan sekali. Pembelajaran dimulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00 WIB. Di mana diberlakukan jarak satu meter lebih antara siswa satu dengan lainnya.

”Satu meja untuk satu orang saja,” katanya.
Senada disampaikan siswa lainnya, Ade Kurnia Mustika Ratri, yang mengatakan selama pembelajaran menggunakan masker. Ada pula siswa yang menggunakan face shield. ”Lebih senang belajar seperti ini bisa jelas dari pada hanya dikasih tugas saja,” katanya.
Salah satu wali murid kelas V, Linda Hastuti yang saat itu menjemput anaknya di SD N Mandan 3 menuturkan pembelajaran tatap muka terbatas sudah berjalan sejak awal bulan ini. Dia bersama orang tua lainnya sepakat ada sekolah tatap muka terbatas karena dinilai lebih efektif daripada pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan sistem daring.
”Saya bekerja sebagai penjahit. Kalau tiap hari disuruh memantau grup Whatsapp (WA) sekolah sampai pusing. Apalagi pelajarannya kan beda dengan zaman saya dulu. Jadi mending pilih tatap muka terbatas,” katanya.
Namun saat dikonfirmasi mengenai pembelajaran tatap muka secara terbatas, salah satu guru di SD N Mandan 3, Khusnul Khotimah membantahnya. Dia mengatakan belum ada pembelajaran tatap muka sebagaimana disampaikan para siswa dan wali murid tersebut.  ”Belum berani sekolah tatap muka. Masih sistem belajar online,” jawabnya.
Saat ditanya lebih lanjut tentang pernyataan sejumlah siswa yang ditemui seusai mengikuti pembelajaran tatap muka, dia tetap menepisnya. Menurutnya para siswa tersebut datang ke sekolah hanya untuk mengumpulkan tugas saja.
”Itu tidak sekolah. Mereka hanya mengumpulkan tugas sekolah saja. Tugas dari guru yang dikumpulkan setiap Minggu sekali,” katanya.
Pembelajaran jarak jauh memang menyisakan banyak masalah. Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menilai tak ada jaminan siswa bisa melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau PJJ secara efektif. Pasalnya, banyak masalah mengadang.
Saat berbincang dengan wartawan di Sekretariat Daerah belum lama ini, dia mengatakan hingga sekarang belum ada kajian khusus untuk mengetahui berapa banyak siswa yang benar-benar menjalankan PJJ, berapa siswa yang belum memiliki telepon seluler atau perangkat lain yang mendukung PJJ, seberapa besar peran orang tua dalam membimbing atau mendampingi siswa selama PJJ, dan lainnya. Terlebih, jangkauan Internet di Indonesia belum merata. Banyak daerah pada masa moderen ini belum terjangkau Internet, termasuk Wonogiri.
“Belum lagi masalah yang dihadapi masing-masing individu siswa dan keluarganya. Ada siswa yang baru bisa mengerjakan tugas setelah orang tua pulang bekerja, karena yang punya HP hanya orang tua. Ada juga orang tua yang kesulitan membeli kuota Internet untuk anaknya, dan masalah lainnya,” kata lelaki yang akrab disapa Jekek itu.
Dia sepakat apabila pembelajaran dilaksanakan dengan metode kombinasi antara PJJ dan tatap muka terbatas dengan sistem sif. Pengaturannya seperti siswa dalam jumlah tertentu masuk pagi dan siang. Sementara siswa lainnya belajar di rumah. Sistem itu diterapkan secara bergiliran.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Disdikbud Wonogiri, Yuli Bangun Nursanti, menilai pelaksanaan PJJ baru berjalan lebih kurang sebulan sehingga belum valid apabila dievaluasi.
Menurut dia, siswa yang memiliki sarana prasarana standar mayoritas dapat mengikuti PJJ dengan baik. Namun, dia tak menjelaskan persentase siswa yang memiliki sarana prasana standar dan yang belum memiliki.
Mantan Kepala SMAN 1 Wonogiri itu menyebut saat ini sudah ada peningkatan penguasaan teknologi. “Siswa semakin melek teknologi,” kata perempuan yang akrab disapa Bangun itu saat dihubungi.
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau K3S SD Wonogiri, Mahmud Yunus, menginformasikan siswa sudah sangat rindu belajar tatap muka. Terlebih siswa baru kelas I. Tidak menutup kemungkinan banyak siswa baru yang sama sekali belum pernah ke sekolah. Pasalnya, pendaftaran penerimaan peserta didik baru atau PPDB diurus orang tua.
Menurut Kepala SDN 1 Wonogiri itu siswa baru sangat perlu mengenal lingkungan sekolah baru mereka agar bisa menyesuaikan diri. Namun, lantaran harus PJJ sehingga hal tersebut belum dapat dilaksanakan.
“Dalam PJJ ini siswa hanya mendapat pembelajaran akademis. Mereka tak mendapat pendidikan karakter. Padahal, harusnya dua aspek ini seimbang,” kata Mahmud. (Rudi Hartono)