E-Commerce, Peluang Baru Saat Ekonomi Perlahan Merosot

Masa pandemi memberikan dampak yang signifikan di sektor ekonomi. Kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi membuat semua orang harus mempersiapkan diri untuk menghindari kemungkinan terburuk, termasuk para pebisnis dan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Meskipun begitu, ada titik cerah di balik situasi ekonomi yang perlahan merosot. Perkembangan teknologi melahirkan peluang baru khususnya di bidang e-commerce.
Tak sedikit pelaku usaha yang bertransformasi ke ranah digital demi keberlangsungan usahanya. Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan selama masa pandemi, transaksi e-commerce meningkat sebesar 26%.
Tidak hanya itu, peningkatan transaksi harian juga meningkat hingga 4,8 juta dan persentase konsumen baru hingga 51% selama masa pandemi.
Pertumbuhan e-commerce yang meningkat pesat ini disebabkan perubahan perilaku konsumen yang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja online terutama di masa pembatasan sosial berskala besar.
Selain itu, peningkatan ini juga didorong oleh pelaku UMKM yang berlomba-lomba untuk beralih online dengan bergabung di marketplace atau membangun toko online-nya sendiri.
Perubahan ini dibuktikan dengan data survei yang dikutip dari Sea Insights menemukan bahwa 45% pelaku usaha bisnis lebih aktif berjualan di e-commerce pada saat pandemi.
Melihat dari data tersebut, perusahaan penyedia layanan hosting Exabytes Indonesia juga menyatakan peningkatan jumlah pelanggan e-commerce pada tujuh bulan pertama 2020 sepanjang Januari hingga Juli sebesar 38,3% dibandingkan 2019.
Hal ini menunjukkan semakin banyak pelaku bisnis yang mulai bergerak untuk go digital dengan membangun platform online sendiri untuk bisnis mereka.
Indra Hartawan, Country Manager Exabytes Indonesia menuturkan terdapat kenaikan pelanggan yang mendaftarkan website-nya untuk keperluan berwirausaha. Hal ini dilihat dari kenaikan jumlah pelanggan yang berbentuk PT atau CV dengan rata-rata sebesar 38,3% dibandingkan tahun lalu.
“Terutama pada Februari naik 120% dibandingkan Februari 2019 lalu. Hal ini membuktikan bahwa banyak orang atau perbisnis yang aware untuk membangun bisnis online dibandingkan tahun lalu,” ujarnya dalam webinar eCommerceFest : Get Ready For The New eCommerce Normal.
Sementara itu, Haryadi Syarif, Chief Operation Officer of Power Commerce Asia mengatakan saat ini para pelaku usaha harus mengikuti perkembangan zaman termasuk dalam berbisnis.
“Toko sudah ada dari dulu hingga sekarang. Toko selalu ada tetapi bagaimana toko tersebut bisa beradaptasi dengan teknologi agar tidak ketinggalan zaman,” ucapnya. (JIBI/Bisnis.com)