JUMAPOLO SOSIALISASI PAKAI AMBULANS Pasien Asal Sondakan Meninggal Dunia

Mariyana Ricky P.D.

SOLO—Seorang perempuan lansia asal Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, menjadi pasien ke-23 yang meninggal dunia akibat Covid-19 di Kota Bengawan. Lansia berumur 73 tahun itu meninggal dunia pada Jumat (11/9) saat masih berstatus suspek. Ketua Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, mengatakan pasien tersebut memiliki komorbid atau penyakit penyerta yang memperparah kondisi.
“Jadi totalnya ada 23 pasien yang meninggal dunia. Cukup tinggi,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Sabtu (12/9). Selain tambahan pasien meninggal dunia, pihaknya juga mencatat tujuh tambahan kasus baru yang berasal dari pasien suspek yang naik kelas sebanyak 2 orang dari Kelurahan Mojosongo dan Pajang. Selain itu, disumbang dari 5 warga yang melakukan uji swab mandiri.
Perinciannya, 1 dari Kelurahan Mojo­songo, kemudian masing-masing seorang dari Kelurahan Jebres, Sondakan dan Pajang. Sehingga, kumulatif kasus Covid-19 di Kota Bengawan menjadi 528.
Bersambung ke Hal. 2 Kol. 1
Perinciannya, 378 pulang/sembuh, 95 isolasi mandiri, 32 rawat inap, dan 23 meninggal dunia. Sehingga, jumlah kasus aktif tersisa 121 orang atau turun 8 kasus dari hari sebelumnya. Sedangkan catatan kumulatif pasien suspek menyentuh 1.131 orang, dengan rincian 1.057 discard, 19 dirawat inap (suspek aktif), dan 53 suspek meninggal dunia.
Ahyani mengatakan pihaknya bakal terus menggelar operasi gabungan cipta kondisi men­disiplinkan protokol kesehatan Covid-19 atau razia masker. Operasi bakal digelar sewaktu-waktu di lokasi-lokasi yang berbeda. Operasi tersebut me­rupakan tindak lanjut dari Per­aturan Wali Kota Solo No. 24 tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Covid-19. Sosialisasi dilakukan dengan penerapan sanksi sosial berupa membersihkan sungai selama 15 menit.
Lonjakan kasus Covid-19 di Soloraya membuat hampir seluruh bed di bangsal isolasi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi (RSDM) Solo hampir penuh. Dari total 108 ruang yang tersedia, 80-an di antaranya telah diisi oleh pasien probable, suspek, dan konfirmasi Covid-19. Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSDM Solo, Eko Haryati, mengatakan jumlah pasien yang dirujuk ke RSDM dengan gejala mengarah ke Covid-19 terus meningkat beberapa pekan terakhir.
Jika lonjakan terus terjadi, dua bangsal lain bakal disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut. “Saat ini kami menggunakan ruang Melati I dan II, kalau keduanya penuh kami akan membuka ruang Mawar 2 dan 3. Selama ini, ruang Mawar 2 dan 3 digunakan untuk bangsal VIP perawatan umum. Kami siapkan dua ruang itu,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Sabtu (12/9).
Selain RSDM, RSUD Bung Karno (RSBK) juga tercatat hampir penuh. Dari 25 bed isolasi yang tersedia, 24 di antaranya telah digunakan. Bahkan, DKK bersiap menyulap seluruh RS yang berlokasi di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon itu sepenuhnya untuk merawat pasien Covid-19.
Sementara itu Tim Gugus Tugas Wonogiri memakamkan dua jenazah menggunakan prosedur pemakaman pasien Covid-19, dua hari terakhir.
Terbaru tim memakamkan jenazah S, laki-laki 71 tahun warga Desa Semagar, Girimarto, Wonogiri di permakaman desa setempat, Sabtu (12/9). Pemakaman dilaksanakan pukul 13.50 WIB hingga 14.48 WIB. Proses berjalan lancar tanpa ada penolakan warga. Tim pemakaman terdiri atas personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD, Kodim 0728/Wonogiri, Search and Rescue atau SAR, Palang Merah Indonesia atau PMI, dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan atau TKSK Girimarto. Saat proses pemakaman mereka mengenakan pakaian hazmat untuk melindungi diri dari hal tak diinginkan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto, kepada wartawan, Sabtu, menyampaikan S dimakamkan dengan prosedur pemakaman pasien Covid-19. Namun, belum tentu S pasien terkonfirmasi positif Covid-19.
“Sebelumnya S dirawat di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso [Wonogiri],” kata Bambang pada Sabtu.
Sehari sebelumnya, tim memakamkan jenazah seorang perempuan 66 tahun asal Kediri, Jawa Timur, SA, 66, di Permakaman Umum Kedungleri, Desa Saradan, Kecamatan Baturetno. Pemakaman dilaksanakan pukul 08.51 WIB hingga 09.40 WIB. Tim pemakaman terdiri atas personel BPBD, SAR, dan Satgas Jogo Tonggo Saradan. Seperti halnya S, SA sebelumnya dirawat di RSUD Wonogiri. Kendati pemakaman menggunakan prosedur pemakaman pasien Covid-19, tetapi SA belum tentu pasien terkonfirmasi positif. Tim pemakaman menerapkan prosedur tersebut sesuai instruksi.
Di Klaten, sebanyak 20 pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh, Sabtu (12/9). Di sisi lain, sebanyak 20 warga Klaten juga terpapar virus corona dengan satu orang di antaranya meninggal dunia.
”Hasil evaluasi pemeriksaan dari 20 pasien positif Covid-19 tersebut menunjukkan negatif. Sehingga dinyatakan sembuh dan tetap diwajibkan menjalani isolasi mandiri minimal tujuh hari [di rumah masing-masing],” kata Jubir PP Covid-19 Klaten, Cahyono Widodo, kepada Koran Solo, Sabtu (12/9).
Klaster Keluarga
”Jumlah kumulatif pasien terkonfirmasi Covid-19 di Klaten mencapai 498 orang. Sebanyak 211 orang menjalani perawatan di RS/menjalani isolasi mandiri. Sebanyak 269 orang dinyatakan sembuh. Sebanyak 18 orang meninggal dunia,” katanya.
Dua klaster keluarga baru Covid-19 kembali muncul di Sukoharjo. Total ada empat klaster keluarga yang masih aktif dan berpotensi menularkan virus ke orang lain.
Informasi yang dihimpun Koran Solo, Sabtu (12/9), dua klaster keluarga baru di Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo dan Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu. Sumber penularan klaster keluarga berasal dari salah satu anggota keluarga yang terinfeksi virus Covid-19 dan menulari anggota keluarga lainnya. Sebelumnya, dua klaster keluarga muncul pada beberapa waktu lalu yakni klaster Kedungjambal dan Ponowaren di Kecamatan Tawangsari.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan dua klaster keluarga yang baru muncul tak berbeda jauh dengan klaster keluarga sebelumnya. Ada transmisi penularan virus Covid-19 ke anggota keluarga atau kerabat keluarga. ”Ada dua klaster keluarga baru yakni Gayam dan Tiyaran. Anggota keluarga yang terpapar virus Covid-19 tak sengaja menularkan virus ke anggota keluarga lainnya,” kata dia, saat dihubungi Koran Solo, Sabtu.
Bahkan bisa juga tetangga rumah atau warga setempat lainnya ikut tertular saat berinteraksi dengan pasien positif. Transmisi penularan virus Covid-19 terjadi lantaran masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Cara unik dilakukan Forkopimca Jumapolo, Karanganyar. Mobil ambulans dilibatkan dalam konvoi sosialisasi penerapan protokol kesehatan Covid-19.
Selain tiga mobil ambulance, sosialisasi tersebut melibatkan sukarelawan militan, MDMC Jumapolo, Satpol PP Kecamatan Jumapolo, Puskesmas Jumapolo, dan lain-lain.
Camat Jumapolo, Ngadimin, menyampaikan alasan menggunakan mobil ambulans untuk sosialisasi ke 12 desa di Kecamatan Jumapolo. Kegiatan dilaksanakan pada Jumat (11/9).
”Kami memang mau menarik perhatian masyarakat. Kalau sosialisasi lewat tulisan dan sidak masker ke kampung-kampung kok rasanya masyarakat kurang perhatian. Kalau dibawakan ambulans itu tertarik. ’Iki apa kok ana ambulans iring-iringan. Apa ada pasien yang dijemput karena Covid-19?’ Rata-rata merespons begitu. Lalu perhatian dan mendengarkan,” kata Ngadimin saat berbincang dengan Koran Solo, Sabtu (12/9).
Ngadimin menyebut ide sosialisasi menggunakan ambulance muncul dari Kepala Puskesmas Jumapolo, Sulistyo Wibowo. Ambulans milik puskesmas, salah satu klinik di Jumapolo, dan Baznas Kabupaten Karanganyar. Di sisi lain, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kecamatan Jumapolo mencapai 26 kasus. Perinciannya dua orang masih menjalani perawatan dan 24 orang sudah dinyatakan sembuh.
”Di Jumapolo kan masih ada yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kejadian di sini itu karena warga yang merantau di Jabodetabek dan sekitarnya pulang. Ada juga karena warga jagong ke Jakarta beberapa waktu lalu. Masyarakat kok menganggap ini sudah normal. Padahal tidak begitu. Maka ini kami giatkan sosialisasi,” ujar Ngadimin.
Forkopimca Jumapolo ber­koordinasi dengan gugus tugas di tingkat desa hingga RT untuk memantau mobilitas warga, terutama warga yang memiliki kerabat maupun keluarga sedang merantau. ”Intinya jangan bepergian dulu. Banyak penduduk kami kan merantau. Ya sementara ini bisanya kami imbau. Kami tidak bisa menutup total kayak dulu. Kami libatkan Ketua RT/RW untuk mengingatkan warga jangan ke Jakarta dan yang di sana jangan pulang dulu. Kalau enggak penting banget lebih baik jangan.” (Bony Eko W./Ponco Suseno/Rudi Hartono/Sri Sumi Handayani)