SEPASANG PENGANTIN BARU TERINFEKSI CORONA CFR Solo Lewati Nasional

SOLO—Jumlah pasien meninggal akibat Covid di Solo mencapai 17 orang. Angka ini melewati persentase kematian Covid secara nasional.

Mariyana Ricky P.D.
redaksi@koransolo.co

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo mencatat dua kematian sekaligus pada Minggu (30/8). Dari kumulatif kematian 15 orang pada Sabtu, bertambah menjadi 17 orang pada Minggu.
“Seluruhnya pria, satunya umur 67 tahun asal Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon memiliki comorbid penyakit jantung, kemudian usia 48 tahun asal Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan punya diabetes melitus (DM). Mereka adalah pasien suspek yang naik kelas jadi kasus konfirmasi, kemudian meninggal dunia. Jadi, sebelum meninggal dunia, hasil uji swab-nya dinyatakan positif Covid-19 dan sempat dirawat inap beberapa hari,” ungkap Ketua Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan dua kematian tersebut menambah persentase tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) di Solo menjadi 4,5%. Angka tersebut lebih tinggi dari CFR nasional yang berada di angka 4,3% dan CFR dunia di 3,4%.
Kendati begitu, positivity rate Solo masih berada di bawah 5% sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data per 26 Agustus, jumlah spesimen yang diambil mencapai 8.825, sedangkan angka positifnya 376. Sehingga persentasenya sekitar 4,2%.
“Jawa Tengah tidak sedang baik-baik saja. Jawa Tengah Krisis Pandemi,” begitu bunyi unggahan pengelola akun Instagram @pandemictalks, Sabtu.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Setidaknya itu tercermin dari perkembangan data epidemiologi di salah satu provinsi terpadat di Indonesia ini. Jumlah kasus di Jateng selalu konsisten di bawah Jakarta dan Jawa Timur, tetapi indikator-indikator pengendalian pandemi juga masih konsisten di bawah standar.
Hingga Sabtu (29/8), Jateng masih berada di urutan ketiga penyumbang akumulasi kasus positif Covid-19 terbanyak di Indonesia.
Data pemerintah pusat menyebutkan Jateng memiliki 13.647 kasus (versi provinsi mencapai 16.356 kasus), di bawah DKI Jakarta dengan 37.943 kasus dan Jawa Timur dengan 32.754 kasus.
Sekilas, data-data tersebut memperlihatkan kondisi Jateng masih lebih baik daripada dua daerah lainnya di Jawa, yaitu Jakarta dan Jawa Timur. Apalagi jika dilihat dari persentase kasus positif terhadap jumlah penduduk yang hanya 8,1%.
Belum lagi ada tambahan kesembuhan sebanyak 90 kasus sehingga total terdapat 8.791 kasus sembuh versi nasional atau 12.040 kasus versi Pemprov Jateng.
Masalah baru terlihat jika data-data tersebut dianalisis. Sejumlah parameter di Jateng masih lebih buruk daripada angka nasional atau standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Parameter tersebut di antaranya tingkat kematian atau case fatality rate (CFR), perbandingan kesembuhan dan kematian atau recovered to deaths (RTD), rasio kasus positif dengan jumlah tes atau positivity rate, serta jumlah tes swab.
Data yang dihimpun Kawal Covid-19 dari Pemprov Jateng dan data tes PCR Kemenkes menunjukkan ada masalah dalam pengendalian wabah.
Pertama, tingkat kematian (CFR) di Jateng pada 26 Agustus mencapai 9,30% dan menjadi terburuk di tingkat nasional. Angka ini diperoleh dari perbandingan jumlah kasus kematian dan total kasus positif.
Sedangkan pada Sabtu (29/8), CFR Jateng sedikit turun menjadi 7,10%. Namun itu masih termasuk yang tertinggi dengan di Indonesia, tepatnya nomor dua setelah Bengkulu (7,50%). Angka CFR Jateng juga jauh di atas CFR nasional yang mencapai 4,30%.
Kedua, perbandingan kesembuhan dan kematian atau recovered to deaths (RTD). RTD adalah rasio jumlah kesembuhan dari setiap kasus kematian. Semakin tinggi nilai RTD maka semakin bagus, dan sebaliknya semakin kecil nilainya berarti semakin buruk.
Pada 26 Agustus, RTD Jateng mencapai 7,2 yang berarti setiap tujuh kasus kesembuhan diiringi satu kasus kematian. Angka ini jauh lebih rendah daripada RTD nasional yang mencapai 16,5.
Sementara itu, kasus positif Covid di Klaten kembali melonjak, Minggu. Dalam sehari, ada penambahan 16 orang dinyatakan terpapar virus corona. Tambahan 16 kasus berasal dari Karanganom, Ngawen, Wonosari, Karangdowo, Klaten Tengah, Klaten Utara, Jatinom, Polanharjo, dan Delanggu.
Penambahan pasien terkonfirmasi positif pada Minggu paling banyak berasal dari Kecamatan Delanggu sebanyak lima orang. Kemudian dari Kecamatan Klaten Utara, Jatinom, dan Polanharjo masing-masing dua orang. Penambahan pasien positif baru dari Kecamatan Karanganom, Ngawen, Wonosari, Karangdowo, dan Klaten Tengah masing-masing satu orang.
“Sebanyak 15 pasien terkonfirmasi positif Covid-19 menjalani isolasi mandiri di bawah pengawasan tim medis dan satu pasien lain menjalani perawatan di RSU Islam Klaten,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Klaten, cahyono Widodo, Minggu.
Sementara itu, klaster baru hajatan muncul di Kebakkramat, Karanganyar. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk ketidakpatuhan warga mengikuti aturan yang dibuat oleh pemerintah. Pasalnya banyak terjadi ketidaksesuaian antara izin dengan penerapan hajatan di tengah pandemi Covid-19.
Kepala Satpol PP Karanganyar, Yophy Eko Jatiwibowo, mengakui kesadaran masyarakat dalam menyelenggarakan hajatan di tengah kondisi saat ini sangat rendah. Pasalnya, berdasarkan pantauan dari personel di lapangan, banyak sekali ditemukan hajatan yang tidak sesuai dengan izin penyelenggaraan. Sehingga, pada akhirnya muncul klaster baru pada acara hajatan.
“Sebenarnya aturan dari pemerintah jelas saat kenormalan baru bagaimana penerapan saat penyelenggaraan hajatan. Tapi, kebanyakan saat hari pelaksanaan itu berbeda jauh dengan saat mereka meminta izin. Awalnya ada tempat cuci tangan dan kursi ditata renggang. Tapi saat hari H, banyak tamu yang datang tidak sesuai aturan, kursi jadi dempet-dempet, tamu tidak cuci tangan, tidak pakai masker, dan lain-lain. Itu bisa jadi penyebab utama penularannya,” jelas dia, Minggu.
Sebelumnya, Plt. Kepala Dinkes Karanganyar, Purwati, mewakili Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karanganyar, Juliyatmono, menjelaskan ada sepasang pengantin baru yang dinyatakan positif Covid-19 Sabtu (29/8).
Pihaknya saat ini tengah melacak 16 orang yang ikut di acara yang diselenggarakan di tempat mempelai perempuan di Kebakkramat, Karanganyar.
“Mempelai perempuannya itu dapat suami orang Jakarta dan saat di-swab keduanya positif Covid-19. Acaranya diadakan di Kebakkramat. Kami sedang melacaknya saat ini,” ungkap dia. (Candra Mantovani/ Taufiq Sidik Prakoso/ Adib Muttaqin Asfar)