RS di Jakarta PENUH, PASIEN COVID DITOLAK. Banyak Warga Abai Protokol Kesehatan

SOLO—Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo menunjukkan perilaku masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat masih kurang.

Akhmad Ludiyanto
redaksi@koransolo.co

Kepala BPS Solo, Totok Tavirijanto, menjelaskan BPS Kota Solo membuat Profil Masyarakat Kota Solo di Era New Normal dengan melakukan survei kepada 609 responden dengan metode non probability sampling, dua pekan pertama Juli 2020.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengkaji Instruksi Presiden (Inpres) No. 6/2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan BPS Kota Solo tersebut, lima dari 10 orang tidak pernah atau jarang sekali mencuci tangan selama 20 detik, enam dari 10 responden tidak pernah/jarang sekali menggunakan hand sanitizer, dan hanya 3 dari 10 responden sering/selalu menggunakan masker terutama ketika sedang berada di luar rumah.
“Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan kurang. Kami telah melaporkan kepada Wali Kota Solo. Kami menyarankan tingkat kepatuhan masyarakat perlu didorong lagi. Kalau tetap seperti ini Covid-19 kapan selesainya,” katanya kepada Koran Solo, Rabu (12/8).
Dia menjelaskan, BPS Kota Solo mengambil peran dalam menyikapi pandemi Covid-19 dengan memproduksi data statistik. Analisis hasil survei untuk mendukung upaya percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Kota Solo.
Sementara itu, seorang Pengawas SMP di Solo berinisial J terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini menjalani isolasi mandiri diri di rumahnya.
Saat dihubungi Koran Solo, Rabu (12/8), pengawas tersebut mengatakan dirinya saat ini dalam kondisi sehat. “Alhamdulilah, saat ini saya sehat dan memang sejak awal saya juga sehat. Jadi meskipun saya terkonfirmasi positif [Covid-19] saya merasa tidak punya gejala,” ujar J yang tinggal di wilayah Kecamatan Banjarsari, Solo ini.
J sudah menjalani isolasi mandiri tersebut sejak mendapat informasi dirinya positif Covid-19, Sabtu (8/8).

Sesuai saran Dinas Kesehatan (Disdik) Solo, dia harus mengisolasi diri dalam waktu sepuluh hari.
J menceritakan, sebelumnya ia menjalani uji swab di RS Bung Karno Solo bersamaan waktu dengan pengawas dan pejabat lain di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Solo pada 5 dan 6 Agustus. Uji swab itu terkait Kepala Disdik Solo Etty Retnowati yang sebelumnya terkonfirmasi positif Covid-19.
Saat mendapatkan kabar dia positif Covid-19, J mengaku sangat terkejut dan sempat down. Namun J menyadari bahwa ia harus segera menguatkan diri dan harus optimistis menghadapi Covid-19.
Saat ini dia tinggal sendiri di salah satu bagian rumahnya, tanpa melakukan kontak fisik dengan anggota keluarganya. “Kebetulan rumah saya ada dua, berdampingan. Nah, salah satunya ini sekarang saya tinggali sendirian karena memang tidak boleh bergabung dengan yang lain. Saya disuplai makan istri tiga kali sehari, wadahnya dicantolkan di pagar lalu saya ambil. Peralatan makan dan baju saya cuci sendiri tidak digabung yang lain,” ujar pengawas SMP yang membawahi tujuh sekolah ini.
Untuk mengisi waktu, J mengatakan banyak menyibukkan diri dengan bersih-bersih, merawat tanaman, dan merawat burung peliharaan. Selain itu, dia juga mengaku lebih banyak waktu untuk berolah raga pagi dan sore.
“Ibadah juga terasa lebih nyaman dan lebih sering. Misal saat berjemur bisa sambil baca alquran. Dukungan keluarga dan kolega juga sangat penting untuk membantu optimisme. Pokoknya digawe bombong [ceria] aja. Inshyaallah asal kita optimistis kita akan bisa melewatinya,” imbuh J.
Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 Solo, Ahyani, menjelaskan Pemkot Solo selalu mengimbau masyarakat selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan. Pemkot Solo sedang mengkaji Instruksi Presiden (Inpres) No. 6/2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. “Nanti melalui Inpres sebagai dasar. Masih dibahas,” katanya melalui sambungan telepon.
Sementara itu, kasus Covid-19 di DKI Jakarta terus melonjak. Sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah tersebut mulai kewalahan merawat jumlah pasien yang terus meningkat dua pekan terakhir.
Ini karena kapasitas tempat tidur yang disediakan RS sudah penuh untuk menampung antrean pasien. Dokter spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan, menuturkan pihaknya terpaksa menolak puluhan pasien rujukan dari sejumlah rumah sakit lantaran tempat tidur yang dipersiapkan sudah penuh terisi.
“Kami lagi full ini dan banyak rujukan yang kita tolak karena enggak ada tempat. Ada beberapa hampir 50 sampai 70 pasien antreannya,” kata Erlina melalui sambungan telepon kepada Bisnis Koran Solo, Rabu (12/8).
Ihwal antrean itu, Erlina menuturkan rumah sakit mesti menunggu pasien Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh untuk dapat memberikan tempat tidur untuk pasien baru. Dengan demikian, pasien rujukan yang mengantre bisa mendapat tempat tidur tersebut. “Paling kita bisa masuk beberapa [pasien], masih menunggu pasien pulang sehingga pasien baru bisa masuk esok harinya,” tuturnya.
Cerita yang sama berlaku bagi Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso yang mengalami penuhnya tempat tidur. Sama, kondisi itu merupakan imbas melonjaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.
“Laporan pagi ini sudah penuh, kalau nanti penuh biasanya kita antrekan dulu di IGD kalau rumah sakit yang lain tidak bisa menerima,” kata Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril, melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Rabu.
Menurut Syahril, pihaknya telah menyiapkan 50 tempat tidur untuk ruang rawat inap dan 10 tempat tidur untuk ruang IGD. “Iya sudah melampaui 50 persen perlu disiagakan untuk yang dirawat dan diisolasi, nanti tentu pasien yang dirawat akan terus berputar,” kata dia.
Perusahaan-perusahaan itu ditutup setelah inspeksi penerapan protokol kesehatan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap 3.349 perusahaan.
Dari Sragen, tiga orang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19 di Sragen meninggal dunia sebelum hasil uji swab keluar. Hasil swab test mereka baru diketahui Rabu (12/8) dan hasilnya positif terkonfirmasi positif.
Ketiga warga tersebut terdiri atas laki-laki, S, 50, warga Sidoharjo, Sragen; laki-laki KWS, 85, warga Sambirejo; dan laki-laki S, 50, warga Gemolong.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Hargiyanto, saat dihubungi, Rabu sore, menjelaskan S yang berasal dari Patihan, Sidoharjo, itu merupakan pelaku perjalanan (PP) dari Jakarta dan pulang pada 27 Juli lalu. Dia melanjutkan S pernah kontrol kesehatan tiga kali di Jakarta. Pada 1 Agustus lalu, kata Hargiyanto, S masuk ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen dengan keluhan lemas.
Dia mengatakan S itu memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dan hipertensi. Setelah menjalani perawatan, ujar dia, S meninggal dunia pada 8 Agustus lalu. (Tri Rahayu/ Ponco Suseno/Wahyu Prakoso/Bisnis/Antara)