Kredit BPR Tumbuh 9,29%

SOLO—Penyaluran kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) konvensional maupun pembiayaan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Soloraya meningkat sebesar 9,29%.

Farida Trisnaningtyas
redaksi@koransolo.co

Penyaluran kredit mencapai Rp6,727 triliun atau naik Rp571,814 miliar jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,155 triliun.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Yunianto, mengatakan penyaluran kredit BPR/BPRS meningkat sebesar 9,29% (year on year). Sedangkan jika dibandingkan dengan awal tahun hingga periode berjalan (year to date), penyaluran kredit dan pembiayaan ini naik 5,55%.
“Penyaluran kredit terus tumbuh di tengah adanya pandemi Covid-19, artinya statistik IJK masih tetap terjaga dan tumbuh. Tak hanya penyaluran kredit yang tumbuh, tetapi aset, dan dana pihak ketiga [DPK] juga naik,” ujarnya kepada wartawan, akhir pekan lalu.
Eko menjelaskan aset BPR/BPRS juga naik 9,83% (yoy) atau senilai Rp8,756 triliun. Sedangkan asetnya pada Juli 2019 mencapai Rp7,972 triliun. Selain itu, DPK juga naik 9,59% atau senilai Rp6,474 triliun.
Namun demikian, non performing loan (NPL) juga tinggi, yakni naik 11,85% (yoy) atau mencapai Rp412 miliar. Menurutnya, tingginya NPL ini sebagai dampak adanya pandemi.
Di sisi lain, penyaluran kredit BPR tumbuh 9,04% atau senilai Rp6,231 triliun. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit paling besar untuk modal kerja senilai Rp3,89 triliun, disusul kredit konsumsi Rp1,791 triliun, dan kredit investasi Rp406,157 miliar.
Sedangkan berdasarkan jenis usahanya, paling banyak sektor bukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp2,416 triliun, diikuti kredit mikro Rp2,242 triliun, kredit kecil Rp983,005 miliar, dan menengah Rp589,095 miliar.
Jika berdasarkan  sektor ekonominya, kredit paling banyak diakses perdagangan besar dan eceran senilai Rp1,995 triliun, disusul bukan lapangan usaha lainnya senilai Rp1,627 triliun.
Di samping itu, penyaluran pembiayaan BPR Syariah tumbuh 12,47% atau senilai Rp495,543 miliar. Sedangkan berdasarkan jenis penggunaan penyaluran pembiayaan BPRS didominasi untuk modal kerja (Rp284,74 miliar), diikuti konsumsi (Rp119,433 miliar), dan konsumsi (Rp91,37 miliar).
Sementara berdasarkan jenis usaha, pembiayaan untuk usaha menengah paling dominan, yakni sebesar Rp188,860 miliar. “Sektor pembiayaan BPRS paling banyak untuk real estate [perumahan] [Rp120,594 miliar], diikuti konstruksi [Rp93,616 miliar], dan bukan lapangan usaha lainnya [Rp79,714 triliun],” paparnya.
Sementara itu, BPR Kandimadu Colomadu Karanganyar tumbuh dengan berekspansi pasar membuka kantor cabang baru di Jalan Raya Solo–Sragen, tepatnya di Masaran, Sragen, pada Agustus lalu.
“Kami bersyukur kinerja BPR Kandimadu semester I tahun 2020 mampu tumbuh lebih baik dibandingkan kinerja akhir tahun 2019. Dari sisi aset tumbuh 12%, kredit  tumbuh 21%, dan DPK tumbuh 11 %. Di sisi lain, NPL kami juga terjaga di angka 3 %,” jelas Direktur Utama BPR Kandimadu,  Agustinus Sutejo.