4 WARGA KARANGANYAR MENINGGAL KARENA COVID  Satpol PP Bubarkan Hajatan

KARANGANYAR—Tindakan tegas dilakukan Pemkab Karanganyar. Sebuah hajatan warga yang mendatangkan kerumunan di Lalung dibubarkan aparat Satpol PP dibantu polisi, Sabtu (12/9) lalu.

Candra Mantovani
redaksi@koransolo.co

Di sisi lain, empat pasien positif Covid di Karanganyar menambah panjang daftar kematian akibat terinfeksi corona. Jenazah empat pasien tersebut dimakamkan dengan protokol Covid-19.
Ihwal pembubaran hajatan di Debiran, Lalung, Karanganyar diungkapkan Kepala Satpol PP Karanganyar, Yophy Eko Jatiwibowo, kepada Koran Solo, Minggu (13/9). Dia mengatakan personel mendatangi lokasi tersebut berdasarkan laporan warga. Warga yang waswas menurutnya sungkan untuk menegur dan akhirnya meminta bantuan Satpol PP Karanganyar.
“Kami mendatangi lokasi tersebut dan mendapati memang tidak berizin hajatannya. Seusai aturan kenormalan baru, seharusnya ada izinnya. Kami kemudian berkomunikasi dengan penyelenggara acara bernama Gino alias Gareng dan meminta acara tersebut dibubarkan sesegera mungkin dan akhirnya mereka menerima,” jelas dia ketika dihubungi.

Berdasarkan laporan personel di lokasi, hajatan tersebut merupakan syukuran kerja sama atau kekompakan antara warga, orang tua, dan karang taruna Debiran, Lalung.
Yophy menyayangkan hajatan tersebut bisa lolos dari pantauan gugus tugas desa setempat. Pasalnya, seharusnya gugus tugas desa merupakan filter pertama untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi.
“Ada gugus tugas di setiap desa atau kelurahan. Filter pertama itu mereka. Harusnya ini dilakukan oleh gugus tugas desa,” beber dia.
Selain pembubaran hajatan, Regu Srikandi Satpol PP Karanganyar di hari yang sama juga melakukan operasi masker di pusat-pusat kuliner di Karanganyar Kota. Hasilnya, sebanyak 18 pengunjung tidak tertib mengenakan masker. Yang bersangkutan kemudian diedukasi lagi agar lebih tertib.
“Mereka bawa tapi dikalungkan saja di leher. Kami minta agar dipakai terus dan dilepas sekalian saat makan agar masker yang dikenakan tidak kotor,” ucap dia.
Sementara itu, empat pasien Covid-19 asal Karanganyar meninggal dunia. Mereka berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan atau komorbid.
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Karanganyar, Juliyatmono, ketika dihubungi, Minggu, mengatakan keempat pasien meninggal dari Tasikmadu, Jatiyoso, Karanganyar, dan Colomadu. Para pasien sudah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit beberapa hari.
“Benar ada empat orang yang meninggal. Paling muda umur 67 tahun, paling tua sekitar 80 tahun. Mereka juga memiliki penyakit bawaan sesak napas, jantung dan lainnya. Ditambah kondisi fisik yang lemah yang menyebabkan hal tersebut,” beber Bupati Karanganyar tersebut.
Terkait adanya tambahan kasus kematian Covid-19, Juliyatmono, mengimbau warga agar sadar protokol kesehatan. Apabila tidak berhati-hati bisa berpotensi menularkan kepada anggota keluarga yang rawan.
“Tindakannya saat ini lebih ke warga bagaimana bisa sadar dalam memperhatikan keamanan diri sendiri. Kasihan keluarga yang punya penyakit kronis, jangan sampai terulang kejadian ini. Karanganyar zona merah karena saat ini rasio kesembuhan lambat. Jika warga bisa membantu menekan potensi persebaran virus corona bisa membantu agar zona merah Karanganyar bisa turun,” imbuh dia.
Sekretaris Dinkes Karanganyar, Purwati, mengatakan keempat pasien tersebut sudah dimakamkan sesuai protokol Covid-19. Diketahui pasien asal Jatiyoso dan Tasikmadu dirawat di RS dr Oen Jebres sebelum meninggal. Sedangkan pasien asal Karanganyar hasil swab keluar setelah pemakaman.
“Awalnya yang Karanganyar itu suspect saat meninggal tapi setelah hasil swab muncul ternyata positif hasilnya,” beber dia.
Adanya tambahan eempat kasus tersebut membuat total kasus meninggal akibat Covid-19 di Karanganyar per Minggu (13/9) sebanyak 19 orang.
Di Solo, kumulatif kasus Covid-19 di Kota Bengawan menjadi 533 pada Minggu (13/9), atau bertambah 5 orang dari hari sebelumnya. Tambahan tersebut seluruhnya merupakan kasus mandiri, meski terdapat satu kasus yang berasal dari hasil tracing namun induk kasusnya berada di daerah lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan perincian 5 kasus itu, seorang dari hasil tracing, 2 dari uji swab mandiri, dan 2 sisanya pasien suspect yang naik kelas jadi kasus terkonfirmasi.
Ia menyebut hampir setiap hari selalu muncul kasus baru, berbeda saat awal pandemi lalu. “Boleh dibilang kondisinya saat ini mengkhawatirkan. Kasus baru selalu ada setiap hari. Kalau dulu Maret-April kan tidak setiap hari ada kasus. Kalaupun ada, paling satu dua kasus. Nah, beberapa pekan terakhir tidak demikian. Pernah selama hampir sepekan kasus bertambah dua digit. Kami berharap masyarakat semakin waspada. Pandemi Covid-19 belum selesai,” kata dia, dihubungi , Minggu.
Sekretaris Satuan Petugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Solo itu mengatakan tambahan 5 kasus baru itu, perincian domisilinya adalah Kelurahan Kampung Sewu yang menjadi kasus pertama di wilayah itu, kemudian Pasar Kliwon, Purwosari, Manahan, dan Serengan.
Pihaknya juga mencatat tambahan kematian baru pada akhir pekan ini yang berasal dari Manahan. Dia adalah pasien suspek yang meninggal dunia tak lama setelah hasil uji swab-nya keluar. “Jadi, notisnya konfirmasi dengan notis meninggal dunia itu hampir bersamaan,” ucap Ning, sapaan akrabnya.
Sementara jumlah warga Sragen yang terkonfirmasi positif bertambah 42 orang dalam sehari, Minggu. Penambahan itu membuat total jumlah kasus positif Covid-19 tembus 410 orang.
Kepala DKK Sragen, dr. Hargiyanto, menjelaskan dari tambahan 42 warga yang terkonfirmasi positif corona itu, 41 orang di antaranya merupakan hasil tracing contact dari warga yang terkonfirmasi positif corona sebelumnya. Sebagian dari mereka merupakan keluarga dari para tenaga kesehatan (nakes) yang dinyatakan positif. “Satu orang di antaranya kini mondok di RS Paru Salatiga,” jelas dr. Hargiyanto kepada Solopos.com, Minggu petang.
Kabar baiknya, terdapat 41 warga Sragen yang dinyatakan sembuh dari corona per Minggu. Sehari sebelumnya, Sabtu (12/9), jumlah warga yang sembuh dari corona mencapai 222 orang. Dalam sehari, jumlah warga yang sembuh dari corona itu bertambah 41 orang sehingga total ada 263 warga yang sembuh dari corona di Sragen.
Hingga Minggu, masih ada 127 warga yang dirawat baik dengan status asymtomatik atau tanpa gejala maupun symtomatik atau dengan gejala. (Moh. Khodiq Duhri/Mariyana Ricky P.D.)